[Cerpen] Mencari Alasan

Di ujung gang sepi aku duduk, bernaung pada pos kamling yang juga tak terawat. Warga enggan bersilahturahmi dengan meronda. Mereka berpikir praktis, membayar seorang penjaga malam, daripada harus berjalan mengelilingi komplek di malam hari yang dingin.

Jadilah pos kamling ini menjadi tempat tongkronganku setiap harinya, dari pagi hingga tengah malam. Seorang pengangguran ini, menganggap tempat ini sebagai surga, karena rumah yang banyak orang anggap sebagai istana, kini berubah bentuk menjadi sangat membosankan. Ejekan istri yang menganggap aku tak becus menjadi suami, hingga amarahnya karena sudah sebulan tak diberi nafkah. Keluar rumah membuat telingaku lebih waras, tentunya.

Istri yang seharusnya menutup aib rumah tangga, kini seolah menjadi TOA mesjid yang menyebarkan segalanya kepada siapa saja, seolah masalah akan selesai dengan hanya diceritakan, menganggap uang akan didapat ketika tetangga tahu letak kerak di panci. Aku heran dengan istriku ketika ia tak mau mengerti bagaimana susahnya mencari kerja di zaman sekarang. Bagaimana pertarungan mencari rupiah seperti bertarung di Coloseum, mempertaruhkan nyawa.

Aku memang mengerti segala himpitan ini membuat segalanya sesak. Bernapas susah, apalagi lambung anak dan istriku yang senantiasa kosong tak terisi. Tapi siapa yang menginginkan demikian? Semua orang tentunya ingin menjadi raja yang segala ingin terpenuhi, kenyataannya hidup bukanlah khayalan yang dengan mudah dirangkai, dibentuk dan dihiasi dengan begitu indah. Dan aku seorang tak berpendidikan, yang hanya memiliki kemampuan membaca dan perjumlahan dan pengurangan angka rasanya tak pantas untuk berdiri sejajar dengan para sarjana yang sekarang mengantri mencari kerja dengan stelan rapinya. Continue reading “[Cerpen] Mencari Alasan”

Iklan

[Cerpen] Kisah Duka Petani Miskin

petani miskinMenjadi petani adalah pahlawan bagi manusia lainnya. Dia menghidupkan kehidupan yang sebelumnya tiada, dengan penuh kesabaran ia menunggu, dan dengan penuh senyuman ia menuai. Tetapi tetap saja, nasib petani tak pernah lebih tinggi dari para pekerja kantoran.

Tak perduli pergi pagi dan pulang ketika matahari ingin tenggelam. Merelakan kulit yang terpanggang oleh matahari, sedangkan hasil panen yang didapat selalu saja diakali oleh tengkulak. Berlaga seperti malaikat, menampakan raut wajah penuh kesedihan bahwa harga gabah sedang hancur akhir-akhir ini. Dan kami, yang bodoh ini hanya mampu percaya, karena negeri ini lahir dari kejujuran rakyat yang sama-sama ingin merdeka.

Belum lagi sebagai petani miskin yang tak memiliki tanah untuk hidup. Hidup di antara belas kasihan dan kenyataan pahit hidup sebagai budak yang bekerja keras tanpa mendapatkan hasil yang sesuai atas keringat yang keluar.

Tuan tanah yang memiliki lahan berhektar-hektar luasnya, sejauh mata memandang masih belum bertemu ujungnya. Disanalah tempat kami, para petani miskin, mengiba. Mengadahkan tangan, menjual tenaga kepada para manusia yang menjadi sombong seakan telah memiliki seisi dunia.

“Susahnya hidup di negeri ini, tak ada bedanya kita merdeka dan dijajah. Kita masih tak bisa hidup layak. Hidungku masih dicocok seperti kerbau, dijalankan sekehendak hati seperti budak belian,” selalu ingat kata kawanku tersebut, ia mengeluhkan hidup yang tak berubah ketika negeri ini telah merdeka. Continue reading “[Cerpen] Kisah Duka Petani Miskin”

[Cerpen] Tentang Dua Hati yang Tak Akan Bersatu

Entah mengapa saat ini aku mengalami kesulitan untuk menulis cerita fiksi, mungkin dikarenakan aku lebih sering menulis berbasi esay. Begitupun ketika aku mencoba untuk mengirimkan cerpen kekora-koran selalu saja mengalami penolakan. Mungkin perlu banyak belajar lagi untuk menulis fiksi. 

***

berpisahAku tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, yang aku tahu hanya kamu tak pernah berubah semenjak kita pertama kali bertemu. Kamu masih saja malu-malu menatapku dari kejauhan, dan aku melakukan hal yang sama, aku lebih pemalu lagi. Walaupun jika kamu tahu, keinginanku untuk berbincang dan bercanda denganmu, itu sungguh sudah menumpuk ingin termuntahkan.

Aku mengetahui segalanya tentangmu, setidaknya sebagian besar tentang hidupmu aku sudah mengingatnya di luar kepala. Tentang makanan kesukaanmu, tentang hobi membacamu, tentang pelajaran yang kamu benci, bahkan alasan orang tuamu memberi nama yang indah untukmu. Aku ingin kita berbincang dan dikesempatan itu aku akan berlagak seperti seorang peramal yang mengetahui segala tentangmu, hingga kamu menjadi penasaran dan terus bertanya lagi dan lagi tentang dirimu yang aku ketahui.

Kamu pernah menegurku terlebih dahulu, aku yang bodoh ini hanya membalas teguranmu dengan senyuman, tanpa kata yang terucapkan. Entah seberapa besar keberanian yang kamu curahkan untuk menegurku dan harapan bahwa aku akan menyambut sapaan itu dengan hangat dan menjadi keakraban yang mulai bermula di sore itu. Continue reading “[Cerpen] Tentang Dua Hati yang Tak Akan Bersatu”

[Cerpen] Enggang yang Tak Pandai Terbang

Cerpen EnggangAwang Kiting termangu di gubuk ketika letih berladang di suatu sore. Sesekali kicauan burung enggang yang bertengger di pohon lahung menambah ketenangan sore itu. Riak suara sungai yang mengalun teratur penuh tempo, duhai indah ingin didengar setiap telinga. Sore itu hutan begitu syahdu memberikan keindahannya. Mungkin orang kota perlu sesekali merasakannya, tentu perlulah dibuang jauh-jauh keluhan mengenai nyamuk yang begitu ganas atau sinyal handphone yang tak akan pernah didapat.

Etak Bungeh, istri dari Awang Kiting berjalan menuju gubuk selepas mandi di sungai. Menggunakan tapih yang menyelimuti dada hingga ke paha, Etek Bungeh lekas meghampiri Awang.

“Sibuk sekali melamun, sampai lupa mandi. Badan itu sudah bau, tak sudi nantinya jika kau tidur memelukku,” ejek Etak mengingkan suaminya lekas mandi.

 “Tahanlah sebentar, lagi asyik aku memandang langit yang berwarna jingga ini. Seperti dilukis saja, Enggang juga hilir mudik sedari tadi, bahagia dia rupanya musim buah akan segera datang.”

Dari dalam gubuk Etak menjawab, “Tak perlu banyak alasan, hari sebentar lagi gelap, tersesat nantinya kau mencari jalan pulang.”

Begitulah kehidupan di gubuk, ladang yang terus berpindah untuk mencari kesuburan tanah agar menghasilkan panen yang baik. Membuat keluarga  Awang Kiting betah untuk tetap tinggal di gubuk, tanpa penerangan listrik, tanpa ada hiburan radio. Nyanyian malam lebih enak didengar, tukas Awang. Mengikuti perubahan zaman, membuat kepala ini tambah pusing saja. Continue reading “[Cerpen] Enggang yang Tak Pandai Terbang”

[Cerpen] Suatu Negeri yang Sejahtera karena Judi

Setelah hampir dua tahun cerpen ini dibuat dan dipublish di blog ini, akhirnya cerpen ini di muat di surat kabar harian Radar Banjarmasin edisi Minggu, 5 Februari 2017. Sudah sejak lama memang saya tidak menulis cerpen lagi. Pengiriman ulang cerpen saya ke media massa lokal, merupakan usaha saya untuk lebih percaya diri lagi dalam menulis fiksi.

***

Pernahkah terpikirkan bahwa judi ternyata mampu membawa kesejahteraan pada seluruh penduduk di suatu negeri. Terdapat sebuah negeri dimana penduduknya menggantungkan hidup dalam bercocok tanam menanam padi, sayuran, buah-buahan, bahkan tanaman hias.

Pemerintah negeri ini mengatur permukiman dengan gaya modern dan tertata rapi. Masing-masing penduduk mendapatkan jatah lahan sajudima rata, 10000 meter persegi untuk bercocok tanam. Pemerintah negeri ini menjunjung tinggi kesetaraan, sehingga tak ada penduduk yang kaya raya dan tak ada pula yang terlalu miskin. Kehidupan disana seperti memberikan gambaran nyata tentang keadilan.

Tak ada yang istimewa dari penduduk negeri ini. Semua dari mereka tak mengenyam pendidikan. Semua orang bahkan pejabat di pemerintahan tak ada yang mampu membaca apalagi berhitung. Segala arus informasi berjalan melalui lisan dan segala bentuk transasksi dilakukan melalui barter. Tak ada penduduk yang berniat tipu menipu, walaupun semua berjudi. Laki-laki dewasa, ibu-ibu, nenek tua renta hingga anak-anak berusia sepuluh tahun sangat menyukai berjudi. Fakta yang terjadi, tak ada yang benar-benar kaya dari berjudi dan tak ada yang jatuh miskin karenanya. Tingkat pendidikan yang tak tinggi membuat penduduk tak menerapkan sama sekali strategi untuk memenangkan perjudian, mereka semua hanya mengandalkan insting dan naluri yang sama tumpulnya dengan kecerdasan yang mereka miliki.  Continue reading “[Cerpen] Suatu Negeri yang Sejahtera karena Judi”

[Cerpen] Surga Sederhana

Aku akan pergi dari rumah yang selama ini begitu nyamannya aku tempati. Adakah yang sadar keindahan cat dinding yang kebanyakan telah terkelupas. Dinding yang mulai retak dan plafon yang perlahan berjatuhan seperti daun kering musim kemarau. Entah sudah berapa lubang yang menganga ketika genteng tak mampu lagi menahan rintik hujan dan teriknya panas.

Rumah yang selama ini menaungi kehidupanku. Tak ada kemewahan yang kudapat. Tapi di sana aku mendapatkan ketenangan. Saat kehidupan di luar begitu kejamnya dalam menggoda. Aku lebih suka mendekam, tak ada hiburan di dalam rumah. Tak ada tv, apalagi radio. Telepon gengam yang kumiliki adalah model lawas dimana permainan yang disajikan hanyalah ular yang terus berjalan mencari makan dan lambat laun membuat tubuhnya semakin panjang.

Tak ada pula pasangan yang menemani. Sebagai teman mengobrol pengusir sepi, hanya dinding kamar sajalah yang setia mendengarkan keluh kesahku tanpa ia bergerak sesentipun. Tak pula ia merasa lelah dalam mendengarkan, memang selayaknya telinga terbuat dari sesuatu yang kokoh, kalau perlu bertulang seperti beton-beton pencakar langit.  Continue reading “[Cerpen] Surga Sederhana”

[Cerpen] Kisah Seorang yang Mencintai Sisir

Sisir putih bermata tiga puluh tiga itu tergelatak di jalanan kering dengan debu berterbangan, terlihat jelas oleh mata dan dirasa kering oleh kulit lengan. Garteng memungut sisir itu, lalu menghirup lekat-lekat wanginya. Wangi kulit kepala yang tertinggal di sela-sela sisir. Ia mengenadah ke langit, lalu kembali menghirup wangi dari sisir putih bermata tiga puluh tiga. Siapa gerangan yang memiliki sisir yang terjatuh ini? Garteng bergumam dalam hati. Dibawanya sisir itu pulang, ditutupnya pintu kamar lalu ia kembali menghirup lekat-lekat wangi sisir itu kembali, sampai tertidur.

Di dalam tidurnya Garteng terbangun. Seorang wanita sedang menyisir rambut di sebuah kursi yang tak terdapat cermin di hadapannya. Hanya berhadapan dengan dinding kamar yang penuh dengan coretan-coretan tak jelas yang berasal dari lipstik. Garteng tak dapat melihat bentuk rupa wanita itu, yang terlihat hanya sebuah rambut panjang tergerai yang kini dimakan oleh sisir itu lalu menjadi rapi. Terhirup pula aroma wangi kulit kepala yang sebelumnya ia rasakan dibalik sisir putih yang ia dapat.

Continue reading “[Cerpen] Kisah Seorang yang Mencintai Sisir”