Biodiesel B20, Beban Berat untuk Semua Harapan

Tulisan ini telah dimuat di harian Banjarmasin Post pada hari Kamis, 13 September 2018. Berisi pandangan saya mengenai kebijakan pemerintah mengenai Biodiesel B20 yang menjadi salah satu jalan untuk menangani pelemahan rupiah. 

***

B20.jpg

Nilai tukar rupiah atas dolar semakin menurun hingga mencapai 15.000 rupiah. Berbagai cara dilakukan pemerintah untuk menggenjot ekspor dan mengurangi ketergantungan kita terhadap impor. Salah satu cara yang dilakukan pemerintah dengan mempercepat implementasi Biodiesel B20.

Mungkin sebagian besar dari kita masih bingung dengan kebijakan yang diambil pemerintah, bagaimana bisa biodiesel B20 dapat menjadi salah satu solusi dalam pelemahan rupiah ditambah lagi sebagian besar masyarakat memandang kebijakan ini bermuatan politis. Hal ini dikarenakan, Crude Palm Oil (CPO) atau minyak sawit mentah asal Indonesia ditolak oleh Pasar Eropa karena parlemen Eropa telah melarang penggunaan CPO untuk biodiesel pada tahun 2021 dan kampanye makanan sehat tanpa minyak sawit di negara-negara Eropa.

Indonesia yang merupakan produsen CPO terbesar di dunia dengan luas perkebunan kelapa sawit 11,92 juta Ha pada tahun 2016 tentunya sedang memiliki surplus CPO yang besar dan mengalamai kebingungan untuk pemanfaatannya, pemerintah dengan gerak cepat mengambil kebijakan ini. Kita bersama perlu mengkritisi hal ini dan apakah kebijakan ini dapat berjalan dengan baik sesuai harapan banyak pihak.

Menurut definisi, Biodiesel adalah bahan bakar yang berasal dari bahan-bahan dari makhluk hidup (Bahan bakar nabati) dan dalam kebijakan ini B20 berarti mencampur biodiesel dari minyak kelapa sawit dengan solar melalui perbandingan 20 % : 80 %. Melalui pencampuran ini pemerintah dapat menghemat impor BBM sebesar 5-6 Milyar US$ dan tentunya dapat meningkatkan pemanfaatan minyak kelapa sawit domestik. Continue reading “Biodiesel B20, Beban Berat untuk Semua Harapan”

Iklan

Sadarkah Makanan Kita Menjadi Sampah

Tulisan ini telah dimuat di media online geotimes.co.id pada hari Jumat, 24 Agustus 2018. Berisi pandangan saya bahwa kita acapkali membuang makanan kita dengan berbagai alasan. 

***

food waste

Saat ini ada sebuah kebiasaan yang mungkin secara sengaja atau tidak pada suatu acara atau di tempat makan untuk tidak menghabiskan makanan yang kita ambil. Hal ini karena  ada anggapan bahwa yang melicinkan piring hingga tandas adalah prilaku orang rakus atau sedang kelaparan. Bahkan dianggap ‘tidak pernah’ makan, makanan yang enak. Maka dari itu, terkadang kita menyisakan makanan sesendok untuk menjaga gengsi kita, walaupun sebenarnya perut ini masih sanggup untuk menampung satu sendok tersebut.

Tak mengherankan jika menurut studi The Economist Intelligence Unit pada tahun 2016, Indonesia sebagai negara yang memproduksi sampah makanan nomor dua terbesar di dunia, sebanyak 300 kg per tahunnya. Kita mengungguli negara yang memiliki pendapatan kapita besar seperti Amerika Serikat yang membuang sampah makanan 277 kg dan hanya kalah kepada negara kaya dengan minyak yaitu Saudi Arabia dengan produksi sampah makanan mencapai 427 kg per tahunnya.

Hal ini menandakan bahwa gaya hidup masyarakat kita cenderung lebih konsumtif dan rendahnya kesadaran dalam bijak memperlakukan makanan.Terlihat di media sosial, kita begitu bersemangatnya memesan makanan dan mengabadikannya dalam foto, tanpa tahu nasib akhir makanan yang kita pesan masih banyak yang bersisa dan tidak sanggup untuk dihabiskan. Continue reading “Sadarkah Makanan Kita Menjadi Sampah”

Tentang Sekumpulan Remaja yang Membuktikan Harapan akan Selalu Ada

Tulisan ini telah dimuat di media online jejakrekam.com pada hari Sabtu, 21 Juli 2018. Saya terharu dengan perkembangan proses penyelematan dari awal hingga akhir, sehingga semua korban dapat terselamatkan.

***thai cave.jpg

Ketika pertama kali diceritakan istri saya mengenai sejumlah anak remaja yang terperangkap di sebuah gua di Thailand, saya mulai mengikuti tagar thaicaverescue di twitter.  Awal-awal mengikuti ini pikiran logis saya menolak semua fakta yang ada. Mengapa seorang pelatih berani sekali membawa sekumpulan anak remaja itu pergi jauh ke dalam sebuah gua, mengapa ketika mendapati sebuah gua itu telah teraliri air mereka tidak lekas keluar—di awal saya mengira mereka hanya berteduh dari hujan yang begitu deras di luar sana, lalu mengapa mereka mampu bertahan hidup selama sembilan hari lamanya tanpa makanan, gelapnya ruang gua, pengap dan lembabnya udara di sana, dan kepanikan yang mungkin saja akan kita rasakan ketika berada di tempat seperti itu.

Pertanyaan-pertanyaan itu sedikit demi sedikit terjawab ketika saya mengikuti #thaicaverescue. Sang pelatih bernama Ekapol Chanthawany—tepatnya asisten pelatih, karena sang pelatih pada hari kejadian sedang berhalangan hadir—membawa kumpulan anak remaja itu masuk ke dalam gua untuk melatih fisik dan mental mereka, terutama untuk melatih pernafasan mereka. Karena terlalu jauh masuk ke dalam lorong gua tersebut—pertanyaan kedua saya terjawab—tanpa  mereka sadari di mulut gua telah dibanjiri air sehingga mereka tidak mungkin lagi berbalik pulang, solusi logis, mereka harus mencari tempat yang lebih tinggi untuk menyelematkan diri.

Mereka terus mencari tempat yang lebih tinggi, terus masuk ke dalam. Saya ikut merasakan, bagaimana kepanikan mereka ketika harus beradu cepat dengan air yang masuk menenggelamkan seisi gua tersebut. Ketika mereka mendapatkan tempat yang aman, yang hanya seluas 10m2, di tempat tersebutlah mereka menghabiskan hari-hari mereka. 12 orang remaja berusia antara 11 hingga 17 tahun itu terus berharap ada orang lain di luar sana yang menyelamatkan mereka, membawakan mereka makanan, menghapuskan ketakutan mereka, dan membawa mereka dari kegelapan.  Continue reading “Tentang Sekumpulan Remaja yang Membuktikan Harapan akan Selalu Ada”

Hoax, Minat Baca dan Clicking Monkey

Tulisan ini telah dimuat di media online jejakrekam.com Rabu, 11 Juli 2018, tulisan-tulisan lama saya yang gagal termuat dalam harian cetak saya putuskan untuk mengirimkannya ke media online, karena saya menginginkan tulisan saya ingin tetap dibaca oleh banyak orang dan tentunya sembari terus melakukan perbaikan. 

***

HoaxSetidaknya ada dua hal yang harus diwaspadai di dunia maya saat ini, yaitu berkata bohong (Hoax) dan ujaran dengan kebencian (hate speech). Dalam kasus Hoax, hal yang paling berbahaya adalah ketika informasi yang tidak benar menjadi alat pemecah belah keragaman masyarakat Indonesia. Hoax menjadi isu hangat saat ini ketika oknum tertentu memanfaatkan melimpahnya arus informasi untuk menyebarkan kebohongan, kebencian, bahkan fitnah di dunia maya.

Berita hoax ini pun makin meningkat karena masyarakat kita kehilangan tradisi tabayyun atau mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya. Hal ini ditambah dengan fakta bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah. Berdasarkan hasil survei Unesco pada tahun 2011, tingkat minat baca masyarakat hanya 0,001. Hal ini berarti hanya ada satu dari seribu orang yang memiliki minat serius dalam membaca.

Kajian lainnya dari Central Connecticut State University pada  tahun 2016 mengenai World’s Most Literate Nations, dimana tingkat literasi masyarakat Indoensia berada di urutan 60 dari 61 negara. Indonesia hanya berada satu tingkat di atas Botswana, negara kecil di Benua Afrika yang berpenduduk 2,1 juta jiwa. Continue reading “Hoax, Minat Baca dan Clicking Monkey”

Melaju Bersama Mobil Listrik

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Banjarmasin Post edisi Rabu, 9 Mei 2018. Merupakan pandangan saya terhadap pengembangan mobil listrik, sebagai upaya dalam pengurangan emisi kendaraan bermotor.

***

mobil listrikMasalah lingkungan telah menjadi isu menarik yang selalu diangkat dalam forum-forum global. Terutama dalam hal pemanasan global, Indonesia memiliki target untuk menurunkan 26% gas rumah kaca pada tahun 2020. Sebuah angka penurunan yang terbilang besar, mengingat kondisi saat ini, kita begitu sangat tergantung akan bahan bakar fosil dalam pemenuhan energi.

Dalam proyek pembangkit listrik 35.000 MW misalnya, dominasi ada pada pembangkit listrik tenaga uap yang berbahan bakar batubara. Merupakan sumber bahan bakar yang sangat besar dalam melepaskan karbon ke udara. Begitupun di sektor transportasi, terutama pada kendaraan pribadi, kita tidak bisa lepas pada ketergantungan akan bahan bakar minyak (BBM).

Upaya pemerintah dalam diversifikasi energi dengan pemakaian gas dan bahan bakar nabati tidak berjalan secara maksimal. Lalu akankah target pemerintah untuk menurunkan gas rumah kaca menjadi hanya menjadi janji kosong belaka? Tentu tidak, segala upaya tetap digiatkan untuk mengurangi ketergantungan kita dengan energi fosil yang tidak dapat diperbaharui ini. Continue reading “Melaju Bersama Mobil Listrik”

Efek Korupsi dan Peran Kita

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Radar Banjarmasin edisi Jumat, 13 April 2018. Merupakan pandangan saya terhadap maraknya korupsi di negara dan efek yang ditimbulkan baik dari sisi psikologis dan lainnya.

anti_corruption_by_edwiniwde-d4pemst

Hampir tidak habisnya berita mengenai KPK yang melakukan OTT kepada kepala daerah dan pejabat pemerintah. Kerja KPK kini tidak hanya menciduk pejabat-pejabat di Jakarta. Kini wilayah jelajahnya hingga ke level daerah. Pejabat daerah yang selama ini merasa aman hidup ‘berdampingan’ dengan oknum aparat penegak hukum, saat ini mulai was-was.

OTT KPK tak dapat diprediksi, waktu pertemuan dengan klien mungkin saja sudah dipantau, ruang gerak oknum pejabat korup mulai terasa sempit. Hingga Ketua MPR, Zulkifli Hasan sempat khawatir jika KPK terus melakukan operasinya, melakukan OTT kepada pejabat dan kepala daerah, maka suatu saat nanti semua pejabat akan habis menjadi tahanan KPK.

Sebuah kekhawatiran yang dangkal. Jika banyak pejabat korup, serakah, dan tak perduli dengan nasib rakyat untuk apa dipertahankan. Mengapa takut kehabisan pejabat yang mau mengurusi negeri ini. Sedangkan, setiap lima tahun sekali kita memilih pemimpin kita secara langsung melalui demokrasi yang kita banggakan.

Sebagian besar rakyat berpikir bahwa demokrasi adalah jalan keluar untuk menghasilkan pemimpin-pemimpin yang unggul. Tetapi, sudah empat kali pemilu dan ratusan pilkada yang digelar secara langsung, melibatkan partisipasi seluruh rakyat, kucuran dana yang besar, dan sampai saat ini masih saja korupsi menjadi penyakit yang seakan masih belum ada obatnya.  Continue reading “Efek Korupsi dan Peran Kita”

Sampah Plastik yang Berumur Panjang di Laut

sampah lautSudah sejak lama kota kita mengemban city branding sebagai Kota Seribu Sungai. Walaupun jika dihitung secara kuantitas jumlah sungai dan anak sungai yang mengaliri kota ini tak mencapai angka seribu. Apalagi pada saat ini sungai-sungai di Kota Banjarmasin mengalami banyak permasalahan seperti: pendangkalan, kualitas air sungai yang menurun dari waktu ke waktu, hilangnya sungai/anak sungai akibat bangunan atau lahan permukiman, tidak lancarnya aliran sungai akibat tumpukan sampah maupun lumpur, dan longsornya tebing sungai.

Sudah banyak penulis yang mengkritisi permasalahan ini dengan berbagai sudut pandang dan solusi deskriptif untuk mengatasi permasalahan ini. Pada kesempatan ini, penulis ingin lebih dalam membahas mengenai sampah plastik yang sering kali terlihat mengalir di sungai-sungai di Kota Banjarmasin. Jumlahnya mungkin tidak terlalu banyak, bergabung dengan tumbuhan air, potongan kayu dan bambu yang mengalir menuju hilir dan bermuara ke laut. Permasalahannya sampah plastik tersebut akan berumur panjang, bahkan mungkin lebih panjang dari umur kita.

Pada awalnya sampah-sampah, terutama sampah plastik yang terdapat di sungai karena prilaku masyarakat yang masih membuang sampah mereka dengan sembarangan. Hal ini menjadi indikasi bahwa masih buruknya tata kelola sampah dan rendahnya kesadaran masyarakat akan sampah di wilayah ini, baik itu di kota maupun wilayah hulu aliran sungai.  Continue reading “Sampah Plastik yang Berumur Panjang di Laut”