Perkara Menulis yang Tak Menarik Lagi  

 

writingEntah sejak kapan mulanya, menulis menjadi kegiatan yang tak semenarik dulu lagi. Dulu pada awal-awal menulis di blog ini, kegiatan ini berhasil mencuri perhatian dan waktu saya. Waktu berjam-jam yang saya habiskan, melahirkan kepuasaan ketika tulisan itu selesai. Bertemu dengan tanda titik penghabisan. Jangan bertanya mengenai kualitas tulisan, walaupun usia saya menginjak dua puluh, tetapi isi tulisan masih picisan. Terkadang merupakan hasil kutip copypaste sana sini. Keren bagi saya waktu itu jika isinya memotivasi orang lain atau jika tidak berisi kutipan dari tokoh-tokoh terkenal.

Tetapi dari semua itu, saya menikmatinya. Saya mencandui menulis walaupun tulisan saya begitu menyedihkannya. Bertahan di depan laptop dalam waktu yang lama. Pada masa itu saya menggandrungi membaca novel-novel best-seller waktu itu. Hal itu tidak menghasilkan feedback yang berarti bagi saya. Pengetahuan saya tak berkembang, sehingga tulisan saya tetap saja dangkal. Tetapi saya menikmatinya.

Pada awalnya saya memberanikan diri untuk mengirimkan cerpen saya ke koran harian. Ketika cerpen itu berhasil diterbitkan, betapa bahagianya saat itu. Saya lantas terus saja menulis cerpen, mengirimkannya lagi, sering kali gagal terbit, tetapi saya terus menulis lagi dan lagi. Saya melihat geliat semangat ketika menulis cerpen. Sampai akhirnya pada waktu cerpen saya tidak lagi terbit di koran. Saya merasa jatuh. Mungkinkah saya tak memiliki bakat untuk menulis fiksi. Ataukah kemampuan saya menurun secara drastis. Continue reading “Perkara Menulis yang Tak Menarik Lagi  “

Iklan