Mengapa Garam Bisa Langka

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Radar Banjarmasin edisi Senin, 21 Agustus 2017. Berisi pandangan saya mengenai kelangkaan garam yang sempat terjadi di Indonesia dengan ironi bahwa negera ini memiliki luas pesisir terbesar kedua di dunia. 

***

Petani-GaramNegara kita adalah negara yang kaya. Negara kepulauan terbesar di dunia, dengan luas laut mencapai 5,3 juta km persegi dan panjang pesisir pantai lebih dari 99.000 km, menjadikan negara ini memiliki garis pantai kedua terpanjang di dunia. Ditambah lagi negara ini berada di wilayah khatulistiwa sehingga mendapatkan penyinaran matahari terbaik sepanjang tahun. Bentang alam yang demikian luas dan kaya, mustahil bagi Indonesia mengalami kelangkaan garam.

Hal inilah yang acapkali saya baca melalui status di dunia maya mengenai fenomena kelangkaan garam yang terjadi saat ini. Seolah-olah terdapat korelasi yang erat antara luasnya lautan dan panjang pesisir pantai dengan produksi garam nasional. Sebagian besar dari kita mungkin akan berpikiran bahwa semua pesisir pantai dapat memproduksi garam. Tinggal tampung air laut, lalu tunggu hingga menguap dengan bantuan matahari, maka tak lama akan terendap kristal-kristal garam yang siap untuk dipanen.

Permasalahan Produksi

Kenyataan yang terjadi tidak sepenuhnya demikian. Kelangkaan garam yang terjadi saat ini hingga menyebabkan melambungnya harga hingga tiga kali lipat disebabkan oleh banyak hal. Penyebab utamanya adalah karena terjadinya banyak gagal panen sejak tahun 2016 silam. La nina yang menyebabkan musim kemarau basah, curah hujan tinggi menggangu penguapan garam, sehingga terjadi penurunan produksi. 

Selanjutnya, sistem produksi garam di Indonesia masih bersifat sederhana, dengan minim sekali teknologi. Para petani garam memanen garam di atas tanah, akibatnya kualitas garam yang dihasilkan rendah, karena tercampur kotoran dan tanah. Kualitas garam yang rendah mengakibatkan harga garam yang murah.

Berdasarkan jenisnya garam terbagi menjadi dua bagian besar, garam konsumsi dan garam industri. Sedangkan berdasarkan kandungan NaCl yang terdapat pada garam terbagi menjadi beberapa peruntukan yaitu; garam pengawetan ikan, garam konsumsi, garam industri dan garam farmasi (untuk keperluan infus, shampo dan cairan diasiliat).

Garam industri dan farmasi mensyaratkan garam yang bersih, memiliki kandungan NaCl di atas 97% dan kandungan magnesium yang rendah. Sayangnya sebagian wilayah dan petani kita belum mampu untuk menghasilkan garam dengan kualitas yang terbaik.

Karena produksi dalam negeri belum mampu mencukupi maka pemerintah membuka keran impor bagi masuknya garam industri. Tetapi disinilah kemungkinan letak penyimpangan, garam impor ikut membanjiri pasar konsumsi sehingga membuat harga garam anjlok, harga garam lokal rendah karena suplai yang tinggi, petani tentunya yang dirugikan, akhirnya tak merangsang dalam perluasan ladang.

Hal ini menjadi pemicu masalah selanjutnya. Minim sekali peningkatan untuk ladang garam, bahkan petani berpindah pencarian ke arah yang lebih menjanjikan seperti tambak ikan dan udang dan permukiman. Sehingga peningkatan kuantitas produksi garam tidak berkembang dengan baik.

Sedangkan untuk meningkatkan jumlah produksi, tidak semua wilayah pesisir pantai mampu memproduksi garam. Menurut Siswono Yudo Husodo (2017) Banyak lokasi produksi garam yang tak ideal terletak di daerah dengan curah hujan tinggi, tingkat kelembapannya tinggi, dekat muara sungai yang mengakibatkan tingkat salinasi/kadar garam lautnya rendah dan kotor, serta banyak yang letaknya jauh dari pusat distribusi logistik. Teknologi yang digunakan sudah ketinggalan zaman. Semua itu menyebabkan produktivitas, kualitas, dan daya saingnya rendah.

Sebagai contoh, di seluruh Australia yang luas itu, tempat pembuatan garam terkonsentrasi di satu tempat, yaitu di West Coast, di lima lokasi (Shark Bay, Lake Mcleod, Onslow, Dampier, danPort Headland) yang memiliki pantai landai dengan curah hujan sangat rendah, kadar garam lautnya tertinggi, kelembapan udara sangat rendah, dan tak ada muara sungai. Ini membuat kualitas garam Australia berkualitas tinggi dengan biaya produksi murah, menghasilkan 14.500.000 ton per tahun. Bandingkan Indonesia di ratusan lokasi, di 46 kabupaten, di 9 provinsi dengan luas tambak 25.830 hektar dengan 31.432 petambak garam, dengan produksi saat ini sekitar 2 juta ton per tahun (Husodo, 2017).

Itulah mengapa penjang garis pantai yang dimiliki suatu negara tidak berbanding lurus dengan jumlah produksi garam. Kanada, negara yang memiliki garis pantai terpanjang kalah dengan jumlah produksi Tiongkok, USA, dan India.

Garam di Gunung

Di samping itu, garam tidak hanya terdapat di laut. Di gunung pun kita mampu mendapatkan sumber garam. Di Pegunungan Himalaya terdapat suatu kawasan yang bebatuannya mengandung garam dengan kualitas tinggi, konon menjadi garam terbaik di dunia. Pada sejarahnya selama 200 juta tahun lava dan es telah mengubur lautan garam sehingga menjadikanya membatu. Karena terjaga oleh proses alam secara alami maka garam yang dihasilkan pun menjadi sangat murni.

Cerita ini merupakan sebuah pendangan baru, produksi garam tidak hanya menguapkan air laut tetapi juga dengan proses menambangnya. Seperti menambang minyak bumi atau batuan hasil tambang. Garam yang diuapkan selama satu bulan melalui bantuan matahari tentu akan kalah kualitasnya dengan proses alam selama jutaan tahun.

Jadi bukan karena kita memiliki garis pantai yang panjang, laut yang luas, sehingga mustahil garam menjadi langka. Banyak faktor yang mempengaruhi produksi garam lokal kita. Proses produksi bergantung pada penyinaran matahari, tidak semua wilayah pesisir dapat menjadi ladang garam, dan teknologi yang minim.

Kebijakan impor untuk menjawab kelangkaan garam merupakan langkah yang tepat, tetapi tentunya hanya sebatas memenuhi kebutuhan rakyat dalam jangka pendek. Ketika garam lokal telah membanjiri pasar, maka impor harus dihentikan. Karena garam lokal yang dihasilkan para petani, merupakan penghidupan petani miskin di pesisir. Di balik asinnya garam, tersimpan manisnya harapan mereka.

Sumber Gambar: Klik

Iklan

Satu respons untuk “Mengapa Garam Bisa Langka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s