Jalan Panjang Historis Pemindahan Ibu Kota Negara

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Radar Banjarmasin edisi Senin, 1 Agustus 2017. Berisi pandangan saya mengenai pemindahan Ibu Kota Negara yang direncanakan akan berpindah ke Kalimantan, serta rekam sejarah terhadap rencana pemindahan ibu kota pada masa lalu yang mengalami kegagalan atau hanya sebatas wacana.  

***

Image result for animasi pindah ibu kota negara

Masih mampukah Jakarta menjadi ibu kota negara? Itulah pertanyaan yang selama ini menjadi bahan rundingan bersama, jawabannya pun kompak. Jakarta mulai tertatih untuk terus menjadi ibu kota negara sekaligus menjadi pusat ekonomi Indonesia. Jakarta sudah tidak layak, banyak dari kita menjawab demikian.

Segenap permasalahan telah menghinggapi Jakarta saat ini, banjir yang semakin tahun terus terjadi, kemacetan dirasakan masyarakat setiap harinya, kepadatan penduduk yang tinggi, sehingga menciptakan banyak permukiman kumuh yang bersanding dengan hotel dan apartemen mewah, kota yang penuh polusi udara, hingga berbagai kesemerawutan yang membuat manusia Jakarta menjadi extra sabar atau menjadi depresi. Dua pilihan yang harus dipilih mereka.

Padahal sudah diprediksi sebelumnya bahwa Jakarta tak layak menjadi pusat pemerintahan. Bermula dari studi kesehatan di kota-kota pantai Pulau Jawa oleh Hendrik Freek Tillemia yang hasilnya menyimpulkan bahwa kota-kota pelabuhan di Pulau Jawa yang tak sehat menyebabkan orang tidak pernah memilih sebagai kedudukan kantor pemerintah, kantor pusat niaga, industri, dan pusat pendidikan. Continue reading “Jalan Panjang Historis Pemindahan Ibu Kota Negara”

Iklan

Zen

Hari ini aku membaca tulisan mengenai Zen di blog rumah filsafat, banyak hal yang aku tak mengerti dari Zen ini. Tetapi mungkin sebagian telah aku temui titik terangnya. Bagaimana aku harus melepas semua konsep, semua nama, semua hal yang melekat dalam hidup ini. Semua hal tersebut telah aku definisikan sejak lama. Apa itu baik dan tidak baik, apa itu pantas dan tidak pantas, apa itu indah dan tidak indah.

konsep zenSemua itu hanyalah atribut yang selayaknya harus dilepaskan, semua itu yang menjadikan diriku menderita, kecewa dan beragam hal buruk lainnya yang aku rasakan. Karena menurut Zen, kunci semua itu adalah melepaskan dan hidup hanya untuk saat ini. Jangan bawa-bawa masa lalu dan tak perlu menghawatirkan masa depan. Hidup di saat ini, menikmatinya saat demi saat. Continue reading “Zen”

Prinsip Pengelolaan Kualitas Udara di Indonesia

Disclaimer :  Tulisan ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengelolaan Kualitas Udara. Segala isi dari tulisan ini adalah murni pendapat saya pribadi dan tetunya belum bisa menjadi acuan yang pasti perihal prinsip pengelolaan pencemaran udara di Indonesia. 

Oleh: Ferry Irawan Kartasasmita (25314733)

Abstract

As a developing country with increasing economic growth, Indonesia needs to pay attention to the negative impacts of development that the increasing air pollution. especially, in the area adjacent to the industrial and transportation lines. There are seven principles of air quality management globally. In Indonesia the application of the seven principles can not be run simultaneously.This is because the need of government support, the requirements and requires a period of time in its application. Principles which is effect-based approach, polluter-pays principle, risk assessment, and the precautionary principle. This principle can be applied for have been included in laws or government regulations. These four principles are the elements that easily planned although in practice many have problems. For the principle of sound science and propotionality need some requirements in its application. Especially aspects of the active role of government and society. Sustainibility principles are the ideals that are expected to Indonesia. It is applied in a long period of time. with the hope to create a healthy and safe environment.

Pencemaran udaraIndonesia merupakan salah satu negara berkembang yang mulai memacu perttumbuhan ekonominya. Tercatat pada jangka periode lia tahun terakhir Indonesia telah mengaami pertumbuhan 5-7 % per tahun. Suatu pertumbuhan yang sehat dan memikat investor untuk datang. Ditambah lagi Indonesia mengalami surplus demografi, yang mana jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta memiliki prosentasi penduduk usia produktif (25 tahun – 54 tahun) sebesar 42,2 %. Hal ini menjadikan Indonesia berpotensi untuk maju dan melesat dalam pertumbuhan ekonominya.

Dampak pertumbuhan ekonomi ini tentu saja membawa peningkatan terhadap industri yang juga berdampak pada peningkatan daya hidup mayarakat. Maka dapat diprediksi akan terjadi pertumbuhan yang signifikan pula pada penjualan kendaraan bermotor di Indonesia. Maka dari itu dampak pertumbuhan ekonomi tidak saja berpengaruh positif terhadap kesejahteraan suatu penduduk, akan tetapi juga memberikan dampak yang buruk terhadap peningkatan pencemaran udara. Hal ini tentu saja dirasakan langsung oleh penduduk, maka kesehatan mekahluk hidup dan kelestarian lingkungan perlu diperhatikan guna melahirkan pembangunan berkelanjutan yang selama ini dicita-citakan Indonesia.

Setidaknya ada tujuh prinsip yang secara global dianut untuk pengelolaan kualitas udara ambien agar tetap aman dan sehat. Beberapa prinsip tersebut diantaranya adalah keberlanjutan (Sustainability), pendekatan berbasis akibat (effect-based approach), penilaian resiko (risk assessment), sound science, proporsionalitas (proportionality), polluter-pays principle, dan prinsip pencegahan dampak (precautionary principle). Dari ketujuh prinsip tersebut, ada beberapa prinsip yang dapat langsung diaplikasikan di Indonesia, namun ada pula yang membutuhkan persyaratan tertentu atau upaya perencanaan dan penerapannya yang membutuhkan jangka waktu yang panjang.

Prinsip yang dapat diaplikasian secara langsung adalah pendekatan berbasis akibat (effect-based approach), polluter-pays principle, penilaian resiko (risk assessment), dan prinsip pencegahan dampak (precautionary principle). Pendekatan berbasis akibat merupakan prinsip yang cukup tegas digerakanoleh pemerintah. Contohnya, terbukti banyak peraturan yang menaungi pekerja maupun masyarakat yang terkena dampak paparan pencemaran udara agar diberikan fasilitas penyembuhan serta upaya perbaikan kualitas udara di lingkungan tersebut.

Untuk polluter-pays principle, prinsip ini telah tertuang di berbagai peraturan dan undang-undang. Contohnya, pada PP No 41 tahun 1999 tentang pengendalian pencemaran udara pada bab lima dan enam yang meegaskan perihal pembiayaan dan ganti rugi bagi orang maupun penanggung jawab usaha yang kegiatannya mengakibatkan pencemaran udara. Ditambah lagi hadinya UU No 32 tahun 2009 pada Bab XV yang mengatur ketentuan pidana serta denda yang besar bagi pelanggar yang mencemari dan merusak kualitas lingkungan.

Pada prinsip penilaian resiko (risk assessment) yang mengaitkan hubungan antara paparan dengan efek. Indonesia telah membuat baku mutu udara ambien yang menjadi pijakan terhadap kondisi kualitas udara di Indonesia. Baku mutu udara ambien ini tentu saja telah mengalami penilaian resiko terhadap manusia, hewan dan lingkungan sebagai akibat dari pencearan udara. Sehingga penilaian resiko ini menjadi penerapan prinsip pencegahan dampak (precautionary) yang diharapkan oleh pemerintah agar tidak terjadinya dampak buruk dari perubahan kualitas udara.

Adapun prinisip lainnya yang membutuhkan beberapa persyaratan dalam penerapannya adalah sound science dan proporsionalitas (proportionality). Mengenai prinsip sound science, Indonesia masih belum mampu untuk menerapkannya secara menyeluruh. Hal ini dikarenakan pemerintah cenderung tidak perduli terhadap perkembangan penelitian science, banyak peneliti mengeluhkan perihal kesejahteraannya yang masih belum terpenuhi. Sehingga perkembangan penelitian masih berjalan di tempat. Padahal empat prinsip yang telah dijabarkan di atas, pijakannya bergantung pada prinsip sound science.

Prinsip  proporsionalitas masih belum bisa diterapkan langsung karena prinsip ini memberikan penanganan pencemaran udara secara seimbang. Antara penggerakan teknologi yang berkualitas dan mahal dengan peran aktif masyarakat. Indonesia masih terkendala pada ketersediaan teknologi yang masih banyak mengimpor dari luar serta peran aktif masyarakat yang masih dirasa kurang.

Prinsip yang menjadi kunci dan membutuhkan banyak persyaratanserta penerapannya yang membutuhkan jangka waktu yang panjang adalah keberlanjutan (Sustainability). Prinsip ini menjadi tujuan utama dalam penerapan pengelolaan kualitas udara, karena fokus utamanya adalah keberlanjutan kondisi lingkungan agar tetap sehat dan aman di masa mendatang.

Sumber Gambar: klik

Kabut Asap dan Pemerintah yang Tidak Bisa Move On

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) membentang poster di depan patung 'Selamat Datang' yang telah dipasangi masker pelindung pernapasan saat menggelar aksi Peduli Bencana Kabut Asap di Pekanbaru, Riau, Jumat (4/9)Dulu saya merasa bergembira ketika kabut asap pekat menghampiri kota tempat tinggal saya di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Itu berarti sekolah akan memulangkan kami lebih cepat dari jadwal pulang. Jika situasi makin parah, maka dinas pendidikan setempat akan mengambil kebijakan meliburkan kegiatan belajar mengajar selama satu hingga dua hari. Tentunya tak ada hal yang lebih menyenangkan dibandingkan libur sekolah. Walaupun itu harus ditukar dengan menghirup pekatnya asap yang membuat pusing kepala dan batuk-batuk yang tak berkesudahan.

Itu dulu, ketika lingkar otak saya masih berukuran mini. Sekarang setelah enam tahun lulus dari masa SMA, kejadian kabut asap masih saja menghampiri kota kami setiap musim kemarau tiba. Seolah-olah di Kalimantan telah terjadi tiga tipe musim di setiap tahunnya, musim hujan, musim kemarau dan musim kabut asap.

Sudah puluhan tahun perihal kabut asap ini selalu datang dan pergi. 18 tahun tepatnya dan pemerintah seakan baru melihat kejadian ini kemarin sore. Seakan telah menjadi dagelan yang tak lucu sama sekali. Kami seperti diminta untuk pasrah menghirup asap-asap sehingga udara kota menjadi bersih, dianggapnya paru-paru kami ini seperti AC dengan teknologi inverter rupanya. Continue reading “Kabut Asap dan Pemerintah yang Tidak Bisa Move On”

Pilkada dan Pengusaha Batubara

Pendaftaran pemilu kepala daerah (Pilkada) telah ditutup beberapa hari yang lalu. Ketika di Surabaya, Ibu Risma sempat gugup karena tak ada yang berani bertanding dengan beliau. Di Kalimantan Selatan (KalSel) sungguh berbeda, banyak bakal calon dengan kualitas beraneka rupa dan baliho berbagai warna menghiasi perpolitikan di daerah ini.

Hasil akhirnya hanyaPilkada Kalsel tiga bakal calon yang dapat mendaftar. Dua yang berasal dari koalisi partai dan satu yang bersusah payah mengumpulkan KTP warga. Serta beberapa orang bakal calon potensial yang hanya gigit jari, sambil menurunkan kembali baliho-baliho mereka.

Selalu ada kejutan dalam pilkada, dimana dua atau tiga tahun yang lalu. Di warung kopi, di pangkalan ojek atau di pos ronda. Masyarakat di daerah ini hanya memperbincangkan empat nama potensial yang akan bersaing menjadi gubernur kelak. Ialah, Rosehan, wakil gubernur dua periode yang lalu dan tokoh yang penasaran karena gagal di pilkada periode yang lalu. Kedua, Rudy Renawan, seorang Walikota Banjarbaru dua periode dan periode lalu menjabat sebagai wakil gubernur. Ketiga, Pangeran Khairul Saleh, sosok teratas dari beberapa survey dan menjabat sebagai Bupati Banjar selama dua priode. Terakhir, Adriansyah, sosok pemimpin Partai Banteng daerah ini, Bupati Tanah Laut dua periode yang tahtanya diserahkan pada sang anak dan beberapa bulan yang lalu sempat terkenal seantero Indonesia karena diseret KPK di Bali saat Munas Partai Banteng.  Continue reading “Pilkada dan Pengusaha Batubara”

Cat 17 – Buntung

Apa yang dirasa belum tentu itu nyata. apa yang nyata belum tentu kita sadar telah merasa. Dunia memang sumber segala misteri, siapa bilang di bumi ini hanya logika yang menang. Dia tak selamanya meraja, ada kalanya dia hanya berdiri bengong tak menyangka.

Logika tak selamanya berjalan. Keberuntungan terkadang yang banyak berperan. Betulkah keberuntungan itu memang datang secara’kebetulan.’ Aneh, banyak sekali aku menemui, orang tertentu sering mendapatkan keberuntungannya. Sedangkan, ada sebagian manusia yang berlama-lama menunggu, tapi tak kunjung jua datangnya itu beruntung.

Jika keberuntungan itu datang tak diduga, lalu mengapa banyak manusia yang berharap lebih padanya. Keberuntungan memang berperan besar membuat manusia tersenyum bahagia, tapi tak jarang dia memurungkan banyak manusia. coba tanyakan kepada para penjudi yang berharap untung hari ini. Dia selalu ingin hoki, lucky atau apapun bentuk namanya beruntung.

Jika semua manusia ingin mendapatkan keberuntungan, mengapa kita tidak berusaha dengan keras saja. Setidaknya kita tak perlu menunggu keberuntungan yang tak pasti datang untuk menyelesaikan hajat kita. Tapi, terkadang, memang terkadang, usaha keras kita tak akan membuahkan hasil. Sedangkan, ada segelintir manusia yang beruntung, yang berusaha sedikit saja mampu menyelesaikan hajatnya.

Continue reading “Cat 17 – Buntung”