Rendahnya Minat Baca dan Tantangan bagi Perpustakaan

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Radar Banjarmasin edisi Senin, 19 Mei 2017. Merupakan pandangan saya mengenai rendahnya minat baca masyarakat dan meningkatnya penggunaan sosial media, sehingga berpengaruh pada suburnya berita Hoax di negeri ini. Di samping itu pengaruh perpustakaan untuk meningkatkan minat baca generasi muda saat ini. 

***

Rendahnya minat baca bagi generasi saat ini merupakan sebuah permasalahan bersama. Hal ini ditambah dengan adanya ledakan informasi yang berasal dari dunia maya. Kita dengan mudah menelan informasi tanpa memeriksanya dulu, berlomba menyebarkan informasi tersebut agar dianggap terdepan dalam memahami segala sesuatu. Sayangnya, informasi yang disebarkan adalah informasi yang tidak benar atau hoax.

Berdasarkan hasil suminat bacarvei UNESCO pada tahun 2011, tingkat minat baca masyarakat hanya 0,001. Hal ini berarti hanya ada satu dari seribu orang yang memiliki minat serius dalam membaca. Mengutip pendapat dari seorang esais, Zen RS. “Bahwa yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah: meningkatnya minat berkomentar.”

Maka telah teranglah kondisi saat ini, ketika masing-masing diri kita begitu cerewetnya dalam menggunakan sosial media. Hal yang dikhawatirkan adalah kita memberikan informasi yang salah di media sosial, tetapi kita tidak merasa bahwa itu salah. Maka hasilnya akan tercipta kelompok-kelompok yang rawan sekali untuk bergesekan.

Ketika ada berita yang memojokkan kelompok tertentu, maka dengan cepat kelompok lain menyebarkan berita tersebut, menambahkan dengan caption yang provokatif. Maka tak heran kini media sosial tak ubahnya panggung bagi debat kusir yang tak berkesudahan.

Mungkin banarlah pribahasa ‘Tong kosong, nyaring bunyinya’ atau ‘seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk’. Karena riuhnya dunia maya merupakan cerminan pengetahuan yang dimiliki, kebijaksanaan yang ditanggalkan dan ego yang merasa paling benar. Continue reading “Rendahnya Minat Baca dan Tantangan bagi Perpustakaan”

Dilema Transportasi Berbasis Online

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Banjarmasin Post edisi Sabtu, 18 Maret 2017. Merupakan pandangan saya mengenai hadirnya transportasi berbasis online yang hadir beberapa tahun terakhir, dari kelebihan, potensi, dan rivalitas usaha, serta harapan permerintah untuk menjadi penengah dalam masalah ini.

*** 

Hadirnya transportasi berbasis online (TBO) beberapa tahun terakhir memberikan warna baru dalam peta transportasi di kota-kota besar Indonesia. Tidak bisa dipungkiri, berkembang pesatnya TBO merupakan jawaban atas ketidakmampuan pemerintah untuk menyediakan transportasi publik yang layak, murah, dan nyaman bagi masyarakat.

transportasi onlineKondisi ini terjadi di semua kota besar, transportasi publik yang dirancang dengan dana sangat besar, tidak bisa berbuat banyak ketika harus berhadapan dengan TBO yang dihadirkan oleh para orang kreatif yang menawarkan kemudahan dan keterjangkauan harga. Cukup dengan menggunakan smartphone yang hampir dimiliki semua lapisan masyarakat, kebutuhan moda transportasi untuk berpergian maupun mengantarkan barang tiba dengan cepat hanya berbilang menit.

Kehadiran TBO merupakan sebuah bentuk creative disruption. Disruption dalam ini merupakan  perubahan akibat dari trend lama yang terputus atau yang tak terpakai lagi karena dianggap telah usang. Sehingga terciptalah sebuah trend baru, yang datang seiring dengan kamajuan teknologi, arus globalisasi, dan keinginan manusia untuk membuat segala hal menjadi lebih praktis dan efesien.

Sehingga akibatnya, segala hal yang bersifat konvensional dan tak mampu mengikuti inovasi yang terjadi saat ini, maka tak lama lagi akan ditinggalkan dan berangsur akan tumbang. Setidaknya ada banyak kelebihan yang dimiliki TBO saat ini: Continue reading “Dilema Transportasi Berbasis Online”

Kebun Raya Banua dan Kepedulian untuk Masa Depan  

 

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Radar Banjarmasin edisi Rabu, 11 Januari 2017. Merupakan pandangan saya mengenai pembangunan Kebun Raya Banua oleh pemerintah daerah yang bermanfaat sebagai pusat penelitian tanaman, sarana konservasi tumbuhan langka, dan sebagai sarana rekreasi serta edukasi kepada masyarakat di Kalimantan Selatan. 

***

kebun-raya-banuaPada tahun 1817 di Kota Buitenzorg, Reindwardt mengusulkan untuk membangun kebun botani kepada Gubernur Jenderal G.A.G.P Baron Van Der Cappellen, dan usul itu pun segera disetujui, akhirnya kebun botani tersebut diberi nama ‘s Lands Plantentuin te Buitenzorg. Sebagai langkah awal pembangunannya ditandai dengan menancapakan ayunan cangkul pertama di Bumi Pajajaran tersebut.

Pembangunan kebun botani dipimpin langsung oleh Reinwardt dan dibantu oleh James Hooper dan W. Kent, seorang kurator kebun botani yang terkenal di Richmond, Inggris. Di sinilah tonggak awal pendirian kebun botani di kawasan Hindia Belanda. Kota Buitenzorg dalam bahasa belanda berarti ‘tak ada yang perlu dikhawatirkan’ menjadi kawasan yang  penuh dengan ketenangan, bebas dari kesumpekan dan tempat untuk beristirahat sejenak dari Kota Batavia yang ramai, sesak dan kacau khas permasalahan kota besar pada saat itu.

Wilayah Buitenzorg kini berubah nama menjadi Kota Bogor dan kebun botani pertama tersebut kini diberi nama Kebun Raya Bogor. Sekitar 47 hektar tanah di sekitar Istana Bogor dijadikan lahan pertama untuk kebun botani. Reinwardt menjadi pengarah pertamanya dari 1817 sampai 1822. Kesempatan ini digunakannya untuk mengumpulkan tanaman dan benih dari bagian lain Nusantara. Dengan segera Bogor menjadi pusat pengembangan pertanian dan hortikultura di Indonesia. Pada masa itu diperkirakan sekitar 900 tanaman hidup ditanam di kebun tersebut. dan kebun botani ini menjadi kebun botani terbesar se Asia Tenggara pada saat itu. Continue reading “Kebun Raya Banua dan Kepedulian untuk Masa Depan  “

Mendukung Kantong Plastik Berbayar

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Waspada Medan edisi Rabu, 13 April 2016. Berisi pandangan saya terhadap kebijakan kantong plastik berbayar, yang sangat perlu untuk diterapkan di seluruh Indonesia dengan harapan turut membantu mengurangi timbulan sampah plastik yang sulit terurai tersebut.

***

Kantong plastik berbayarMungkin selama ini tak terlintas dalam pikiran, bagaimana sampah plastik yang membantu kita semua dalam membungkus dan membawa barang kebutuhan akan berakhir di lapisan tanah atau terbawa arus mengarungi lautan hingga ratusan tahun dan akhirnya terurai oleh alam. Membayangkan sampah plastik hasil dari membeli minuman kaleng di mini market hari ini, yang digunakan hanya beberapa menit, akan lebih panjang umurnya dibandingkan umur hidup kita.

Itulah fakta yang terjadi dan mungkin kita semua tak sadari. Bahwa praktisnya plastik yang kita gunakan bersama, ternyata pada masa pembuatan dari awal hingga terurai membutuhkan waktu dan usaha yang panjang.

Secara tidak sadar satu orang di Indonesia rata-rata membuang 700 kantong plastik di setiap tahunnya. Setara 100 milyar kantong plastik per tahun yang menghabiskan 12 juta barrel minyak yang tak dapat diperbaharui, 14 juta pohon yang ditebang dan membutuhkan waktu hingga 1000 tahun agar sampah plastik tersebut terurai.

Bagi tanah, plastik menjadi bencana, karena racun dari partikel plastik yang masuk ke dalam tanah akan membunuh hewan-hewan pengurai seperti cacing, menurunkan kesuburan karena plastik menghalangi sirkulasi udara di dalam tanah serta mengganggu jalur air yang meresap ke dalam tanah.

Pembakaran plastik yang sering dilakukan untuk mengurangi tumpukan sampah menimbulkan polusi udara dan pembakaran yang tidak sempurna menghasilkan zat yang apabila terhirup oleh manusia akan mengakibatkan kangker, kerusakan hati dan gangguan sistem syaraf. Continue reading “Mendukung Kantong Plastik Berbayar”

Prinsip Pengelolaan Kualitas Udara di Indonesia

Disclaimer :  Tulisan ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengelolaan Kualitas Udara. Segala isi dari tulisan ini adalah murni pendapat saya pribadi dan tetunya belum bisa menjadi acuan yang pasti perihal prinsip pengelolaan pencemaran udara di Indonesia. 

Oleh: Ferry Irawan Kartasasmita (25314733)

Abstract

As a developing country with increasing economic growth, Indonesia needs to pay attention to the negative impacts of development that the increasing air pollution. especially, in the area adjacent to the industrial and transportation lines. There are seven principles of air quality management globally. In Indonesia the application of the seven principles can not be run simultaneously.This is because the need of government support, the requirements and requires a period of time in its application. Principles which is effect-based approach, polluter-pays principle, risk assessment, and the precautionary principle. This principle can be applied for have been included in laws or government regulations. These four principles are the elements that easily planned although in practice many have problems. For the principle of sound science and propotionality need some requirements in its application. Especially aspects of the active role of government and society. Sustainibility principles are the ideals that are expected to Indonesia. It is applied in a long period of time. with the hope to create a healthy and safe environment.

Pencemaran udaraIndonesia merupakan salah satu negara berkembang yang mulai memacu perttumbuhan ekonominya. Tercatat pada jangka periode lia tahun terakhir Indonesia telah mengaami pertumbuhan 5-7 % per tahun. Suatu pertumbuhan yang sehat dan memikat investor untuk datang. Ditambah lagi Indonesia mengalami surplus demografi, yang mana jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta memiliki prosentasi penduduk usia produktif (25 tahun – 54 tahun) sebesar 42,2 %. Hal ini menjadikan Indonesia berpotensi untuk maju dan melesat dalam pertumbuhan ekonominya.

Dampak pertumbuhan ekonomi ini tentu saja membawa peningkatan terhadap industri yang juga berdampak pada peningkatan daya hidup mayarakat. Maka dapat diprediksi akan terjadi pertumbuhan yang signifikan pula pada penjualan kendaraan bermotor di Indonesia. Maka dari itu dampak pertumbuhan ekonomi tidak saja berpengaruh positif terhadap kesejahteraan suatu penduduk, akan tetapi juga memberikan dampak yang buruk terhadap peningkatan pencemaran udara. Hal ini tentu saja dirasakan langsung oleh penduduk, maka kesehatan mekahluk hidup dan kelestarian lingkungan perlu diperhatikan guna melahirkan pembangunan berkelanjutan yang selama ini dicita-citakan Indonesia.

Setidaknya ada tujuh prinsip yang secara global dianut untuk pengelolaan kualitas udara ambien agar tetap aman dan sehat. Beberapa prinsip tersebut diantaranya adalah keberlanjutan (Sustainability), pendekatan berbasis akibat (effect-based approach), penilaian resiko (risk assessment), sound science, proporsionalitas (proportionality), polluter-pays principle, dan prinsip pencegahan dampak (precautionary principle). Dari ketujuh prinsip tersebut, ada beberapa prinsip yang dapat langsung diaplikasikan di Indonesia, namun ada pula yang membutuhkan persyaratan tertentu atau upaya perencanaan dan penerapannya yang membutuhkan jangka waktu yang panjang.

Prinsip yang dapat diaplikasian secara langsung adalah pendekatan berbasis akibat (effect-based approach), polluter-pays principle, penilaian resiko (risk assessment), dan prinsip pencegahan dampak (precautionary principle). Pendekatan berbasis akibat merupakan prinsip yang cukup tegas digerakanoleh pemerintah. Contohnya, terbukti banyak peraturan yang menaungi pekerja maupun masyarakat yang terkena dampak paparan pencemaran udara agar diberikan fasilitas penyembuhan serta upaya perbaikan kualitas udara di lingkungan tersebut.

Untuk polluter-pays principle, prinsip ini telah tertuang di berbagai peraturan dan undang-undang. Contohnya, pada PP No 41 tahun 1999 tentang pengendalian pencemaran udara pada bab lima dan enam yang meegaskan perihal pembiayaan dan ganti rugi bagi orang maupun penanggung jawab usaha yang kegiatannya mengakibatkan pencemaran udara. Ditambah lagi hadinya UU No 32 tahun 2009 pada Bab XV yang mengatur ketentuan pidana serta denda yang besar bagi pelanggar yang mencemari dan merusak kualitas lingkungan.

Pada prinsip penilaian resiko (risk assessment) yang mengaitkan hubungan antara paparan dengan efek. Indonesia telah membuat baku mutu udara ambien yang menjadi pijakan terhadap kondisi kualitas udara di Indonesia. Baku mutu udara ambien ini tentu saja telah mengalami penilaian resiko terhadap manusia, hewan dan lingkungan sebagai akibat dari pencearan udara. Sehingga penilaian resiko ini menjadi penerapan prinsip pencegahan dampak (precautionary) yang diharapkan oleh pemerintah agar tidak terjadinya dampak buruk dari perubahan kualitas udara.

Adapun prinisip lainnya yang membutuhkan beberapa persyaratan dalam penerapannya adalah sound science dan proporsionalitas (proportionality). Mengenai prinsip sound science, Indonesia masih belum mampu untuk menerapkannya secara menyeluruh. Hal ini dikarenakan pemerintah cenderung tidak perduli terhadap perkembangan penelitian science, banyak peneliti mengeluhkan perihal kesejahteraannya yang masih belum terpenuhi. Sehingga perkembangan penelitian masih berjalan di tempat. Padahal empat prinsip yang telah dijabarkan di atas, pijakannya bergantung pada prinsip sound science.

Prinsip  proporsionalitas masih belum bisa diterapkan langsung karena prinsip ini memberikan penanganan pencemaran udara secara seimbang. Antara penggerakan teknologi yang berkualitas dan mahal dengan peran aktif masyarakat. Indonesia masih terkendala pada ketersediaan teknologi yang masih banyak mengimpor dari luar serta peran aktif masyarakat yang masih dirasa kurang.

Prinsip yang menjadi kunci dan membutuhkan banyak persyaratanserta penerapannya yang membutuhkan jangka waktu yang panjang adalah keberlanjutan (Sustainability). Prinsip ini menjadi tujuan utama dalam penerapan pengelolaan kualitas udara, karena fokus utamanya adalah keberlanjutan kondisi lingkungan agar tetap sehat dan aman di masa mendatang.

Sumber Gambar: klik

Negeri Para Pesulap

pesulapAku lahir di negeri sulap (negeri sulap)

Aku besar di republik sulap (republik sulap)

Negerinya pakar pesulap, suka menyulap apa saja

Dari gak ada hingga di ada-ada, dari yang ada hingga tiada

Bim salabim, bim salabim, abrakadabra, nggedebuzzz

Bim salabim, bim salabim, abracadabra

Republik Sulap –  Tony Q Rastavara

Aku mendengar lagu ini lewat pengamen di Murjani beberapa hari yang lalu. Mereka bernanyi bergerombol, hampir sepuluh jumlahnya. Dan aku yakin, mereka mengamen bukan untuk mencari makan, tapi hanya sekedar mengisi waktu luang, bersenang-senang atau modus untuk mendekati cewek cantik lalu berkenalan.

Akan tetapi, dari sekian banyak pengamen yang menyanyikan lagu-lagu ternama. Hanya merekalah yang menarik telingaku untuk mendengarkan seksama lagu itu, jujur, baru pertama pula aku mendengarnya. Dan lirik lagu itu memancingku untuk menuliskannya di sini.

Katanya, negeri kita adalah negeri para pesulap. Jika dilihat secara nyata, tak benar adanya. Para pesulap di negeri ini yang terkenal hanya bisa dihitung jari. Itu pun ada yang beralih peran menjadi host acara bincang-bincang. Semenjak acara pencarian bakat para pesulap menghilang di televisi, semenjak itu pula para pesulap tak pernah lagi muncul untuk menampilkan atraksinya. Sepertinya pesulap sulit mendapatkan perannya untuk menjadi beken, kalah pamor dengan pelawak ataupun penyanyi.

Continue reading “Negeri Para Pesulap”