Menyongsong Metropolitan Baru, Banjar Bakula

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Radar Banjarmasin edisi Rabu, 22 November 2017. Berisi pandangan saya mengenai rencana pembangunan metropolitan baru ke sembilan di Kalimantan Selatan yang bernama BanjarBakula. 

***

Kota metropolitanKota Metropolitan Banjar Bakula telah menjadi pembicaraan hangat beberapa tahun terakhir. Berbagai infrastruktur telah mulai dibangun untuk menunjang kawasan strategis ini nantinya.

Isu kota metropolitan Banjar Bakula ini kembali menghangat ketika diangkat menjadi tema Seminar Nasional ke III Teknik Lingkungan dengan tema Menyongsong Metro City ke sembilan Indonesia, Sabtu (4/11) yang lalu. Setidaknya banyak yang didapatkan atas berkumpulannya berbagai stakeholder di acara ini. Seperti perkembangan infrastruktur yang terbangun dan potensi yang dapat diraih masyarakat di Kalimantan Selatan atas lahirnya kota metropolitan ke sembilan di Indonesia ini.

Kawasan Banjar Bakula sendiri telah tertuang dalam PP No. 13 Tahun 2017 tentang Perubahan atas  Peraturan Pemerintah No 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional pada Lampiran X Kawasan Perkotaan Metropolitan Banjarbakula ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional.

Dalama hal ini kota Banjar Bakula meliputi kurang lebih 10% dari luas total wilayah Kalimantan Selatan dan menampung sekitar 52,73% jumlah penduduk Kalimantan Selatan. Pembentukan kota Banjar Bakula ini sebagai jawaban untuk mengurangi kepadatan penduduk di Kota Banjarmasin dan berupaya untuk menumbuhkan pusat-pusat ekonomi baru dengan sesuai fungsi dan perannya. Seperti pengembangan industri, peternakan, pertanian, pariwisata, hiburan, dan pendidikan  Continue reading “Menyongsong Metropolitan Baru, Banjar Bakula”

Iklan

Mengantisipasi Macetnya Kota Banjarmasin

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Banjarmasin Post edisi Sabtu, 28 Januari 2017. Merupakan pandangan saya mengenai kemacetan yang mulai menghampiri di Kota Banjarmaasin dan upaya yang mungkin dapat diambil oleh pemerintah untuk mengantisipasinya. 

***

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”

macet-banjarmasin-2Kalimat di atas mungkin tidak asing lagi di telinga kita. Merupakan kalimat satir yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma akibat melihat kemacetan di Jakarta yang kini sudah tidak manusiawi lagi.

Berbicara soal kemacetan di kota-kota besar, jawaban masalah tersebut sebenarnya sangat sederhana. Logikanya seperti ini, jika ingin memiliki rumah yang lapang, maka bangun rumah yang besar atau kurangi perabotan rumah yang tidak terlalu bermanfaat. Maka langkah yang diambil adalah dengan membangun banyak jalan atau mengurangi jumlah kendaraan di jalan. Ini langkah yang sangat efektif tetapi sulit untuk diimplementasikan.

Pemerintah Kota Banjarmasin saat ini berencana untuk membangun banyak flyover di berbagai ruas jalan. Tetapi harus berapa banyak flyover yang dibangun agar Banjarmasin bebas macet? Begitu pula dengan usaha pelebaran ruas jalan dan pembangunan ruas jalan untuk menyambungkan daerah yang belum terhubung. Berapa nominal yang harus dikeluarkan pemerintah untuk ganti rugi lahan warga, pembangunan dan perbaikan jalan? Apakah lahan di Kota Banjarmasin tidak terbatas sehingga dapat membangun akses jalan kapan saja? Continue reading “Mengantisipasi Macetnya Kota Banjarmasin”

TPA Regional dan Sindrom Nimby

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Media Kalimantan edisi Minggu, 24 April 2016. Merupakan sebuah pandangan terhadap isu penolakan pembangunan TPA Regional di Banjarbaru, yang mana dalam hal ini isu penolakan itu adalah hal yang lumrah, karena menyangkut psikologis manusia itu sendiri.

***

tpa regional

Sampah merupakan sumber masalah yang harus dihadapi oleh setiap kota di dunia. Bagaimana pun juga manusia yang beraktifitas sehari-hari akan menghasilkan sampah. Di dalam pola pikir kita semua, sampah merupakan hal yang menjijikan, kotor dan mesti dibuang jauh-jauh.

Maka tak heran beberapa dari kita yang kurang memiliki kesadaran, ketika menghasilkan sampah tanpa berpikir panjang membuangnya ke aliran sungai yang secara kumulatif nantinya menyumbat aliran tersebut dan berpotensi terjadinya banjir. Atau ketika sampah tersebut terus mengikuti aliran air akan bermuara di laut dan menjadi sampah laut yang kini menjadi masalah global.

Contoh sederhana pula ketika berpergian dengan mobil, dengan alasan tidak ada tempat sampah di dalam mobil, kita dengan mudahnya membuang bungkus makanan tersebut melalui jendela, tak perduli sampah bungkus makanan itu mengotori jalan atau masuk ke dalam selokan.

Kondisi inilah yang sering kali terjadi pada diri kita semua, menginginkan daerah sekitar kita bersih, rapi dan wangi, tetapi tidak menghiraukan kondisi di daerah lain. Hal ini lazim disebut sebagai sindrom nimby (not in my backyard) atau yang berarti asal jangan di halaman belakang rumah saya, asal jangan di sekitar saya. Intinya, asal sampah itu sudah tidak ada di sekitar kita maka mau kemana sampah itu akhirnya, bukan lagi menjadi urusan kita.

Sindrom nimby yang acap kali menjangkiti diri merupakan bentuk egois kita sebagai manusia. Dan sindrom inilah yang sering kali menghambat pembangunan fasilitas umum yang terjadi di daerah ini. Continue reading “TPA Regional dan Sindrom Nimby”