Transportasi Online, Apakah Perlu Dilarang?

Tulisan ini telah dimuat di media online jejakrekam.com Kamis, tanggal 28 Juni 2018, tulisan-tulisan lama saya yang gagal termuat dalam harian cetak saya putuskan untuk mengirimkannya ke media online, karena saya menginginkan tulisan saya ingin tetap dibaca oleh banyak orang dan tentunya sembari terus melakukan perbaikan. 
transpol***

Keberadaan transportasi berbasis online masih mengalami penolakan keras di berbagai daerah di Indonesia, tak terkecuali di daerah kita.  Pada awal Januari ini terjadi kejadian yang  terekam dalam video dan viral di media sosial, memperlihatkan sekelompok orang sedang mengejar seorang yang diduga pengemudi taksi online di area sekitar Bandara Syamsuddin Noor.

Walaupun sebelumnya telah terjadi kesepakatan bahwa taksi online boleh mengantarkan penumpang ke bandara, tetapi tak boleh mengangkut penumpang dari bandara. Tetapi tetap saja para pengemudi taksi konvensional masih waspada terhadap oknum pengemudi taksi online yang nakal dan nekat untuk menarik penumpang. Ditambah lagi, penghasilan mereka yang terus menurun semenjak hadirnya angkutan online ini.

Hal inilah yang mendasari kejadian beberapa hari yang lalu, sikap curiga para sopir taksi ini membuat mereka terkadang tidak rasional dalam bertindak. Melihat gelagat pengemudi mobil yang mencurigakan, mereka langsung mengambil tindakan yang cenderung represif. Pada akhirnya, seorang yang mereka curigai, mereka kejar seperti ingin menghakimi pelaku kriminal, padahal ia hanya ingin menjemput keluarganya. Akibatnya banyak komentar di media sosial yang takut dikira sopir taksi online ketika menjemput kerabat atau keluarga di bandara. Continue reading “Transportasi Online, Apakah Perlu Dilarang?”

Iklan

Kemacetan dan Kesalahan Kita  

 

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Radar Banjarmasin edisi Senin, 6 Maret 2017. Merupakan pandangan saya mengenai kemacetan yang mulai menghampiri di Kota Banjarmasin yang sedikit atau banyak merupakan kesalahan kita semua dalam berprilaku berkendaraan.

***

Saat ini Kota Banjarmasin memiliki gejala yang hampir sama dengan permasalahan di kota-kota besar di Pulau Jawa, yaitu; Kemacetan. Secara logika dari hari ke hari jumlah kendaraan di kota ini terus bertambah, sedangkan penjang dan lebar ruas jalan tidak mengalami peningkatan untuk mengimbanginya. Maka kemacetan merupakan keniscayaan yang akan kita alami semua. Cepat atau lambat, jika tidak dilakukan penanganan yang baik maka warga Kota Banjarmasin akan merasakan stres yang sama dengan yang dialami oleh warga Kota Jakarta.kamecetan-kota-karikatur

Berbicara tentang masalah kemacetan, maka sumber dan solusinya adalah diri kita. Ya, kita, yang tanpa sadar merupakan akar dari permasalahan kemacetan. Karena kitalah pengguna ruas jalan, yang menggunakan kendaraan bermotor di setiap harinya. Tidak ada yang mesti disalahkan kecuali sebelumnya menyalahkan diri sendiri.

Saat ini mungkin kita senantiasa mengeluh, karena waktu tempuh untuk sampai tujuan lebih lama dibandingkan dahulu, geram ketika kendaraan memotong jalur tiba-tiba guna menghindari kendaraan di depan untuk belok kanan, mengumpat ketika kendaraan di depan belum jalan, padahal lampu hijau telah menyala. Kita lah yang acap kali menumpahkan amarah di jalan, ketika banyak hal yang tak terduga terjadi di sana.

Selanjutnya kritik kepada pemerintah diberikan, dengan alasan tak mampu mengurus kebijakan transportasi atau tak mampu membatasi keluarnya kendaraan baru. Tanpa disadari kita adalah manusia yang tak pernah merasa bersalah. Menyalahkan pemerintah akan macetnya Kota Banjarmasin. Tetapi, tanpa berpikir panjang untuk membeli mobil murah, alasannya biar tidak kehujanan, biar terlihat keren atau agar terlihat ‘mampu’. Continue reading “Kemacetan dan Kesalahan Kita  “

City Branding

Tulisan ini telah dimuat di media online jejakrekam.com tanggal 23 Juni 2018, tulisan-tulisan lama saya yang gagal termuat dalam harian cetak saya putuskan untuk mengirimkannya ke media online, karena saya menginginkan tulisan saya ingin tetap dibaca oleh banyak orang dan tentunya sembari terus melakukan perbaikan. 

***

city-branding-okKetika melewati Kabupaten Tapin, memasuki kawasan Rantau baru, kita mungkin tergerak untuk melihat gapura yang bertuliskan Kota Serambi Madinah. Hal ini mengusik rasa penasaran, dikesempatan luang penulis mencari literatur mengenai dasar penyebutan tersebut. Sangat minim artikel yang membahas ini di dunia maya, tetapi menurut salah satu artikel, dasar penyebutan tersebut dikarenakan Tapin adalah kabupaten yang terkenal menghasilkan banyak datu-datu (Ulama), para datu tersebut lahir, bermukim, dan mengajarkan agama Islam di wilayah tersebut.

Di samping itu terdapat perayaan-perayaan Islam yang unik dan menonjol di kawasan ini seperti, baayun anak serta kehidupan agamis yang dominan di kehidupan sehari-hari. Hal itulah yang mendasari kabupaten ini membentuk sebuah kawasan baru yang diberi nama Rantau Baru dengan konsep perancangan Kota Islam dengan predikat ‘Serambi Madinah’.

Hal yang patut diapresiasi untuk Kota Rantau Baru yang mem-branding-kan dirinya sebagai Kota Serambi Madinah. Tetapi apakah dengan melakukan hal ini akan turut membantu kemajuan kota? Continue reading “City Branding”

Kembali

PagiAlhamdulillah, akhirnya kembali ke kampung halaman. Setelah lima bulan berada di Bandung. Kotaku bukanlah kota yang sejuk, bisa dibilang panas. Tak ada tempat hiburan seperti mall dan factory outlet. Hanya sebuah kota kecil yang menjadi ibu kota kabupaten. Sebuah kota yang minim dengan kemajuan pembangunan tapi kaya akan hasil tambang dan perkebunan.

Sering kali bingung dibuat. Kemana rimbanya uang hasil penjualan bertongkang-tongkang batubara dan bertangker-tangker CPO. Seperti tak ada bedanya jika dilihat dari kemajuan pembangunan kotaku ini. Tetapi dari semua itu aku tetap mencintai kota ini. tak perduuli tak ada mall di sini, tak perduli tak ada toko buku yang berdiri, tak perduli kota ini berhawa panas, tak perduli setelah di atas jam 9 malam kota ini sunyi sepi. Tak kuperdulikan semua itu, karena di kota inilah kutemukan ketenangan.

Sepertinya itu sudah cukup untuk menempatkan kotaku jauh lebih unggul dari kota-kota yang pernah kutinggali. Ada memori indah yang bermunculan ketika merinduka kota ini. Ada rasa yang membuncah ketika menghirup udara pagi di kota ini.

Rumah adalah dimana keluarga ada di dalamnya, kampung halaman dimana rumah itu berada.

Pelaihari, 27 Desember 2014