Kebun Raya Banua dan Kepedulian untuk Masa Depan  

 

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Radar Banjarmasin edisi Rabu, 11 Januari 2017. Merupakan pandangan saya mengenai pembangunan Kebun Raya Banua oleh pemerintah daerah yang bermanfaat sebagai pusat penelitian tanaman, sarana konservasi tumbuhan langka, dan sebagai sarana rekreasi serta edukasi kepada masyarakat di Kalimantan Selatan. 

***

kebun-raya-banuaPada tahun 1817 di Kota Buitenzorg, Reindwardt mengusulkan untuk membangun kebun botani kepada Gubernur Jenderal G.A.G.P Baron Van Der Cappellen, dan usul itu pun segera disetujui, akhirnya kebun botani tersebut diberi nama ‘s Lands Plantentuin te Buitenzorg. Sebagai langkah awal pembangunannya ditandai dengan menancapakan ayunan cangkul pertama di Bumi Pajajaran tersebut.

Pembangunan kebun botani dipimpin langsung oleh Reinwardt dan dibantu oleh James Hooper dan W. Kent, seorang kurator kebun botani yang terkenal di Richmond, Inggris. Di sinilah tonggak awal pendirian kebun botani di kawasan Hindia Belanda. Kota Buitenzorg dalam bahasa belanda berarti ‘tak ada yang perlu dikhawatirkan’ menjadi kawasan yang  penuh dengan ketenangan, bebas dari kesumpekan dan tempat untuk beristirahat sejenak dari Kota Batavia yang ramai, sesak dan kacau khas permasalahan kota besar pada saat itu.

Wilayah Buitenzorg kini berubah nama menjadi Kota Bogor dan kebun botani pertama tersebut kini diberi nama Kebun Raya Bogor. Sekitar 47 hektar tanah di sekitar Istana Bogor dijadikan lahan pertama untuk kebun botani. Reinwardt menjadi pengarah pertamanya dari 1817 sampai 1822. Kesempatan ini digunakannya untuk mengumpulkan tanaman dan benih dari bagian lain Nusantara. Dengan segera Bogor menjadi pusat pengembangan pertanian dan hortikultura di Indonesia. Pada masa itu diperkirakan sekitar 900 tanaman hidup ditanam di kebun tersebut. dan kebun botani ini menjadi kebun botani terbesar se Asia Tenggara pada saat itu. Continue reading “Kebun Raya Banua dan Kepedulian untuk Masa Depan  “

Patung Bekantan sebagai Ikon kota

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Banjarmasin Post edisi Sabtu, 10 Oktober 2015. Pemikiran saya sebagai harapan dari pembuatan Patung Bekantan yang sekarang menjadi ikon Kota Banjarmasin.

***

Patung BekantanBekantan kini menjadi perbincangan hangat di Kalimantan Selatan. Ada apa gerangan ketika masyarakat Kalimantan Selatan sekarang berbondong-bondong untuk berfoto dengan monyet yang memiliki ciri khas berhidung besar ini. Padahal sebelumnya, masyarakat mengalami kesulitan untuk melihat secara langsung perwujudan monyet jenis ini.

Secara fisik, Bekantan merupakan monyet yang memiliki rambut berwarna cokelat kemerahan dan memiliki hidung yang panjang dan besar yang terdapat hanya pada spesies jantan. Fungsi dari hidung besar bekantan masih menjadi misteri, tapi diduga karena hasil dari seleksi alam, yang mana monyet betina lebih memilih jantan yang memiliki hidung yang besar sebagai pasangannya. Karena hidung besar inilah bekantan dijuluki masyarakat Kalimantan Selatan sebagai ‘Monyet Belanda’.

Memiliki nama ilmiah Nasalis larvtus, bekantan memiliki ukuran tubuh sampai 75 cm dengan berat mencapai 24 kg. Monyet ini juga memiliki ciri khas yaitu memiliki perut besar dan buncit. Hal ini karena kebiasaan bekantan yang mengonsumsi banyak makanan. Selain buah dan biji-bijian, bekantan gemar mengonsumsi aneka daun-daunan yang menghasilkan gas pada waktu dicerna. Inilah yang menyebabkan perut bekantan membuncit.  Continue reading “Patung Bekantan sebagai Ikon kota”