Ibu Susi, Saya Takut Makan Ikan

_8156679792Ibu Susi seorang menteri yang kini merangkap menjadi penyuluh agar kita gemar makan ikan. Himbauan Ibu Susi makin hari makin mengerikan saja, dulu ia menghimbau yang tidak suka makan ikan akan ditenggelamkan, tempo hari ia meminta makanan lebaran harus mengandung ikan pula, jika tidak, lagi-lagi akan ditenggelamkan. Kasihan tentunya bagi kebanyakan manusia yang tidak mampu berenang, ditenggelamkan ya langsung tenggelam, tidak bisa memberikan perlawanan.

Maksud ibu Susi baik, beliau melihat banyak masyarakat yang sedang kekurangan asupan gizi, sehingga pikiran masyarakat cenderung menjadi sempit dan mudah untuk dipecah belah. Ini pasti dampak gemarnya kita semua makan-makanan cepat saji, suka sekali dengan hal-hal yang instan.  Melihat berita sekilas lalu dengan mudah untuk mempercayai.

Saya tentunya mendukung sekali anjuran Ibu Susi, tetapi jujur saya takut makan ikan. Bukan karena alergi, rasanya atau bentuknya tidak instagramable—berbeda dengan paha ayam—tetapi ada alasan yang akan saya jelaskan lebih lanjut. Semoga Ibu Susi membaca kekahawatiran saya ini.

Keengganan saya untuk memakan ikan, khususnya ikan laut adalah karena plastik. Laut saat ini tak ubahnya menjadi tempat pembuangan sampah terbesar di dunia. Tentunya bukan ikan, gurita, maupun spongebob yang membuang sampah. Kita, ya, kita manusia ini yang tinggal, hidup, makan, tidur di darat tetapi berbaik hati berbagi dengan laut. Continue reading “Ibu Susi, Saya Takut Makan Ikan”

Iklan

Kabut Asap dan Pemerintah yang Tidak Bisa Move On

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) membentang poster di depan patung 'Selamat Datang' yang telah dipasangi masker pelindung pernapasan saat menggelar aksi Peduli Bencana Kabut Asap di Pekanbaru, Riau, Jumat (4/9)Dulu saya merasa bergembira ketika kabut asap pekat menghampiri kota tempat tinggal saya di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Itu berarti sekolah akan memulangkan kami lebih cepat dari jadwal pulang. Jika situasi makin parah, maka dinas pendidikan setempat akan mengambil kebijakan meliburkan kegiatan belajar mengajar selama satu hingga dua hari. Tentunya tak ada hal yang lebih menyenangkan dibandingkan libur sekolah. Walaupun itu harus ditukar dengan menghirup pekatnya asap yang membuat pusing kepala dan batuk-batuk yang tak berkesudahan.

Itu dulu, ketika lingkar otak saya masih berukuran mini. Sekarang setelah enam tahun lulus dari masa SMA, kejadian kabut asap masih saja menghampiri kota kami setiap musim kemarau tiba. Seolah-olah di Kalimantan telah terjadi tiga tipe musim di setiap tahunnya, musim hujan, musim kemarau dan musim kabut asap.

Sudah puluhan tahun perihal kabut asap ini selalu datang dan pergi. 18 tahun tepatnya dan pemerintah seakan baru melihat kejadian ini kemarin sore. Seakan telah menjadi dagelan yang tak lucu sama sekali. Kami seperti diminta untuk pasrah menghirup asap-asap sehingga udara kota menjadi bersih, dianggapnya paru-paru kami ini seperti AC dengan teknologi inverter rupanya. Continue reading “Kabut Asap dan Pemerintah yang Tidak Bisa Move On”

Makna Cinta

Tulisan ini pernah tersiar di website jombloo dot co pada hari  Sabtu, 15 Agustus 2015

***

sandal jepitAdakah seorang yang berwujud makhluk mampu mendefenisikan cinta dan diamini oleh seluruh manusia di dunia ini? Mungkin masih tak ada, ini mungkin loh ya, karena memang sebagian orang telah menemukan arti cinta yang hakiki bagi dirinya. Tapi apakah makna yang telah dikhidmati oleh satu orang juga bisa diamalkan oleh orang lain, belum tentu juga kan? Khalil Gibran menggambarkan dengan keindahan puisinya, Shakespare dengan menganggap bunuh diri dapat menyatukan kembali cinta sejati.

Semua orang berhak memaknai cinta. Untuk kali ini mari kita kerucutkan cinta ini terhadap cinta kepada lawan jenis. Kurang ilmu kiranya jika saya mengajak mendefinisikan cinta kepada Tuhan, moral, dan kebaikan. Belum juga menjadi anak berbakti rasanya jika mengajarkan tentang cinta orang tua dan keluarga. Bahkan cinta akan kebersihan dan berbudi pekerti sesuai pancasila masih saja saya tak menjalankannya. Continue reading “Makna Cinta”

Pilkada dan Pengusaha Batubara

Pendaftaran pemilu kepala daerah (Pilkada) telah ditutup beberapa hari yang lalu. Ketika di Surabaya, Ibu Risma sempat gugup karena tak ada yang berani bertanding dengan beliau. Di Kalimantan Selatan (KalSel) sungguh berbeda, banyak bakal calon dengan kualitas beraneka rupa dan baliho berbagai warna menghiasi perpolitikan di daerah ini.

Hasil akhirnya hanyaPilkada Kalsel tiga bakal calon yang dapat mendaftar. Dua yang berasal dari koalisi partai dan satu yang bersusah payah mengumpulkan KTP warga. Serta beberapa orang bakal calon potensial yang hanya gigit jari, sambil menurunkan kembali baliho-baliho mereka.

Selalu ada kejutan dalam pilkada, dimana dua atau tiga tahun yang lalu. Di warung kopi, di pangkalan ojek atau di pos ronda. Masyarakat di daerah ini hanya memperbincangkan empat nama potensial yang akan bersaing menjadi gubernur kelak. Ialah, Rosehan, wakil gubernur dua periode yang lalu dan tokoh yang penasaran karena gagal di pilkada periode yang lalu. Kedua, Rudy Renawan, seorang Walikota Banjarbaru dua periode dan periode lalu menjabat sebagai wakil gubernur. Ketiga, Pangeran Khairul Saleh, sosok teratas dari beberapa survey dan menjabat sebagai Bupati Banjar selama dua priode. Terakhir, Adriansyah, sosok pemimpin Partai Banteng daerah ini, Bupati Tanah Laut dua periode yang tahtanya diserahkan pada sang anak dan beberapa bulan yang lalu sempat terkenal seantero Indonesia karena diseret KPK di Bali saat Munas Partai Banteng.  Continue reading “Pilkada dan Pengusaha Batubara”