Peristiwa Kunci dari Sejarah Pengelolaan Kualitas Udara di California

Discalimer: Tulisan ini adalah merupakan tugas kuliah Pengelolaan Kualitas Udara. Dengan sumber utama di sini. Tulisan ini hasil dari transletean yang dilakukan secara serampangan dari sumber yang telah disebutkan, beserta dengan tambahan yang dirasa perlu. Saya memohon maaf jika isi tulisan ini sama sekali tak jelas dan sulit untuk dimengerti, karena kapasitasi diri saya yang sulit memahami bahasa inggris.

***

Oleh: Ferry Irawan Kartasasmita (25314733)

london smogBerdasarkan pada kejadian pencemaran udara, perkembangan penelitian dan ilmu pengetahuan serta regulasi dan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah. Diurutkan melalui periode waktu awal.

1930 (Kejadian Pencemaran Udara) Continue reading “Peristiwa Kunci dari Sejarah Pengelolaan Kualitas Udara di California”

Iklan

COP 21 dan Tantangan Perubahan Iklim di Indonesia

Cop 21 ParisPada penghujung Konferensi Perubahan iklim tahun 2012 di Doha, Qatar, menghasilkan keputusan yang mencengangkan publik dunia. Ini karena, negara maju yang menjadi penghasil karbon terbesar justru menyatakan keluar dari keanggotaan Protokol Kyoto. Ialah Amerika Serikat dan Tiongkok. Lalu disusul oleh Kanada. Sementara tiga negara maju lainnya Rusia, Jepang dan Selandia Baru memutuskan untuk menjadi anggota Protok Kyoto, namun tidak berkomitmen untuk menurunkan emisi.

Para negara maju berkeinginan, fokus tuntutan untuk mengurangi emisi sebesar 29 % tidak saja dibebankan kepada negara maju, namun juga disandang bersama dengan negara berkembang. Menurutnya, tidak adil jika negara kami harus mengganti alat produksi menjadi lebih ramah lingkungan dengan harga yang mahal dan mengakibatkan industri negara kami tidak kompetitif. Amerika berdalih, meratifikasi Protokol Kyoto jelas akan mengganggu perekonomian negara. Continue reading “COP 21 dan Tantangan Perubahan Iklim di Indonesia”

Kabut Asap dan Kesehatan

Tulisan ini adalah tulisan lama yang gagal dimuat di surat kabar harian. Tulisan ini berisi tentang pendapat saya mengenai kabut asap yang selama ini hadir ketika musim kemarau tiba di Sumatera dan Kalimantan di setiap tahunnya. ini merupakan keluhan saya, mengapa pemerintah tak belajar dari pengalaman akan kejadian kabut asap ini dan membiarkan kami sebagai rakyat menghirup racun yang semakin pekat saja dari hari ke hari.

***

kabut asapKebakaran hutan dan lahan selalu terjadi ketika musim kemarau tiba. Upaya pencegahan dalam menanggulangi bencana ini seakan jalan di tempat. Upaya pemerintah dalam membuat kanal irigasi agar lahan gambut tetap basah dan tidak mengalami amblas yang mengakibatkan kekeringan parah, juga tak banyak memberikan hasil.

Sedangkan upaya pemadaman lewat udara maupun darat serta menciptakan hujan buatan hanyalah upaya penanggulangan yang tak menyentuh akar permasalahan. Titik api terus saja bermunculan dari hari ke hari. Satu harapan berupa penegakan hukum yang tegas kepada pelaku pembakaran hutan dan lahan berupa denda dan pidana tak pula memberikan solusi. Karena pada penerapannya penegakan hukum tak menyentuh hubungan para pelaku dengan korporasi yang kemungkinan besar ada di belakangnya.

Tak mengherankan jika upaya pembukaan lahan dengan pembakaran yang dilakukan korporasi maupun hasil tangan masyarakat awam memberikan hasil yang ekonomis dan efesien. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pembukaan lahan dengan cara dibakar hanya memerlukan biaya sebesar Rp 600.000-800.000 per hektar. Jauh berbeda jika pembukaan lahan tanpa dibakar yang akan memakan biaya hingga Rp 3,5 juta sampai 5 juta.  Continue reading “Kabut Asap dan Kesehatan”

Kabut Asap dan Pemerintah yang Tidak Bisa Move On

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) membentang poster di depan patung 'Selamat Datang' yang telah dipasangi masker pelindung pernapasan saat menggelar aksi Peduli Bencana Kabut Asap di Pekanbaru, Riau, Jumat (4/9)Dulu saya merasa bergembira ketika kabut asap pekat menghampiri kota tempat tinggal saya di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Itu berarti sekolah akan memulangkan kami lebih cepat dari jadwal pulang. Jika situasi makin parah, maka dinas pendidikan setempat akan mengambil kebijakan meliburkan kegiatan belajar mengajar selama satu hingga dua hari. Tentunya tak ada hal yang lebih menyenangkan dibandingkan libur sekolah. Walaupun itu harus ditukar dengan menghirup pekatnya asap yang membuat pusing kepala dan batuk-batuk yang tak berkesudahan.

Itu dulu, ketika lingkar otak saya masih berukuran mini. Sekarang setelah enam tahun lulus dari masa SMA, kejadian kabut asap masih saja menghampiri kota kami setiap musim kemarau tiba. Seolah-olah di Kalimantan telah terjadi tiga tipe musim di setiap tahunnya, musim hujan, musim kemarau dan musim kabut asap.

Sudah puluhan tahun perihal kabut asap ini selalu datang dan pergi. 18 tahun tepatnya dan pemerintah seakan baru melihat kejadian ini kemarin sore. Seakan telah menjadi dagelan yang tak lucu sama sekali. Kami seperti diminta untuk pasrah menghirup asap-asap sehingga udara kota menjadi bersih, dianggapnya paru-paru kami ini seperti AC dengan teknologi inverter rupanya. Continue reading “Kabut Asap dan Pemerintah yang Tidak Bisa Move On”

Darurat Kabut Asap

Darurat Kabut AsapTerdapat sebuah pepatah yang berbunyi, ‘Pengalaman adalah guru terbaik’. Sayangnya, hal ini tidak dimaknai secara menyuluruh oleh Pemerintah Indonesia. Sejak 18 tahun yang lalu, kebakaran hutan terus terjadi di negara ini ketika musim kemarau tiba. Tetapi negara ini tidak belajar banyak untuk menanggulangi bencana ini agar tak terulang di masa mendatang. Kini kabut asap kembali menghampiri jutaan rakyat yang hidup di Kalimantan dan Sumatera. Beberapa provinsi telah menetapkan siaga darurat kabut asap.

Tahun ini kabut asap diperparah karena terjadinya El Nino yang mengakibatkan musim kemarau jauh lebih panjang. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan fenomena El nino yang terjadi sekarang termasuk empat besar yang terkuat sejak tahun 1950. Dimana, El Nino merupakan fenomena menghangatnya suhu muka laut di Kawasan Pasifik tengah dan timur hingga mencapai dua derajat celcius. Bagi Indonesia dan negara di kawasan equator berdampak pada kekeringan yang panjang, karena awan yang berpotensi hujan bergerak menjauh. Namun hal yang berbeda terjadi di Kawasan Amerika Utara, karena wilayah tersebut berpotensi banjir besar.

El Nino yang terjadi pada saat ini disamping merugikan para petani karena tanaman mereka mengalami puso atau gagal panen hingga mencapai puluhan ribu hektar dan masyarakat kini mengalami kenyataan akan krisis air bersih. Disamping itu, dampak El Nino mengakibatkan kebakaran hutan menjadi lebih masif dan cepat menyebar. Continue reading “Darurat Kabut Asap”

[Cerpen] Hantu Api

hantu api

Setelah hampir satu tahun cerpen ini dibuat dan dipublish di blogm ini, akhirnya cerpen ini di muat di surat kabar harian Mata Banua edisi Minggu, 2 Oktober 2015. Sudah setahun lamanya cerpenku tidak dimuat di surat kabar harian. Semoga saja ini menjadi penyemangat dan pembuka jalan untuk cerpen-cerpen selanjutnya.

***

Di suatu senja yang menghamburkan warna jingga pada tubuh langit. Duduk seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun di bawah pohon kelapa yang membungkuk hormat kepada sang alam. Di sebuah desa yang hanya berpenghuni puluhan kepala keluarga.

Senja adalah batas usaha manusia, di tempat ini, ketika malam datang hanya sepi yang dapat dilihat di gubuk-gubuk kecil yang tak sanggup menopang kemajuan zaman. Daun jerami yang semakin kering tak tertahan jika didekati api, dinding gubuk yang semakin rapuh begitu nikmat jika dilihat rayap. Anak itu masih saja melamun berhadapan dengan senja yang ingin melahap bulat-bulat matahari.

“Nak, cepat masuk. Hari sudah hampir malam. Pamali kalau magrib masih ada di luar rumah,” teriak abah dari pintu depan gubuk. Continue reading “[Cerpen] Hantu Api”