Sinetron Kita Sudah Berubah

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Radar Banjarmasin edisi Selasa, 14 Maret 2017. Merupakan pandangan saya mengenai kualitas sinetron di Indonesia yang terbilang buruk dan minim dengan pesan moral. Para Sineas sepertinya hanya berpatokan kepada rating dan keuntungan semata, sehingga upaya dalam mendidik bangsa tak mereka lakukan. 

***

Apakah kita menyadari bahwa sebagian besar ibu-ibu dan anak menghabiskan waktu di malam dengan menonton sinetron? Hal ini diperparah dengan kualitas sinetron di Indonesia yang terbilang buruk. Tema utama yang diangkat oleh Sinetron Indonesia cenderung monoton dan minim sekali dengan pesan moral, alih-alih malah memberikan contoh yang kurang baik terhadap budaya timur yang kita miliki.

sinetron.jpgSaat ini kita selalu menerima dengan senang hati, sinetron kejar tayang yang dibuat dengan waktu yang sangat singkat. Para pemain sudah pasti kelelahan mengikuti alur bekerja seperti ini, tetapi yang patut dicermati adalah sang pembuat skenario. Bagaimana mungkin pembuat skenario mampu menyajikan cerita yang bernas dan berkarakter di waktu yang singkat dan terus menerus dikejar deadline? Maka tak heran, kebanyakan sinetron saat ini alur ceritanya tak karuan, terkesan sekedarnya saja dibuat.

Tema besar sinetron saat ini pun hampir seragam, kisah-kisah percintaan remaja, tindak kekerasan, perselingkuhan, intrik-intrik licik dan hal yang kurang mendidik lainnya. Tetapi hebatnya sinetron di Indonesia dapat bertahan hingga bertahun-tahun, cerita dapat diulur-ulur sesuka hati.

Bahkan rekor jumlah episode terbanyak dipegang oleh sinetron ‘Tukang Bubur Naik Haji’ yang baru saja tamat, dengan jumlah episode mencapai 2.185. Walaupun dengan cerita yang sudah berbelok jauh dari kisah utama yang diadaptasi dari film layar lebar. Tukang bubur yang bernama Sulam telah lama meninggal di dalam cerita, tetapi cerita berkembang entah kemana hingga akhirnya berakhir karena production house yang berpindah kontrak. Continue reading “Sinetron Kita Sudah Berubah”

Iklan

Efektivitas Larangan Kantong Plastik

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Radar Banjarmasin edisi Selasa, 19 Juli 2016. Merupakan sebuah pandangan saya terhadap kebijakan Pemrintah Kota Banjarmasin atas larangan memberikan kantong plastik kepada konsumen di toko ritel dan modern.

***

larangan kantong plastikBeberapa kota besar di Indonesia yang beberapa waktu lalu menerapkan kebijakan kantong plastik berbayar kini kembali menggratiskan kantong plastik di pasar modern maupun ritel. Penerapan kantong plastik berbayar yang bertepatan dengan peringatan Hari Perduli Sampah Nasional, pada tanggal 21 Februari 2016 yang lalu hanya berumur tiga bulan saja.

Hal ini berdasarkan pada surat edaran yang ditandatangani antara Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dengan bupati/walikota di hadapan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan para menteri bahwa program kantong plastik berbayar berlaku 21 Februari hingga 31 Mei 2016.

Sehingga sejak 1 Juni, maka tidak ada payung hukum yang menaungi regulasi kantong plastik berbayar ini. Para pengusaha ritel dapat mengambil langkah yaitu dengan menghentikan atau melanjutkan program kantong plastik berbayar tersebut. Terbukti, di Kota Bandung, minimarket-minimarket kembali menggratiskan kantong plastik bagi konsumennya.

Akan tetapi kebijakan ini bukan berarti mengalami kegagalan setelah dilakukan uji coba. Pemerintah pusat sedang merancang peraturan menteri guna menindaklanjuti hasil penerapan kebijakan kantong plastik ini. Dengan kata lain, kantong plastik gratis yang kembali diberikan pengusaha ritel ini bersifat sementara menunggu regulasi baru di bawah Permen Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Continue reading “Efektivitas Larangan Kantong Plastik”