Selamat Datang Era Baru

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Radar Banjarmasin edisi Senin, 8 Mei 2017. Merupakan pandangan saya mengenai hadirnya berbagai bisnis baru berbasis online yang hadir beberapa tahun terakhir, dari kelebihan, potensi, dan rivalitas usaha, serta harapan permerintah untuk menjadi penengah dalam masalah ini.

***

Kemajuan teknologi telah membawa era baru bagi manusia menuju ke arah yang lebih praktis dan mudah. Karena memang begitulah hakikat teknologi, memudahkan kerja manusia. Sejak ditemukannya mesin uap dan ditandainya revolusi industri, ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang. Sehingga pekerjaan yang dulunya dianggap berat, kini diubah menjadi lebih sederhana dan mudah.

Saat ini, ketika rasa malas mendera diri kita, enggan untuk keluar rumah tetapi perut lapar. Kita dengan mudah memilih tempat makan beserta menu makanan yang diinginkan melalui layar smatphone, lantas tak lama berselang, makanan tersebut datang diantarkan oleh kurir tepat di depan pintu rumah kita. Ketika kita sedang sibuk dan diwaktu bersamaan harus mengirimkan paket ke kerabat, kita tinggal meminta jasa pengiriman berbasis aplikasi. Hari itu juga kiriman sampai ke tangan kerabat, tanpa menunggu minimum berat pengantaran atau jadwal pengiriman.

Saat sedang terburu-buru ke suatu tempat tujuan, kendaraan pribadi sedang tidak ada. Kita dapat dengan mudah memesan layanan transportasi baik itu sepeda motor maupun mobil untuk mengantarkan kita. Berselang beberapa menit mereka datang dan kita berpergian dengan informasi yang cukup akurat dari waktu, jarak tempuh dan tarif. Tanpa harus was-was sang pengemudi memberikan tarif seenaknya atau melalui jarak terjauh agar argometer menampilkan tarif yang tinggi. Continue reading “Selamat Datang Era Baru”

#3 Teknologi, gombal, dan puisi

Kamu tahu mengapa terkadang aku membenci kemajuan teknologi. Bukan karena konten dewasa yang mudah didapatkan seperti membeli sebatang rokok di pinggir jalan. Keduanya menjadi racun memang, tapi itu bukan menjadi alasan sebenarnya.

Bukan pula karena keluh dan ghibah menjadi ampuh meraih eksistensi di jejaring sosial. Keduanya sering kita lihat memang, terkadang memang sangat memuakkan. Tapi bukan itu yang menjadi alasan nyata.

Aku membenci kemajuan teknologi karena puisi.

Kamu mungkin terheran-heran dengan mulut yang tak hentinya untuk membuka. Apa hubungannya? Kamu berfikir sekali lagi, memahami alasanku, lebih keras lagi. Tetap saja, kamu tak menemukan hubungan keduanya. Tak ada terkaitan seperti Medusa yang bersuamikan Pasha.

Kamu mencoba bertanya. Sebelum sebuah kata keluar aku sudah berbicara.

Karena puisi sekarang diartikan sebuah gombalan. Dan tahukah kamu mengapa aku membenci kata gombal? Kata itu sekarang menyempit menjadi sebuah kalimat indah untuk menipu dan mengelabui seseorang. Semua orang selalu bilang ‘ihh gombal’ dengan raut muka yang ditekuk padahal di hatinya bahagia mendengarnya. Tak berapa lama dia percaya dan diakhir kisah dia hanya mencaci dan mendefenisikan omongan lelaki hanya gombal belaka.

Kamu bertambah bingung, kamu mengira aku sedang membuat labirin. Tanda tanya makin melebar antar tiga kata yang kini kerap kuucapkan; teknologi, puisi, gombal. Kamu sedang menggaruk kepalamu yang sedang tidak gatal. Bingungmu makin bertambah dan akupun baru akan menjelaskan.

Continue reading “#3 Teknologi, gombal, dan puisi”