Kemacetan dan Kesalahan Kita  

 

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Radar Banjarmasin edisi Senin, 6 Maret 2017. Merupakan pandangan saya mengenai kemacetan yang mulai menghampiri di Kota Banjarmasin yang sedikit atau banyak merupakan kesalahan kita semua dalam berprilaku berkendaraan.

***

Saat ini Kota Banjarmasin memiliki gejala yang hampir sama dengan permasalahan di kota-kota besar di Pulau Jawa, yaitu; Kemacetan. Secara logika dari hari ke hari jumlah kendaraan di kota ini terus bertambah, sedangkan penjang dan lebar ruas jalan tidak mengalami peningkatan untuk mengimbanginya. Maka kemacetan merupakan keniscayaan yang akan kita alami semua. Cepat atau lambat, jika tidak dilakukan penanganan yang baik maka warga Kota Banjarmasin akan merasakan stres yang sama dengan yang dialami oleh warga Kota Jakarta.kamecetan-kota-karikatur

Berbicara tentang masalah kemacetan, maka sumber dan solusinya adalah diri kita. Ya, kita, yang tanpa sadar merupakan akar dari permasalahan kemacetan. Karena kitalah pengguna ruas jalan, yang menggunakan kendaraan bermotor di setiap harinya. Tidak ada yang mesti disalahkan kecuali sebelumnya menyalahkan diri sendiri.

Saat ini mungkin kita senantiasa mengeluh, karena waktu tempuh untuk sampai tujuan lebih lama dibandingkan dahulu, geram ketika kendaraan memotong jalur tiba-tiba guna menghindari kendaraan di depan untuk belok kanan, mengumpat ketika kendaraan di depan belum jalan, padahal lampu hijau telah menyala. Kita lah yang acap kali menumpahkan amarah di jalan, ketika banyak hal yang tak terduga terjadi di sana.

Selanjutnya kritik kepada pemerintah diberikan, dengan alasan tak mampu mengurus kebijakan transportasi atau tak mampu membatasi keluarnya kendaraan baru. Tanpa disadari kita adalah manusia yang tak pernah merasa bersalah. Menyalahkan pemerintah akan macetnya Kota Banjarmasin. Tetapi, tanpa berpikir panjang untuk membeli mobil murah, alasannya biar tidak kehujanan, biar terlihat keren atau agar terlihat ‘mampu’. Continue reading “Kemacetan dan Kesalahan Kita  “

Perkara Menulis yang Tak Menarik Lagi  

 

writingEntah sejak kapan mulanya, menulis menjadi kegiatan yang tak semenarik dulu lagi. Dulu pada awal-awal menulis di blog ini, kegiatan ini berhasil mencuri perhatian dan waktu saya. Waktu berjam-jam yang saya habiskan, melahirkan kepuasaan ketika tulisan itu selesai. Bertemu dengan tanda titik penghabisan. Jangan bertanya mengenai kualitas tulisan, walaupun usia saya menginjak dua puluh, tetapi isi tulisan masih picisan. Terkadang merupakan hasil kutip copypaste sana sini. Keren bagi saya waktu itu jika isinya memotivasi orang lain atau jika tidak berisi kutipan dari tokoh-tokoh terkenal.

Tetapi dari semua itu, saya menikmatinya. Saya mencandui menulis walaupun tulisan saya begitu menyedihkannya. Bertahan di depan laptop dalam waktu yang lama. Pada masa itu saya menggandrungi membaca novel-novel best-seller waktu itu. Hal itu tidak menghasilkan feedback yang berarti bagi saya. Pengetahuan saya tak berkembang, sehingga tulisan saya tetap saja dangkal. Tetapi saya menikmatinya.

Pada awalnya saya memberanikan diri untuk mengirimkan cerpen saya ke koran harian. Ketika cerpen itu berhasil diterbitkan, betapa bahagianya saat itu. Saya lantas terus saja menulis cerpen, mengirimkannya lagi, sering kali gagal terbit, tetapi saya terus menulis lagi dan lagi. Saya melihat geliat semangat ketika menulis cerpen. Sampai akhirnya pada waktu cerpen saya tidak lagi terbit di koran. Saya merasa jatuh. Mungkinkah saya tak memiliki bakat untuk menulis fiksi. Ataukah kemampuan saya menurun secara drastis. Continue reading “Perkara Menulis yang Tak Menarik Lagi  “

Mengantisipasi Macetnya Kota Banjarmasin

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Banjarmasin Post edisi Sabtu, 28 Januari 2017. Merupakan pandangan saya mengenai kemacetan yang mulai menghampiri di Kota Banjarmaasin dan upaya yang mungkin dapat diambil oleh pemerintah untuk mengantisipasinya. 

***

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”

macet-banjarmasin-2Kalimat di atas mungkin tidak asing lagi di telinga kita. Merupakan kalimat satir yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma akibat melihat kemacetan di Jakarta yang kini sudah tidak manusiawi lagi.

Berbicara soal kemacetan di kota-kota besar, jawaban masalah tersebut sebenarnya sangat sederhana. Logikanya seperti ini, jika ingin memiliki rumah yang lapang, maka bangun rumah yang besar atau kurangi perabotan rumah yang tidak terlalu bermanfaat. Maka langkah yang diambil adalah dengan membangun banyak jalan atau mengurangi jumlah kendaraan di jalan. Ini langkah yang sangat efektif tetapi sulit untuk diimplementasikan.

Pemerintah Kota Banjarmasin saat ini berencana untuk membangun banyak flyover di berbagai ruas jalan. Tetapi harus berapa banyak flyover yang dibangun agar Banjarmasin bebas macet? Begitu pula dengan usaha pelebaran ruas jalan dan pembangunan ruas jalan untuk menyambungkan daerah yang belum terhubung. Berapa nominal yang harus dikeluarkan pemerintah untuk ganti rugi lahan warga, pembangunan dan perbaikan jalan? Apakah lahan di Kota Banjarmasin tidak terbatas sehingga dapat membangun akses jalan kapan saja? Continue reading “Mengantisipasi Macetnya Kota Banjarmasin”

Kebun Raya Banua dan Kepedulian untuk Masa Depan  

 

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Radar Banjarmasin edisi Rabu, 11 Januari 2017. Merupakan pandangan saya mengenai pembangunan Kebun Raya Banua oleh pemerintah daerah yang bermanfaat sebagai pusat penelitian tanaman, sarana konservasi tumbuhan langka, dan sebagai sarana rekreasi serta edukasi kepada masyarakat di Kalimantan Selatan. 

***

kebun-raya-banuaPada tahun 1817 di Kota Buitenzorg, Reindwardt mengusulkan untuk membangun kebun botani kepada Gubernur Jenderal G.A.G.P Baron Van Der Cappellen, dan usul itu pun segera disetujui, akhirnya kebun botani tersebut diberi nama ‘s Lands Plantentuin te Buitenzorg. Sebagai langkah awal pembangunannya ditandai dengan menancapakan ayunan cangkul pertama di Bumi Pajajaran tersebut.

Pembangunan kebun botani dipimpin langsung oleh Reinwardt dan dibantu oleh James Hooper dan W. Kent, seorang kurator kebun botani yang terkenal di Richmond, Inggris. Di sinilah tonggak awal pendirian kebun botani di kawasan Hindia Belanda. Kota Buitenzorg dalam bahasa belanda berarti ‘tak ada yang perlu dikhawatirkan’ menjadi kawasan yang  penuh dengan ketenangan, bebas dari kesumpekan dan tempat untuk beristirahat sejenak dari Kota Batavia yang ramai, sesak dan kacau khas permasalahan kota besar pada saat itu.

Wilayah Buitenzorg kini berubah nama menjadi Kota Bogor dan kebun botani pertama tersebut kini diberi nama Kebun Raya Bogor. Sekitar 47 hektar tanah di sekitar Istana Bogor dijadikan lahan pertama untuk kebun botani. Reinwardt menjadi pengarah pertamanya dari 1817 sampai 1822. Kesempatan ini digunakannya untuk mengumpulkan tanaman dan benih dari bagian lain Nusantara. Dengan segera Bogor menjadi pusat pengembangan pertanian dan hortikultura di Indonesia. Pada masa itu diperkirakan sekitar 900 tanaman hidup ditanam di kebun tersebut. dan kebun botani ini menjadi kebun botani terbesar se Asia Tenggara pada saat itu. Continue reading “Kebun Raya Banua dan Kepedulian untuk Masa Depan  “

Salahkah Tenaga Kerja Asing?

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Banjarmasin Post edisi Sabtu, 7 Januari 2017. Merupakan pandangan saya mengenai isu tenaga kerja asing illegal di Kalimantan Selatan dan isu mengenai masuknya 10 juta tenaga asing asal Tiongkok ke Indonesia.

***

tenaga-kerja-asingMasyarakat daerah ini mulai resah mengenai isu hadirnya tenaga kerja asing illegal yang ditengarai bekerja di suatu perusahaan baru di Kalimantan Selatan. Seperti percik api dalam tumpukan jerami, berita ini semakin memanas karena diperkuat dengan munculnya isu 10 juta tenaga kerja dari Tiongkok yang datang ke Indonesia.

Isu tersebut tentunya langsung dibantah oleh Menteri Ketenagakerjaan yang menyatakan bahwa hal tersebut hanyalah fitnah belaka, sebuah berita bohong yang tak jelas asal muasalnya. Menurutnya, tenaga kerja asing asal Tiongkok sampai November 2016 berjumlah 21.271 orang. Tentunya angka ini terbilang kecil dibandingkan tenaga kerja Indonesia yang berada di Hongkong sekitar 153 ribu atau Taiwan sekitar 200 ribu.

Walaupun penulis menyadari angka 21 ribu orang tenaga kerja asing Tiongkok masih disangsikan, karena mungkin saja data tersebut merujuk pada jumlah ijin yang dikeluarkan oleh instansi tersebut. Sedangkan jumlah pasti yang terdapat di lapangan tentunya akan lebih besar. Hal ini adalah fenomena gunung es, karena sampai saat ini mekanisme dalam pengawasan dan pendataan tenaga kerja asing masih belum sistematis dan komprehensif.

Akan tetapi sebaiknya kita menghindari prasangka mengenai angka 10 juta tenaga kerja asing Tiongkok, karena disamping jumlah itu terlalu besar dan kebenaran mengenai kabar tersebut tidak ada pihak yang mampu membuktikannya. Beberapa pihak hanya besandarkan fakta bahwa proyek-proyek besar infrastruktur di Indonesia saat ini berasal dari investasi Tiongkok. Continue reading “Salahkah Tenaga Kerja Asing?”

Racun Munir dan Pelanggaran HAM

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Banjarmasin Post edisi Sabtu, 15 Oktober 2016. Merupakan pandangan saya mengenai perkembangan kasus pembunuhan Munir dan komitmen negara untuk menegakkan Hak Asasi Manusia.

***

racun-munirKasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin seperti drama yang tak berkesudahan. Misteri siapa yang memasukan sianida ke dalam es Kopi Vietnam tak terjawab sampai saat ini, setelah puluhan kali sidang disiarkan secara live dan menghadirkan berbagai saksi ahli dari dalam dan luar negeri. Terdakwa Jessica terlihat begitu lelah menghadiri sidang yang memakan waktu hingga berjam-jam lamanya dan pendapat para saksi ahli hanya berputar-putar pada suatu fakta yang bahkan bertolak belakang menurut versi saksi ahli lainnya.

Sehingga terciptalah drama persidangan yang saat ini terjadi. Masyarakat yang dulunya antusias mengikuti jalannya kasus ini, karena hadirnya saksi ahli memberikan informasi-informasi saintis dan modern yang jarang sekali terdengar oleh orang awam. Istilah dari berbagai disiplin ilmu keluar di persidangan ini, seperti hukum, patologi, toksikologi, psikologi, forensik, dan kriminalogi hadir memberikan wawasan baru kepada masyarakat yang menontonnya. Tetapi kini masyarkat mulai jengah dengan persidangan yang tak menemukan titik terang.

Kasus pembunuhan dengan menggunakan racun, bukan baru ini saja terjadi. Sebelumnya yang terkenal terjadi 12 tahun silam dan sayangnya kasus tersebut tak berakhir dengan tuntas. Munir Said Thalib seorang aktivis hak asasi manusia (HAM) harus meninggal dunia di dalam perjalanannya menuju Belanda menggunakan pesawat Garuda di ketinggian 40 ribu kaki akibat dari konsentrasi racun arsenik yang masuk ke dalam tubuh sebanyak 0,460 miligram per liter dan menyebabkan blokade reaksi detosifikasi. Janji presiden SBY di awal masa jabatannya menjadikan kasus Munir sebagai Test of Our History juga belum terwujud bahkan sampai masa jabatan kedua beliau berakhir. Continue reading “Racun Munir dan Pelanggaran HAM”