Patung Bekantan sebagai Ikon kota

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Banjarmasin Post edisi Sabtu, 10 Oktober 2015. Pemikiran saya sebagai harapan dari pembuatan Patung Bekantan yang sekarang menjadi ikon Kota Banjarmasin.

***

Patung BekantanBekantan kini menjadi perbincangan hangat di Kalimantan Selatan. Ada apa gerangan ketika masyarakat Kalimantan Selatan sekarang berbondong-bondong untuk berfoto dengan monyet yang memiliki ciri khas berhidung besar ini. Padahal sebelumnya, masyarakat mengalami kesulitan untuk melihat secara langsung perwujudan monyet jenis ini.

Secara fisik, Bekantan merupakan monyet yang memiliki rambut berwarna cokelat kemerahan dan memiliki hidung yang panjang dan besar yang terdapat hanya pada spesies jantan. Fungsi dari hidung besar bekantan masih menjadi misteri, tapi diduga karena hasil dari seleksi alam, yang mana monyet betina lebih memilih jantan yang memiliki hidung yang besar sebagai pasangannya. Karena hidung besar inilah bekantan dijuluki masyarakat Kalimantan Selatan sebagai ‘Monyet Belanda’.

Memiliki nama ilmiah Nasalis larvtus, bekantan memiliki ukuran tubuh sampai 75 cm dengan berat mencapai 24 kg. Monyet ini juga memiliki ciri khas yaitu memiliki perut besar dan buncit. Hal ini karena kebiasaan bekantan yang mengonsumsi banyak makanan. Selain buah dan biji-bijian, bekantan gemar mengonsumsi aneka daun-daunan yang menghasilkan gas pada waktu dicerna. Inilah yang menyebabkan perut bekantan membuncit.  Lanjutkan membaca “Patung Bekantan sebagai Ikon kota”

Kabut Asap dan Kesehatan

Tulisan ini adalah tulisan lama yang gagal dimuat di surat kabar harian. Tulisan ini berisi tentang pendapat saya mengenai kabut asap yang selama ini hadir ketika musim kemarau tiba di Sumatera dan Kalimantan di setiap tahunnya. ini merupakan keluhan saya, mengapa pemerintah tak belajar dari pengalaman akan kejadian kabut asap ini dan membiarkan kami sebagai rakyat menghirup racun yang semakin pekat saja dari hari ke hari.

***

kabut asapKebakaran hutan dan lahan selalu terjadi ketika musim kemarau tiba. Upaya pencegahan dalam menanggulangi bencana ini seakan jalan di tempat. Upaya pemerintah dalam membuat kanal irigasi agar lahan gambut tetap basah dan tidak mengalami amblas yang mengakibatkan kekeringan parah, juga tak banyak memberikan hasil.

Sedangkan upaya pemadaman lewat udara maupun darat serta menciptakan hujan buatan hanyalah upaya penanggulangan yang tak menyentuh akar permasalahan. Titik api terus saja bermunculan dari hari ke hari. Satu harapan berupa penegakan hukum yang tegas kepada pelaku pembakaran hutan dan lahan berupa denda dan pidana tak pula memberikan solusi. Karena pada penerapannya penegakan hukum tak menyentuh hubungan para pelaku dengan korporasi yang kemungkinan besar ada di belakangnya.

Tak mengherankan jika upaya pembukaan lahan dengan pembakaran yang dilakukan korporasi maupun hasil tangan masyarakat awam memberikan hasil yang ekonomis dan efesien. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pembukaan lahan dengan cara dibakar hanya memerlukan biaya sebesar Rp 600.000-800.000 per hektar. Jauh berbeda jika pembukaan lahan tanpa dibakar yang akan memakan biaya hingga Rp 3,5 juta sampai 5 juta.  Lanjutkan membaca “Kabut Asap dan Kesehatan”

Cat 10 – First Day

Ini hari pertama di tahun 2013. Aku berjanji dengan diriku dan kekasihku untuk membiasakan diri menulis setiap harinya. Entah akan jadi apa tulisannya nanti. Tapi yang jelas setiap hari aku harus menulis, apapun itu temanya, apapun itu jadinya.

Bukan bermaksud untuk menghasilkan tulisan yang tak berkualitas. Tapi hanya bermaksud untuk memaksakan diri. Agar diri ini tak manja lagi, agar selalu bisa menghasilkan karya, karena untuk apa hidup jika tak menghasilkan apa-apa.

Biarlah tulisan tak jelas ini menjadi saksi bahwa aku telah berkarya di hari ini. Di hari selasa, 1 Januari 2013.

Aku tak perlu penilaian dari pembaca, aku hanya ingin memberikan pelajaran untuk diriku yang manja. Selamat menjalani hari-hari baru di 2013.

Banjarbaru, 1 Januari 2013

Hidup berawal dari mimpi

Yo’ kujelang matahari dengan segelas teh panas

Di pagi ini ku bebas, karna nggak ada kelas

Di ruang mata ini kamar ini srasa luas

Letih dan lelah juga, lambat lambat terkuras

Teh sudah habis, kerongkongan ku pun puas

Mulai ku tulis semua kehidupan di kertas

Hari hari yang keras, kisah cinta yang pedas

Perasaan yang was was, dan gerakku yang terbatas

Tinta yang keluar dari dalam pena

Berirama dengan apa yang kurasa

Dalam hati ini ingin kuubah semualah

Kehidupan monoton penuh luka putus asa

Tinggalkanlah gengsi, hidup berawal dari mimpi

Gantungkan yang tinggi, agar semua terjadi

Rasakan semua, peduli ‘tuk ironi tragedy

Senang bahagia, hingga kelak kau mati

Yo, ini adalah salah satu lagu kesukaanku. Lagu yang cukup mengena dan menginspirasi hidupku. Tinggalkanlah gengsi hidup berawal dari mimpi. begitulah bondan n’ fade2black berkata. Memang benar, tak jarang kita masih mementingkan gengsi untuk meraih cita-cita. Kita menganggap sesuatu yang banyak orang impikan itulah jalan meraih sukses kita. Lanjutkan membaca “Hidup berawal dari mimpi”