Kabut Asap dan Pemerintah yang Tidak Bisa Move On

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) membentang poster di depan patung 'Selamat Datang' yang telah dipasangi masker pelindung pernapasan saat menggelar aksi Peduli Bencana Kabut Asap di Pekanbaru, Riau, Jumat (4/9)Dulu saya merasa bergembira ketika kabut asap pekat menghampiri kota tempat tinggal saya di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Itu berarti sekolah akan memulangkan kami lebih cepat dari jadwal pulang. Jika situasi makin parah, maka dinas pendidikan setempat akan mengambil kebijakan meliburkan kegiatan belajar mengajar selama satu hingga dua hari. Tentunya tak ada hal yang lebih menyenangkan dibandingkan libur sekolah. Walaupun itu harus ditukar dengan menghirup pekatnya asap yang membuat pusing kepala dan batuk-batuk yang tak berkesudahan.

Itu dulu, ketika lingkar otak saya masih berukuran mini. Sekarang setelah enam tahun lulus dari masa SMA, kejadian kabut asap masih saja menghampiri kota kami setiap musim kemarau tiba. Seolah-olah di Kalimantan telah terjadi tiga tipe musim di setiap tahunnya, musim hujan, musim kemarau dan musim kabut asap.

Sudah puluhan tahun perihal kabut asap ini selalu datang dan pergi. 18 tahun tepatnya dan pemerintah seakan baru melihat kejadian ini kemarin sore. Seakan telah menjadi dagelan yang tak lucu sama sekali. Kami seperti diminta untuk pasrah menghirup asap-asap sehingga udara kota menjadi bersih, dianggapnya paru-paru kami ini seperti AC dengan teknologi inverter rupanya. Continue reading “Kabut Asap dan Pemerintah yang Tidak Bisa Move On”

Iklan

[Cerpen] Lelaki dalam Diam

Pria pendiam

Cerpen ini telah dimuat di surat kabar harian Banjarmasin Post

***

Sudah hampir enam bulan Donny koma di rumah sakit. Stroke yang dialaminya enam bulan lalu, berdampak buruk terhadap kesehatannya bahkan beberapa organ di tubuhnya tak berfungsi lagi. Berbicarapun sulit sekali dilakukan.

“U..um..murku taa aakk..aan bbeer..langsungg lamaa.. Se.. benn.. tar laa..gi”

Donny berbincang dengan istrinya. Isterinya hanya menangis dengan air mata yang membasahi seluruh pipinya, berlinangan.

“Jangan bicara seperti itu pa, kamu pasti akan sembuh lagi kok. Kita akan berumpul lagi dengan anak-anak kita pa. Bermain bersama, pergi ke pantai lagi, bermain pasir sampai senja kehilangan mentari”

“Aa kuu. See llaluu mencinnntaimu, saam paai akuu meeninggal kannmu. Jaa gaa aanakk kitaa, maa ff, aakuu tidd aak bii saa menjaadi ssuu ami yang baikk.”

“Sudah pa, jangan ngomong seperti itu famaly kata orang dulu. Papa istirahat saja dulu.”

Suasana hening setelah percakapan itu. Tak ada bunyi yang terdengar hanya sayup-sayup di luar. Sang isteri yang bernama Shorea  juga turut mengistirahatkan badannya.

Dokter dan suster tak berapa lama datang. Pemeriksaan rutin harian. Shorea terbangun ketika pintu dibuka. Dokter langsung memeriksa pasiennya, sama seperti biasanya. Raut muka dokter berubah, susterpun mengira ada sesuatu. Suasanapun ikut berubah.

“Ibu, Suaminya sejak kapan diam seperti ini” dokter bertanya meyakinkan.

“Sekitar setengah jam saja dok, Saya menyuruh dia untuk beristirahat. Memangnya ada apa dengan suami saya dok?”

“Mohon maaf ibu, bapak sudah menghembuskan nafas terakhir. Nyawanya tak tertolong”

“APA?? maksudnya apa dok? Suami saya ngga mungkin meninggal dia orang yang kuat. Dokter pasti salah periksa, periksa sekali lagi dok. Saya mohon.”

“Mohon maaf ibu, pada kenyataannya memang demikian. Saya turut berduka cita sedalam-dalamnya. Bapak memang orang kuat, sudah enam bulan bapak menahan rasa sakit itu. sekarang tuhan telah mencabut sakitnya dan mengajaknya bersama di sisi-Nya.”

“Tapi dok, ini tidak mungkin. Anak-anaknya masih membutuhkannya.” Shorea menangis tak henti-hentinya.

“Mohon maaf bu, Saya mohon pamit”

Continue reading “[Cerpen] Lelaki dalam Diam”

Bergerak berkali-kali

Liburan kali ini gue emang ngga ada kerjaan sama sekali. Bangun tidur nonton tv kaga mandi, badan bau terasi, segitu-gitu aja tiap hari. Lama-lama gue pun bosan sendiri, tapi mau gimana lagi, beginilah nasib mahasiswa yang suka menyendiri. Kaga punya banyak teman apalagi relasi.

Tiba-tiba terlintas dipikiran gue, kata-kata yang pernah diucapkan sahabat gue waktu SMA. Isinya “bergerak berkali-kali karena hidup hanya sekali” sebuah ucapan simple menurut gue waktu itu, tapi setelah gue sadari ucupan itu memiliki sarat arti.

Iya, dengan bergerak kita mampu menantang hidup yang keras ini, dengan bergerak kita mampu merampok segala pengalaman yang ada, dengan bergerak gue mengetahui segala yang ada disini, dan dengan bergerak gue menunjukkan eksistensi diri.

Coba kita bayangkan jika ada seseorang yang tercebur dilaut lalu dia hanya diam, pasti dia akan tenggelam. Jika ada orang yang nyebrang jalan tapi dia tidak bergerak, pasti dia akan ditabrak. Seandainya pesawat hanya diam, pasti pesawat itu akan jatuh.

Continue reading “Bergerak berkali-kali”