Jalan Panjang Historis Pemindahan Ibu Kota Negara

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Radar Banjarmasin edisi Senin, 1 Agustus 2017. Berisi pandangan saya mengenai pemindahan Ibu Kota Negara yang direncanakan akan berpindah ke Kalimantan, serta rekam sejarah terhadap rencana pemindahan ibu kota pada masa lalu yang mengalami kegagalan atau hanya sebatas wacana.  

***

Image result for animasi pindah ibu kota negara

Masih mampukah Jakarta menjadi ibu kota negara? Itulah pertanyaan yang selama ini menjadi bahan rundingan bersama, jawabannya pun kompak. Jakarta mulai tertatih untuk terus menjadi ibu kota negara sekaligus menjadi pusat ekonomi Indonesia. Jakarta sudah tidak layak, banyak dari kita menjawab demikian.

Segenap permasalahan telah menghinggapi Jakarta saat ini, banjir yang semakin tahun terus terjadi, kemacetan dirasakan masyarakat setiap harinya, kepadatan penduduk yang tinggi, sehingga menciptakan banyak permukiman kumuh yang bersanding dengan hotel dan apartemen mewah, kota yang penuh polusi udara, hingga berbagai kesemerawutan yang membuat manusia Jakarta menjadi extra sabar atau menjadi depresi. Dua pilihan yang harus dipilih mereka.

Padahal sudah diprediksi sebelumnya bahwa Jakarta tak layak menjadi pusat pemerintahan. Bermula dari studi kesehatan di kota-kota pantai Pulau Jawa oleh Hendrik Freek Tillemia yang hasilnya menyimpulkan bahwa kota-kota pelabuhan di Pulau Jawa yang tak sehat menyebabkan orang tidak pernah memilih sebagai kedudukan kantor pemerintah, kantor pusat niaga, industri, dan pusat pendidikan. Continue reading “Jalan Panjang Historis Pemindahan Ibu Kota Negara”

Iklan

Rendahnya Minat Baca dan Tantangan bagi Perpustakaan

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Radar Banjarmasin edisi Senin, 19 Mei 2017. Merupakan pandangan saya mengenai rendahnya minat baca masyarakat dan meningkatnya penggunaan sosial media, sehingga berpengaruh pada suburnya berita Hoax di negeri ini. Di samping itu pengaruh perpustakaan untuk meningkatkan minat baca generasi muda saat ini. 

***

Rendahnya minat baca bagi generasi saat ini merupakan sebuah permasalahan bersama. Hal ini ditambah dengan adanya ledakan informasi yang berasal dari dunia maya. Kita dengan mudah menelan informasi tanpa memeriksanya dulu, berlomba menyebarkan informasi tersebut agar dianggap terdepan dalam memahami segala sesuatu. Sayangnya, informasi yang disebarkan adalah informasi yang tidak benar atau hoax.

Berdasarkan hasil suminat bacarvei UNESCO pada tahun 2011, tingkat minat baca masyarakat hanya 0,001. Hal ini berarti hanya ada satu dari seribu orang yang memiliki minat serius dalam membaca. Mengutip pendapat dari seorang esais, Zen RS. “Bahwa yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah: meningkatnya minat berkomentar.”

Maka telah teranglah kondisi saat ini, ketika masing-masing diri kita begitu cerewetnya dalam menggunakan sosial media. Hal yang dikhawatirkan adalah kita memberikan informasi yang salah di media sosial, tetapi kita tidak merasa bahwa itu salah. Maka hasilnya akan tercipta kelompok-kelompok yang rawan sekali untuk bergesekan.

Ketika ada berita yang memojokkan kelompok tertentu, maka dengan cepat kelompok lain menyebarkan berita tersebut, menambahkan dengan caption yang provokatif. Maka tak heran kini media sosial tak ubahnya panggung bagi debat kusir yang tak berkesudahan.

Mungkin banarlah pribahasa ‘Tong kosong, nyaring bunyinya’ atau ‘seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk’. Karena riuhnya dunia maya merupakan cerminan pengetahuan yang dimiliki, kebijaksanaan yang ditanggalkan dan ego yang merasa paling benar. Continue reading “Rendahnya Minat Baca dan Tantangan bagi Perpustakaan”

[Cerpen] Enggang yang Tak Pandai Terbang

Cerpen EnggangAwang Kiting termangu di gubuk ketika letih berladang di suatu sore. Sesekali kicauan burung enggang yang bertengger di pohon lahung menambah ketenangan sore itu. Riak suara sungai yang mengalun teratur penuh tempo, duhai indah ingin didengar setiap telinga. Sore itu hutan begitu syahdu memberikan keindahannya. Mungkin orang kota perlu sesekali merasakannya, tentu perlulah dibuang jauh-jauh keluhan mengenai nyamuk yang begitu ganas atau sinyal handphone yang tak akan pernah didapat.

Etak Bungeh, istri dari Awang Kiting berjalan menuju gubuk selepas mandi di sungai. Menggunakan tapih yang menyelimuti dada hingga ke paha, Etek Bungeh lekas meghampiri Awang.

“Sibuk sekali melamun, sampai lupa mandi. Badan itu sudah bau, tak sudi nantinya jika kau tidur memelukku,” ejek Etak mengingkan suaminya lekas mandi.

 “Tahanlah sebentar, lagi asyik aku memandang langit yang berwarna jingga ini. Seperti dilukis saja, Enggang juga hilir mudik sedari tadi, bahagia dia rupanya musim buah akan segera datang.”

Dari dalam gubuk Etak menjawab, “Tak perlu banyak alasan, hari sebentar lagi gelap, tersesat nantinya kau mencari jalan pulang.”

Begitulah kehidupan di gubuk, ladang yang terus berpindah untuk mencari kesuburan tanah agar menghasilkan panen yang baik. Membuat keluarga  Awang Kiting betah untuk tetap tinggal di gubuk, tanpa penerangan listrik, tanpa ada hiburan radio. Nyanyian malam lebih enak didengar, tukas Awang. Mengikuti perubahan zaman, membuat kepala ini tambah pusing saja. Continue reading “[Cerpen] Enggang yang Tak Pandai Terbang”

Kabut Asap dan Kesehatan

Tulisan ini adalah tulisan lama yang gagal dimuat di surat kabar harian. Tulisan ini berisi tentang pendapat saya mengenai kabut asap yang selama ini hadir ketika musim kemarau tiba di Sumatera dan Kalimantan di setiap tahunnya. ini merupakan keluhan saya, mengapa pemerintah tak belajar dari pengalaman akan kejadian kabut asap ini dan membiarkan kami sebagai rakyat menghirup racun yang semakin pekat saja dari hari ke hari.

***

kabut asapKebakaran hutan dan lahan selalu terjadi ketika musim kemarau tiba. Upaya pencegahan dalam menanggulangi bencana ini seakan jalan di tempat. Upaya pemerintah dalam membuat kanal irigasi agar lahan gambut tetap basah dan tidak mengalami amblas yang mengakibatkan kekeringan parah, juga tak banyak memberikan hasil.

Sedangkan upaya pemadaman lewat udara maupun darat serta menciptakan hujan buatan hanyalah upaya penanggulangan yang tak menyentuh akar permasalahan. Titik api terus saja bermunculan dari hari ke hari. Satu harapan berupa penegakan hukum yang tegas kepada pelaku pembakaran hutan dan lahan berupa denda dan pidana tak pula memberikan solusi. Karena pada penerapannya penegakan hukum tak menyentuh hubungan para pelaku dengan korporasi yang kemungkinan besar ada di belakangnya.

Tak mengherankan jika upaya pembukaan lahan dengan pembakaran yang dilakukan korporasi maupun hasil tangan masyarakat awam memberikan hasil yang ekonomis dan efesien. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pembukaan lahan dengan cara dibakar hanya memerlukan biaya sebesar Rp 600.000-800.000 per hektar. Jauh berbeda jika pembukaan lahan tanpa dibakar yang akan memakan biaya hingga Rp 3,5 juta sampai 5 juta.  Continue reading “Kabut Asap dan Kesehatan”

Kabut Asap dan Pemerintah yang Tidak Bisa Move On

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) membentang poster di depan patung 'Selamat Datang' yang telah dipasangi masker pelindung pernapasan saat menggelar aksi Peduli Bencana Kabut Asap di Pekanbaru, Riau, Jumat (4/9)Dulu saya merasa bergembira ketika kabut asap pekat menghampiri kota tempat tinggal saya di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Itu berarti sekolah akan memulangkan kami lebih cepat dari jadwal pulang. Jika situasi makin parah, maka dinas pendidikan setempat akan mengambil kebijakan meliburkan kegiatan belajar mengajar selama satu hingga dua hari. Tentunya tak ada hal yang lebih menyenangkan dibandingkan libur sekolah. Walaupun itu harus ditukar dengan menghirup pekatnya asap yang membuat pusing kepala dan batuk-batuk yang tak berkesudahan.

Itu dulu, ketika lingkar otak saya masih berukuran mini. Sekarang setelah enam tahun lulus dari masa SMA, kejadian kabut asap masih saja menghampiri kota kami setiap musim kemarau tiba. Seolah-olah di Kalimantan telah terjadi tiga tipe musim di setiap tahunnya, musim hujan, musim kemarau dan musim kabut asap.

Sudah puluhan tahun perihal kabut asap ini selalu datang dan pergi. 18 tahun tepatnya dan pemerintah seakan baru melihat kejadian ini kemarin sore. Seakan telah menjadi dagelan yang tak lucu sama sekali. Kami seperti diminta untuk pasrah menghirup asap-asap sehingga udara kota menjadi bersih, dianggapnya paru-paru kami ini seperti AC dengan teknologi inverter rupanya. Continue reading “Kabut Asap dan Pemerintah yang Tidak Bisa Move On”

Sebuah Pembuka

Sumber: http://pangeranputerilh.tunashijau.org/

Ketika aku makan, pikiranku terbagi mengenai masa depan menulisku. Semakin banyak aku membaca tulisan orang lain. Semakin minder aku memutuskan diri untuk menjadi penulis. Aku merasa pengetahuanku tak ada apa-apanya. Mereka yang kubaca tulisannya seperti telah melahap banyak buku. Bukan buku berbahasa indonesia saja melainkan buku berteks inggris atau bahasa asli sang penulis.

Ternyata selama ini aku salah. Aku melulu melihat cover orang lain, sehingga lupa akan kemapuan yang kumiliki saat ini. Aku terlampau kagum dengan tulisan orang lain mengenai politik, sastra, kebudayaan, hubungan internasional bahkan ideologi, sampai lupa mungkin saja mereka telah bertahun-tahun belajar mengenai hal itu. Tugas kuliah yang membuatnya begadang mengenai itu, skripsi yang ia kerjakan dan cari referensinya mengenai hal itu, obrolan di kantin kampus mengenai hal itu. Jadi wajar saja bagiku ia seperti memahami luar dalam, samping belakang mengenai hal itu. Continue reading “Sebuah Pembuka”

[Cerpen] Lahir Kembali

ReinkarnasiSuasana sunset di Jimbaran sore itu tak begitu ramai dari biasanya. Mungkin karena hujan yang turun setengah jam yang lalu membuat manusia enggan menghabiskan waktu di ruang terbuka.  Udara dingin yang disisakan hujan masih belum beranjak pergi, sedangkan matahari yang tadinya bersembunyi di balik awan muncul kembali dan bersiap untuk bersembunyi lagi di balik tabir bumi.

Tak ada yang mengalahkan ketenangan saat ini, semua manusia yang ada di tempat ini dibuat syahdu, oleh ombak yang berkejaran, oleh pasir yang lembut dijejakkan, oleh semburat jingga yang meneduhkan.

Ada sepasang manusia yang duduk berdampingan, diiringi pendar cahaya lilin yang baru saja dinyalakan. Setiap kalimat yang berhasil mereka katakan ditutup dengan senyum yang menawan. Segala kebahagiaan sedang meluap di dada mereka.

“Capek, ya, jalan-jalan terus hari ini?” tanya Tirta kepada kekasihnya, Mina.

“Capek, sih. Tapi, kalau jalan-jalan ke tempat yang baru, apalagi berdua dengan kamu. Rasanya aku selalu punya tenaga baru untuk terus berjalan.”

“Ahh, kamu ini pintar sekali merayu,” jawab Tirta sambil menuangkan air mineral ke dalam gelas kaca.

“Ngomong-ngomong, besok kita jalan kemana lagi, Tir? Kita harus jelajahi seluruh Bali sebelum kembali lagi ke Kalimantan,” tanya Mina dengan penuh semangat. Continue reading “[Cerpen] Lahir Kembali”