Ada Apa dengan Tiket Pesawat Mahal?

tiket pesawat

Tulisan ini telah dimuat di harian Radar Banjarmasin pada hari Jumat, 1 Februari 2019. Berisi pandangan saya mengenai alasan tiket pesawat domestik yang mengalami peningkatan mencapai dua kali lipat akhir-akhir ini.

***

Libur natal, sekolah, dan tahun baru telah berakhir. Peak season yang membuat harga tiket melambung di dunia penerbangan seharusnya tak terjadi, tetapi pada kenyataannya, akhir-akhir ini harga tiket pesawat masih berlipat hingga mencapai dua kali lipat. Belum lagi akan diberlakukannya bagasi berbayar yang selama ini kita dapatkan secara cuma-cuma sebesar 20 kg.

Di dunia maya netizen ramai mengisi petisi meminta diturnkannya harga tiket pesawat, masyarakat banyak mengeluh moda transportasi yang sangat cocok untuk negara kepulauan seperti Indonesia, harganya meningkat tajam tak terjangkau lagi untuk masyarakat umum. Terlebih lagi mendapati fakta bahwa beberapa rute penerbangan internasional jauh lebih murah dibandingkan penerbangan domestik. Lebih baik berlibur ke Kuala Lumpur dari pada ke Bali kalau harga tiket seperti ini, seloroh salah satu netizen di halaman dunia maya. Bahkan, ada masyarakat yang rela transit di negara lain dan menginap di bandara demi bisa mendapatkan harga yang lebih terjangkau.

Menganggapi hal ini penulis mencoba memberikan pandangan terkait permasalahan tiket domestik yang meroket ini, sebelumnya penulis ingin melakukan disclaimer bahwa pernyataan penulis bukan merupakan pernyataan resmi dari Kementerian Perhubungan, ini merupakan pandangan pribadi yang mungkin saja sejalan dengan pernyataan pihak pemerintah dan mungkin saja malah bertolak belakang.

Tak Melanggar Aturan

Tiket pesawat yang masih melambung tinggi padahal peak season masa liburan telah berakhir dianggap masyarakat merupakan bentuk pelanggaran dan monopoli yang dilakukan oleh maskapai, perlu kita luruskan bersama. Menurut Peraturan Menteri Perhubungan No. 14 tahun 2016 pada lampiran V tercantum tarif batas atas dan bawah untuk pelayanan kelas ekonomi angkutan udara berjadwal, bahwa harga tiket pesawat saat ini masih berada di bawah tarif atas yang telah ditentukan pemerintah.

Sebagai contoh untuk penerbangan Banjarmasin – Jakarta atau sebaliknya dengan jarak 931 Km, memiliki tarif batas bawah Rp. 509.000 dan tarif batas atas Rp. 1.690.000. Jika selama ini kita mendapatkan harga tiket tujuan Banjarmasin – Jakarta sekitar 500 – 600 ribu, maka sebenarnya maskapai mematok harga tiket mendekati batas bawah, dalam hal ini maskapai sedang malakukan perang tarif serendah-rendahnya agar masyarakat cenderung memilih maskapai tersebut, walaupun citra selama ini maskapai tersebut terkenal sering melakukan delay.

Jika akhir-akhir ini maskapai untuk tujuan serupa menetapkan harga lebih dari satu juta rupiah, pihak maskapai sebenarnya tidak melanggar peraturan, karena masih berada di bawah tarif batas atas, hanya saja masyarakat mungkin tidak rela dan merasa keberatan untuk kehilangan penerbangan murah yang selama ini mereka rasakan. Terlebih lagi pelayanan penerbangan dengan tarif mendekati batas atas ini dirasakan tidak mengalami perubahan dari sebelumnya. Sehingga wajar saja masyarakat melihat ini dari sudut pandangan bahwa para maskapai melakukan persekutuan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan menaikan harga tiket dan bagasi berbayar.

Prioritas Standar Keselamatan

Banyak masyarakat mengira bahwa kenaikan tiket pesawat ini dalam upaya meningkatkan standar keselamatan dalam penerbangan diakibatkan oleh kasus jatuhnya pesawat salah satu maskapai beberapa bulan lalu.

Penulis memiliki pandangan bahwa standar keselamatan telah menjadi standar mutlak yang harus dipenuhi tanpa bisa dikurang-kurangi untuk alasan efesiensi. Industri penerbangan adalah industri yang sarat dengan teknologi dan berbiaya sangat besar, tak mungkin kiranya pihak maskapai mengorbankan nama baik dan kepercayaan hanya untuk sekedar melakukan program penghematan.

Jika maskapai penerbangan berbiaya murah (low-cost carrier –LCC) melakukan efesiensi maka yang akan dilakukan adalah dengan menurunkan kualitas pelayanan, misalnya, dengan mengatur jarak kursi yang lebih rapat, tidak memberikan makanan atau minuman gratis selama penerbangan, tidak memberikan selimut, tidak ada hiburan selama penerbangan, tidak ada surat kabar harian gratis, kualitas fasilitas check-in dan ruang tunggu. Fenomena delay yang sering terjadi pada salah satu maskapai mungkin saja dampak dari kebijakan efesiensi maskapai karena jarak antar penerbangan yang rapat untuk satu pesawat, menjalankan banyak penerbangan untuk mendapatkan keuntungan.

Hal ini berdampak, jika suatu pesawat terlambat dalam menurunkan penumpang atau terjadi kendala teknis, maka satu keterlambatan akan membuat keterlambatan di bandara-bandara lainnya pada hari tersebut.  Meskipun demikian, maskapai LCC tidak akan mengurangi standar keselamatan yang harus dipenuhi.

Pengamat penerbangan Alvin Lie dalam harian kompas (14/01) memaparkan bahwa secara global industri penerbangan pada tahun 2018 berada dalam situasi sulit akibat kenaikan harga avtur. Soal tarif domestik yang lebih mahal daripada tarif penerbangan internasional dipicu oleh perbedaan harga avtur di dalam dan luar negeri. Selisih harga avtur di Indonesia dan Malaysia, misalnya, berkisar 20-30%. Selain itu Pemerintah beberapa negara seperti Singapura memberikan insentif kepada maskapai yang mau membuka rute langsung dari daerah baru, untuk meningkatkan kunjungan wisata ke Singapura. Besaran insentif berupa biaya promosi mencapai 100.000 dollar AS per tahun. Penerbangan internasional ke negara tetangga yang lebih terjangkau disebebkan pula oleh supply penerbangan yang besar, sehingga antar maskapai melakukan perang tarif untuk mendapatkan demand penumpang.

Akan tetapi angin segar mulai muncul karena telah terjadi pertemuan antara Kementerian Perhubungan dengan seluruh maskapai nasional yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Penerbangan Indonesia atau INACA untuk berkomitmen menurunkan tarif tiket penerbangan antara 20 hingga 60% tanpa mengurangi standar keselamatan dan keamanan penerbangan.

Dampak yang Mulai Dirasakan

Kita semua berharap untuk tetap dapat merasakan penerbangan yang terjangkau yang tetap memprioritaskan keselamatan dan keamanan penerbangan. Karena jika harga tiket pesawat tetap tinggi seperti ini maka Indonesia akan merugi.

Pariwisata yang selama ini dibangga-banggakan akan kehilangan magnetnya. Pantauan dari berita online pariwisata di Lombok telah mendapatkan imbas penurunan wisatawan dari mahalnya harga tiket pesawat ini, bisnis perhotelan dan usaha kecil dan menengah di daerah wisata tentunya akan kehilangan pendapatannya.

Tidak hanya itu saja, bisnis logistik ke seluruh Indonesia mungkin saja akan terkena dampak, hal ini akan berimplikasi pada bisnis e-commerce di Indonesia yang berpangku pada pengiriman barang secara online dan tentunya konektivitas antar daerah yang selama ini dicita-citakan bersama akan terhambat.

Kita tunggu saja bagaimana pergerakan harga tiket pesawat hari-hari ke depan, penulis tidak ingin dengan harga yang ‘terjangkau’ membuat maskapai menanggung banyak hutang lalu menjadi bangkrut, tetapi tak ingin pula masyarakat terhambat mobilitasnya karena tak mampu membeli tiket pesawat yang melambung tinggi, setinggi pesawat yang terbang di langit.

Sumber Gambar: Klik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s