Transportasi Online, Apakah Perlu Dilarang?

Tulisan ini telah dimuat di media online jejakrekam.com Kamis, tanggal 28 Juni 2018, tulisan-tulisan lama saya yang gagal termuat dalam harian cetak saya putuskan untuk mengirimkannya ke media online, karena saya menginginkan tulisan saya ingin tetap dibaca oleh banyak orang dan tentunya sembari terus melakukan perbaikan. 
transpol***

Keberadaan transportasi berbasis online masih mengalami penolakan keras di berbagai daerah di Indonesia, tak terkecuali di daerah kita.  Pada awal Januari ini terjadi kejadian yang  terekam dalam video dan viral di media sosial, memperlihatkan sekelompok orang sedang mengejar seorang yang diduga pengemudi taksi online di area sekitar Bandara Syamsuddin Noor.

Walaupun sebelumnya telah terjadi kesepakatan bahwa taksi online boleh mengantarkan penumpang ke bandara, tetapi tak boleh mengangkut penumpang dari bandara. Tetapi tetap saja para pengemudi taksi konvensional masih waspada terhadap oknum pengemudi taksi online yang nakal dan nekat untuk menarik penumpang. Ditambah lagi, penghasilan mereka yang terus menurun semenjak hadirnya angkutan online ini.

Hal inilah yang mendasari kejadian beberapa hari yang lalu, sikap curiga para sopir taksi ini membuat mereka terkadang tidak rasional dalam bertindak. Melihat gelagat pengemudi mobil yang mencurigakan, mereka langsung mengambil tindakan yang cenderung represif. Pada akhirnya, seorang yang mereka curigai, mereka kejar seperti ingin menghakimi pelaku kriminal, padahal ia hanya ingin menjemput keluarganya. Akibatnya banyak komentar di media sosial yang takut dikira sopir taksi online ketika menjemput kerabat atau keluarga di bandara. Continue reading “Transportasi Online, Apakah Perlu Dilarang?”

Iklan

Menyongsong Metropolitan Baru, Banjar Bakula

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Radar Banjarmasin edisi Rabu, 22 November 2017. Berisi pandangan saya mengenai rencana pembangunan metropolitan baru ke sembilan di Kalimantan Selatan yang bernama BanjarBakula. 

***

Kota metropolitanKota Metropolitan Banjar Bakula telah menjadi pembicaraan hangat beberapa tahun terakhir. Berbagai infrastruktur telah mulai dibangun untuk menunjang kawasan strategis ini nantinya.

Isu kota metropolitan Banjar Bakula ini kembali menghangat ketika diangkat menjadi tema Seminar Nasional ke III Teknik Lingkungan dengan tema Menyongsong Metro City ke sembilan Indonesia, Sabtu (4/11) yang lalu. Setidaknya banyak yang didapatkan atas berkumpulannya berbagai stakeholder di acara ini. Seperti perkembangan infrastruktur yang terbangun dan potensi yang dapat diraih masyarakat di Kalimantan Selatan atas lahirnya kota metropolitan ke sembilan di Indonesia ini.

Kawasan Banjar Bakula sendiri telah tertuang dalam PP No. 13 Tahun 2017 tentang Perubahan atas  Peraturan Pemerintah No 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional pada Lampiran X Kawasan Perkotaan Metropolitan Banjarbakula ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional.

Dalama hal ini kota Banjar Bakula meliputi kurang lebih 10% dari luas total wilayah Kalimantan Selatan dan menampung sekitar 52,73% jumlah penduduk Kalimantan Selatan. Pembentukan kota Banjar Bakula ini sebagai jawaban untuk mengurangi kepadatan penduduk di Kota Banjarmasin dan berupaya untuk menumbuhkan pusat-pusat ekonomi baru dengan sesuai fungsi dan perannya. Seperti pengembangan industri, peternakan, pertanian, pariwisata, hiburan, dan pendidikan  Continue reading “Menyongsong Metropolitan Baru, Banjar Bakula”

Rendahnya Minat Baca dan Tantangan bagi Perpustakaan

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Radar Banjarmasin edisi Senin, 19 Mei 2017. Merupakan pandangan saya mengenai rendahnya minat baca masyarakat dan meningkatnya penggunaan sosial media, sehingga berpengaruh pada suburnya berita Hoax di negeri ini. Di samping itu pengaruh perpustakaan untuk meningkatkan minat baca generasi muda saat ini. 

***

Rendahnya minat baca bagi generasi saat ini merupakan sebuah permasalahan bersama. Hal ini ditambah dengan adanya ledakan informasi yang berasal dari dunia maya. Kita dengan mudah menelan informasi tanpa memeriksanya dulu, berlomba menyebarkan informasi tersebut agar dianggap terdepan dalam memahami segala sesuatu. Sayangnya, informasi yang disebarkan adalah informasi yang tidak benar atau hoax.

Berdasarkan hasil suminat bacarvei UNESCO pada tahun 2011, tingkat minat baca masyarakat hanya 0,001. Hal ini berarti hanya ada satu dari seribu orang yang memiliki minat serius dalam membaca. Mengutip pendapat dari seorang esais, Zen RS. “Bahwa yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah: meningkatnya minat berkomentar.”

Maka telah teranglah kondisi saat ini, ketika masing-masing diri kita begitu cerewetnya dalam menggunakan sosial media. Hal yang dikhawatirkan adalah kita memberikan informasi yang salah di media sosial, tetapi kita tidak merasa bahwa itu salah. Maka hasilnya akan tercipta kelompok-kelompok yang rawan sekali untuk bergesekan.

Ketika ada berita yang memojokkan kelompok tertentu, maka dengan cepat kelompok lain menyebarkan berita tersebut, menambahkan dengan caption yang provokatif. Maka tak heran kini media sosial tak ubahnya panggung bagi debat kusir yang tak berkesudahan.

Mungkin banarlah pribahasa ‘Tong kosong, nyaring bunyinya’ atau ‘seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk’. Karena riuhnya dunia maya merupakan cerminan pengetahuan yang dimiliki, kebijaksanaan yang ditanggalkan dan ego yang merasa paling benar. Continue reading “Rendahnya Minat Baca dan Tantangan bagi Perpustakaan”

Dilema Transportasi Berbasis Online

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Banjarmasin Post edisi Sabtu, 18 Maret 2017. Merupakan pandangan saya mengenai hadirnya transportasi berbasis online yang hadir beberapa tahun terakhir, dari kelebihan, potensi, dan rivalitas usaha, serta harapan permerintah untuk menjadi penengah dalam masalah ini.

*** 

Hadirnya transportasi berbasis online (TBO) beberapa tahun terakhir memberikan warna baru dalam peta transportasi di kota-kota besar Indonesia. Tidak bisa dipungkiri, berkembang pesatnya TBO merupakan jawaban atas ketidakmampuan pemerintah untuk menyediakan transportasi publik yang layak, murah, dan nyaman bagi masyarakat.

transportasi onlineKondisi ini terjadi di semua kota besar, transportasi publik yang dirancang dengan dana sangat besar, tidak bisa berbuat banyak ketika harus berhadapan dengan TBO yang dihadirkan oleh para orang kreatif yang menawarkan kemudahan dan keterjangkauan harga. Cukup dengan menggunakan smartphone yang hampir dimiliki semua lapisan masyarakat, kebutuhan moda transportasi untuk berpergian maupun mengantarkan barang tiba dengan cepat hanya berbilang menit.

Kehadiran TBO merupakan sebuah bentuk creative disruption. Disruption dalam ini merupakan  perubahan akibat dari trend lama yang terputus atau yang tak terpakai lagi karena dianggap telah usang. Sehingga terciptalah sebuah trend baru, yang datang seiring dengan kamajuan teknologi, arus globalisasi, dan keinginan manusia untuk membuat segala hal menjadi lebih praktis dan efesien.

Sehingga akibatnya, segala hal yang bersifat konvensional dan tak mampu mengikuti inovasi yang terjadi saat ini, maka tak lama lagi akan ditinggalkan dan berangsur akan tumbang. Setidaknya ada banyak kelebihan yang dimiliki TBO saat ini: Continue reading “Dilema Transportasi Berbasis Online”

Kemacetan dan Kesalahan Kita  

 

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Radar Banjarmasin edisi Senin, 6 Maret 2017. Merupakan pandangan saya mengenai kemacetan yang mulai menghampiri di Kota Banjarmasin yang sedikit atau banyak merupakan kesalahan kita semua dalam berprilaku berkendaraan.

***

Saat ini Kota Banjarmasin memiliki gejala yang hampir sama dengan permasalahan di kota-kota besar di Pulau Jawa, yaitu; Kemacetan. Secara logika dari hari ke hari jumlah kendaraan di kota ini terus bertambah, sedangkan penjang dan lebar ruas jalan tidak mengalami peningkatan untuk mengimbanginya. Maka kemacetan merupakan keniscayaan yang akan kita alami semua. Cepat atau lambat, jika tidak dilakukan penanganan yang baik maka warga Kota Banjarmasin akan merasakan stres yang sama dengan yang dialami oleh warga Kota Jakarta.kamecetan-kota-karikatur

Berbicara tentang masalah kemacetan, maka sumber dan solusinya adalah diri kita. Ya, kita, yang tanpa sadar merupakan akar dari permasalahan kemacetan. Karena kitalah pengguna ruas jalan, yang menggunakan kendaraan bermotor di setiap harinya. Tidak ada yang mesti disalahkan kecuali sebelumnya menyalahkan diri sendiri.

Saat ini mungkin kita senantiasa mengeluh, karena waktu tempuh untuk sampai tujuan lebih lama dibandingkan dahulu, geram ketika kendaraan memotong jalur tiba-tiba guna menghindari kendaraan di depan untuk belok kanan, mengumpat ketika kendaraan di depan belum jalan, padahal lampu hijau telah menyala. Kita lah yang acap kali menumpahkan amarah di jalan, ketika banyak hal yang tak terduga terjadi di sana.

Selanjutnya kritik kepada pemerintah diberikan, dengan alasan tak mampu mengurus kebijakan transportasi atau tak mampu membatasi keluarnya kendaraan baru. Tanpa disadari kita adalah manusia yang tak pernah merasa bersalah. Menyalahkan pemerintah akan macetnya Kota Banjarmasin. Tetapi, tanpa berpikir panjang untuk membeli mobil murah, alasannya biar tidak kehujanan, biar terlihat keren atau agar terlihat ‘mampu’. Continue reading “Kemacetan dan Kesalahan Kita  “

City Branding

Tulisan ini telah dimuat di media online jejakrekam.com tanggal 23 Juni 2018, tulisan-tulisan lama saya yang gagal termuat dalam harian cetak saya putuskan untuk mengirimkannya ke media online, karena saya menginginkan tulisan saya ingin tetap dibaca oleh banyak orang dan tentunya sembari terus melakukan perbaikan. 

***

city-branding-okKetika melewati Kabupaten Tapin, memasuki kawasan Rantau baru, kita mungkin tergerak untuk melihat gapura yang bertuliskan Kota Serambi Madinah. Hal ini mengusik rasa penasaran, dikesempatan luang penulis mencari literatur mengenai dasar penyebutan tersebut. Sangat minim artikel yang membahas ini di dunia maya, tetapi menurut salah satu artikel, dasar penyebutan tersebut dikarenakan Tapin adalah kabupaten yang terkenal menghasilkan banyak datu-datu (Ulama), para datu tersebut lahir, bermukim, dan mengajarkan agama Islam di wilayah tersebut.

Di samping itu terdapat perayaan-perayaan Islam yang unik dan menonjol di kawasan ini seperti, baayun anak serta kehidupan agamis yang dominan di kehidupan sehari-hari. Hal itulah yang mendasari kabupaten ini membentuk sebuah kawasan baru yang diberi nama Rantau Baru dengan konsep perancangan Kota Islam dengan predikat ‘Serambi Madinah’.

Hal yang patut diapresiasi untuk Kota Rantau Baru yang mem-branding-kan dirinya sebagai Kota Serambi Madinah. Tetapi apakah dengan melakukan hal ini akan turut membantu kemajuan kota? Continue reading “City Branding”

Mengantisipasi Macetnya Kota Banjarmasin

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Banjarmasin Post edisi Sabtu, 28 Januari 2017. Merupakan pandangan saya mengenai kemacetan yang mulai menghampiri di Kota Banjarmaasin dan upaya yang mungkin dapat diambil oleh pemerintah untuk mengantisipasinya. 

***

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”

macet-banjarmasin-2Kalimat di atas mungkin tidak asing lagi di telinga kita. Merupakan kalimat satir yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma akibat melihat kemacetan di Jakarta yang kini sudah tidak manusiawi lagi.

Berbicara soal kemacetan di kota-kota besar, jawaban masalah tersebut sebenarnya sangat sederhana. Logikanya seperti ini, jika ingin memiliki rumah yang lapang, maka bangun rumah yang besar atau kurangi perabotan rumah yang tidak terlalu bermanfaat. Maka langkah yang diambil adalah dengan membangun banyak jalan atau mengurangi jumlah kendaraan di jalan. Ini langkah yang sangat efektif tetapi sulit untuk diimplementasikan.

Pemerintah Kota Banjarmasin saat ini berencana untuk membangun banyak flyover di berbagai ruas jalan. Tetapi harus berapa banyak flyover yang dibangun agar Banjarmasin bebas macet? Begitu pula dengan usaha pelebaran ruas jalan dan pembangunan ruas jalan untuk menyambungkan daerah yang belum terhubung. Berapa nominal yang harus dikeluarkan pemerintah untuk ganti rugi lahan warga, pembangunan dan perbaikan jalan? Apakah lahan di Kota Banjarmasin tidak terbatas sehingga dapat membangun akses jalan kapan saja? Continue reading “Mengantisipasi Macetnya Kota Banjarmasin”