Perkara Menulis yang Tak Menarik Lagi  

 

writingEntah sejak kapan mulanya, menulis menjadi kegiatan yang tak semenarik dulu lagi. Dulu pada awal-awal menulis di blog ini, kegiatan ini berhasil mencuri perhatian dan waktu saya. Waktu berjam-jam yang saya habiskan, melahirkan kepuasaan ketika tulisan itu selesai. Bertemu dengan tanda titik penghabisan. Jangan bertanya mengenai kualitas tulisan, walaupun usia saya menginjak dua puluh, tetapi isi tulisan masih picisan. Terkadang merupakan hasil kutip copypaste sana sini. Keren bagi saya waktu itu jika isinya memotivasi orang lain atau jika tidak berisi kutipan dari tokoh-tokoh terkenal.

Tetapi dari semua itu, saya menikmatinya. Saya mencandui menulis walaupun tulisan saya begitu menyedihkannya. Bertahan di depan laptop dalam waktu yang lama. Pada masa itu saya menggandrungi membaca novel-novel best-seller waktu itu. Hal itu tidak menghasilkan feedback yang berarti bagi saya. Pengetahuan saya tak berkembang, sehingga tulisan saya tetap saja dangkal. Tetapi saya menikmatinya.

Pada awalnya saya memberanikan diri untuk mengirimkan cerpen saya ke koran harian. Ketika cerpen itu berhasil diterbitkan, betapa bahagianya saat itu. Saya lantas terus saja menulis cerpen, mengirimkannya lagi, sering kali gagal terbit, tetapi saya terus menulis lagi dan lagi. Saya melihat geliat semangat ketika menulis cerpen. Sampai akhirnya pada waktu cerpen saya tidak lagi terbit di koran. Saya merasa jatuh. Mungkinkah saya tak memiliki bakat untuk menulis fiksi. Ataukah kemampuan saya menurun secara drastis. Continue reading “Perkara Menulis yang Tak Menarik Lagi  “

Iklan

Overthinking

Ada satu hal yang menjadikan hidupku terus mengalami kegelisahan, sebagian kalian mungkin mengetahuinya, sebab kegelisahan, pintu dari masalah yang aku hadapi kini. Tak berwujud tetapi selalu menemaniku di saat-saat seperti ini, dengan setia.

Aku mengerti, mungkin aku hanyalah seorang yang bermental lemah, pengecut yang bermimpi menjadi pemimpin, pemimpi buruk yang ingin dikenal dunia. Dan tak ada usaha besar yang pantas aku banggakan agar aku menjadi orang yang besar.

Mungkin aku yang terlalu pandai atau aku yang terlalu banyak waktu. Aku memikirkan hal itu lebih dari semestinya, seakan dengan memikirkan akan menyelesaikan masalah. Ternyata tidak, overthingking menjadikan hidupku semakin gelisah, tak bergariah. Segala hal yang aku lakukan terselip pikiran buruk ini. Makanku tak lagi kegiatan makan, dipikiranku. Tidurku terganggu dari kenyamanan yang seharusnya aku dapatkan, perjalananku hanya menghasilkan lelah dan pikiranku masih saja penuh.

Tentu saja yang aku lakukan ini tidaklah menyelesaikan masalah. Menambahnya malah mungkin, aku seperti anak kemarin sore yang baru saja memecahkan vas bunga mahal milik orang tua temanku. Ketakutan, kusembunyikan pecahan vas itu di balik lemari, berdoa semoga temanku, orang tuanya atau pembantunya tak mengetahui, atau setidaknya tak menyadari hilangnya benda indah di meja makan sampai aku pulang nanti.

Hari demi hari hanya tumbuh rasa pesimis, yang seakan aku pupuk dan rawat ia hingga menjadi subur. Ketakutan menjadi teman sehari-hariku. Ia berwujud seperti makhluk tinggi besar yang gelap, memelukku dengan erat. Hingga aku tak melihat apa-apa, tak kutemukan jalan keluar, dan hilangnya cahaya dari arah mana saja.

Mungkin di titik akhir aku mengalami stres. Sebuah situasi yang mana aku sering bersisian dengan tekanan, tak menjadikan aku seperti panci bertekanan yang kuat, melainkan menjadi kulit telur yang terasa rapuh dan ringkih. Entahlah mungkin terlau berpikir berlebihan membutakan segala hal

Dunia tanpa Suara

Rasanya benar-benar enggan untuk meninggalkan dunia menulis sementara waktu. Besar keinginan untuk terus menulis di blog ini, walaupun hanya tulisan pendek tanpa makna.

Aku membayangkan sebuah dunia yang tak ada suara. Segala hal dilakukan dengan jalan menulis. Percakapan pendek, memesan makanan di cafe, mengajar di depan kelas, mendukung klub sepak bola. Semua itu dilakukan dengan tulisan. Tanpa ada kata yang terucap, tak ada umpatan dan makian yang terdengar kasar, semua dunia begitu tenang.

Tetapi dari semua itu aku melihat begitu banyak tulisan yang berhamburkan. Membuat mata ini bingung, tulisan mana yang layak dibaca dan mana yang sama sekali tak perlu untuk ditengok. Begitu banyak arus informasi yang datang, perhatian terpecah oleh banyak hal.

Seseorang yang dulunya begitu banyak omong, menjadi banyak menulis. Membagikan apa saja, tak perduli benar atau salah. Baginya kunci sukses adalah menonjol dari yang lainnya. Dia tak mengetahui, bahwa dia sukses terlihat bodoh di mata orang lain.

Dan tak lama kebosanan pun datang. Semua orang enggan membaca, mematikan handphone mereka, televisi, laptop bahkan menutup kotak surat di depan rumah. Semua orang bosan membaca dan merindukan untuk mendengar suara. Dan selanjutnya segala hal terulang kembali, dan kembali.

Akar yang Kuat

akar yang kuat

Ketika semua batang bertumpu pada kekuatan akar yang telah dalam menghujam. Sedangkan ia, tetap bergantung kepada kesantunan akar dalam memberi hara yang dibutuhkan. Ketika ranting tak pernah mampu untuk melihat ke dalam bagaimana akar bekerja, ia hanya menemukan apa yang dihasilkan menjadi manfaat untuk dirinya.

Ketika daun, yang hijau rimbun dan penuh keteduhan bertanya. Apa yang dilakukan akar di dalam sana? Tidak kah ia bosan dan ingin keluar melihat langit luas, awan yang beriringan dan burung pipit yang saling berkejaran. Daun hanya mengerti, bahwa akar selalu bekerja dengan baik, mengantarkan bahan-bahan yang dibutuhkan daun untuk memasuk.

Lewat pembuluh, akar saling berhubungan dengan batang, ranting dan daun. Tanpa mereka tahu apa yang dilakukan akar di dalam sana. Bagaimana rasanya hidup dalam kegelapan. Betapa sepinya ketika suara yang hadir hanya dari geliat cacing tanah.

Banyak pertanyaan yang ingin dijawab oleh mereka di luar sana. Sedangkan banyak pula keingin tahuan akar yang ingin ia tanyakan pada makhluk di luar sana. Tentang betapa ramainya permukaan bumi. Tentang jutaan warna yang memperindah bumi. Tentang betapa hangatnya matahari pagi. Betapa syahdunya purnama dan langit penuh bintang. Tentang cerewetnya binatang malam yang menganggu waktu istirahat ketika seharian bekerja. Akar pun ingin mengetahui segalanya. Continue reading “Akar yang Kuat”

Lima Alasan Mengapa Anak Teknik Selalu Menjomblo

Tulisan ini pernah tersiar di website jomblo dot co pada 16 September 2015

***

jomblo teknikJurusan Teknik terkadang menjadi jurusan angker dalam urusan asmara. Seolah-olah aktivitas kejombloan berakar rumpun di kampus ini. Buktinya, film Jomblo yang terkenal itu menagmbil latar kehidupan anak teknik.  Memang kehidupan cinta maupun kegagalannya dirasakan semua oleh insan kampus di jurusan apa saja, bahkan yang tidak berkuliah sekalipun merasakan romansa kehidupan cinta seperti ini.

Akan tetapi saya mencoba menghimpun lima alasan kuat yang menyebabkan anak teknik cenderung mengalami kejombloan yang panjang, seperti musim kemarau tahun ini yang diakibatkan oleh El Nino. Anak teknik juga mengalami badai yang memporak-porandakan kehidupan asmara dan inilah sebabnya.  Continue reading “Lima Alasan Mengapa Anak Teknik Selalu Menjomblo”

Sama

Aku menghindar dari segala hiruk yang sekarang cepat sekali mewabah. Aku meriang ketika semua gaduh tercipta. Telinga tercipta dari lapisan kulit yang lembut dan tak bertulang kokoh. Mungkin inilah alasannya, telinga tak bisa bekerja sehebat otot tangan.

kembarBesok mungkin semua orang ingin berbicara. Entah makna apa yang ingin dikatakannya, benar atau tidak, atau hanya sekedar terdengar suara saja. Semua ingin didengar suaranya, padahal telinga tak mampu mendengar ribuan suara. Perlu kiranya satu per satu antri untuk masuk gendang telinga. Perlu juga kiranya diberikan jeda agar suara itu mampir sejenak di respon otak. Sekira yang didengar itu dipahami maksudnya, agar tak sia-sia suara itu dikeluarkan.

Aku mengalami keheranan akan dunia yang dibuat sesuai standar yang ada. Kaya lebih baik dari miskin. Tampan lebih berharga dari buruk rupa. Dan langsing sering diimpikan dibandingkan gemuk. Mengapa semua ingin menjadi sesuatu yang dianggap standar baik sekarang ini. Memaksakannya mati-matian agar terlihat menawan, dan mendapat kekaguman banyak orang.

Pada hakikatnya manusia memanglah makhluk sosial yang tak mampu hidup sendiri dan tak mampu berteman sepi. Dengan alasan inilah manusia masuk kedalam satu kelompok yang dirasa memiliki banyak kesaamaan dengan dirinya. Tak lama ia mulai merubah segalanya agar terllihat sama, terlihat rapi dan elok untuk dipandang.

Bandung, 11 September 2015

Sumber Gambar: Klik

Jomblo dan Emansipasi Wanita

Tulisan ini pernah tersiar di website jomblo dot co pada hari  Sabtu, 8 Agustus 2015.

***

wanita menembakMembicarakan tentang jomblo dan kesedihan kehidupannya memang tak akan pernah ada habisnya. Seperti di industri musik yang tetap mempertahankan tema abadi mengenai cinta untuk setiap lagu yang diluncurkannya. Kisah jomblo di media sosial mendapatkan tempat utama sebagai trending topic sepanjang masa.

Isu tentang politik, kebijakan ganjil pemerintah, bahkan kedatangan boyband yang keseringan ngolesin krim muka hanya bersifat sementara diperbincangkan. Sehingga wajarlah jika sekarang jomblo bukan lagi menjadi status, melainkan telah merangkap menjadi berbagai peruntukan, dari korban bullying, tema di baju kaos, simbol aktivis menolak-kemacetan-di-malam-minggu, tema stand up comedy dan konsumen garis keras sabun mandi. Sehingga tak mengherankan jika tulisan-tulisan di jombloo.co ingin menggerakkan potensi jomblo yang berjumlah puluhan juta orang untuk membentuk partai politik dan mengkudeta pemerintahan yang selama ini dirasa tidak pro terhadap jomblo. Continue reading “Jomblo dan Emansipasi Wanita”