Jalan Panjang Historis Pemindahan Ibu Kota Negara

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Radar Banjarmasin edisi Senin, 1 Agustus 2017. Berisi pandangan saya mengenai pemindahan Ibu Kota Negara yang direncanakan akan berpindah ke Kalimantan, serta rekam sejarah terhadap rencana pemindahan ibu kota pada masa lalu yang mengalami kegagalan atau hanya sebatas wacana.  

***

Image result for animasi pindah ibu kota negara

Masih mampukah Jakarta menjadi ibu kota negara? Itulah pertanyaan yang selama ini menjadi bahan rundingan bersama, jawabannya pun kompak. Jakarta mulai tertatih untuk terus menjadi ibu kota negara sekaligus menjadi pusat ekonomi Indonesia. Jakarta sudah tidak layak, banyak dari kita menjawab demikian.

Segenap permasalahan telah menghinggapi Jakarta saat ini, banjir yang semakin tahun terus terjadi, kemacetan dirasakan masyarakat setiap harinya, kepadatan penduduk yang tinggi, sehingga menciptakan banyak permukiman kumuh yang bersanding dengan hotel dan apartemen mewah, kota yang penuh polusi udara, hingga berbagai kesemerawutan yang membuat manusia Jakarta menjadi extra sabar atau menjadi depresi. Dua pilihan yang harus dipilih mereka.

Padahal sudah diprediksi sebelumnya bahwa Jakarta tak layak menjadi pusat pemerintahan. Bermula dari studi kesehatan di kota-kota pantai Pulau Jawa oleh Hendrik Freek Tillemia yang hasilnya menyimpulkan bahwa kota-kota pelabuhan di Pulau Jawa yang tak sehat menyebabkan orang tidak pernah memilih sebagai kedudukan kantor pemerintah, kantor pusat niaga, industri, dan pusat pendidikan. Continue reading “Jalan Panjang Historis Pemindahan Ibu Kota Negara”

Begitu mudahnya kita terpecah

VIVAnews – Hingga Rabu malam, 29 September 2010, Kota Tarakan masih sepi dan mencekam. Hingga saat ini, warga lebih banyak yang memilih berdiam diri di pengungsian. Akibatnya, jumlah pengungsi pun makin bertambah memasuki hari ketiga pasca kerusuhan. Palang Merah Indonesia (PMI) mencatat terdapat lebih dari 32 ribu warga yang mengungsi di tiga lokasi. Bahkan, PMI menemukan dua lokasi pengungsian baru yang belum terdata jumlahnya.

“Dua lokasi pengungsian baru kami temukan, yaitu di Stadion Ratu Adil dan Gedung Wisma Patra,” ujar Sainal, staf Divisi Penanggulangan Bencana PMI Kota Tarakan, seperti yang termuat dalam laman PMI.

Adapun, rincian jumlah pengungsi di tiga lokasi pengungsian adalah di Lokasi 613 sebanyak 16 ribu pengungsi, di Kodim sebanyak 12 ribu pengungsi, dan di Juata Laut sebanyak empat ribu pengungsi. Pengungsi berasal dari empat kecamatan yang ada, yaitu Kecamatan Tarakan Timur, Tarakan Barat, Tarakan Utara, dan Tarakan Tengah. “Masih ada warga yang terisolir dan belum dapat dievakuasi ke wilayah yang lebih aman. Diperkirakan sekitar empat ribu warga wilayah Karungan, Kecamatan Tarakan Timur masih sulit dievakuasi,” ujar Sainal.

****

Tarakan kini mulai memanas, gue Cuma berharap konflik ini tidak memanjang menjadi konflik horizontal yang pernah terjadi diwilayah Kalimantan beberapa tahun lalu. Tak cukup itu saja diwilayah Ampera, Jakarta terjadi pula konflik antara 2 kubu “Blowfish”. Gue sempet bingung betapa rendahkah tingkat pendidikan penduduk negeri ini, hingga dengan mudah terpancing emosi. Atau memang benarkah kata orang banyak “kemiskinan sangat dekat dengan kejahatan” Dimana sifat-sifat “ketimuran” yang rakyat negeri ini selalu banggakan didepan para turis yang datang?. Continue reading “Begitu mudahnya kita terpecah”