Ibu Susi, Saya Takut Makan Ikan

_8156679792Ibu Susi seorang menteri yang kini merangkap menjadi penyuluh agar kita gemar makan ikan. Himbauan Ibu Susi makin hari makin mengerikan saja, dulu ia menghimbau yang tidak suka makan ikan akan ditenggelamkan, tempo hari ia meminta makanan lebaran harus mengandung ikan pula, jika tidak, lagi-lagi akan ditenggelamkan. Kasihan tentunya bagi kebanyakan manusia yang tidak mampu berenang, ditenggelamkan ya langsung tenggelam, tidak bisa memberikan perlawanan.

Maksud ibu Susi baik, beliau melihat banyak masyarakat yang sedang kekurangan asupan gizi, sehingga pikiran masyarakat cenderung menjadi sempit dan mudah untuk dipecah belah. Ini pasti dampak gemarnya kita semua makan-makanan cepat saji, suka sekali dengan hal-hal yang instan.  Melihat berita sekilas lalu dengan mudah untuk mempercayai.

Saya tentunya mendukung sekali anjuran Ibu Susi, tetapi jujur saya takut makan ikan. Bukan karena alergi, rasanya atau bentuknya tidak instagramable—berbeda dengan paha ayam—tetapi ada alasan yang akan saya jelaskan lebih lanjut. Semoga Ibu Susi membaca kekahawatiran saya ini.

Keengganan saya untuk memakan ikan, khususnya ikan laut adalah karena plastik. Laut saat ini tak ubahnya menjadi tempat pembuangan sampah terbesar di dunia. Tentunya bukan ikan, gurita, maupun spongebob yang membuang sampah. Kita, ya, kita manusia ini yang tinggal, hidup, makan, tidur di darat tetapi berbaik hati berbagi dengan laut.

Semua berawal dari sampah yang kita buang sembarangan. Bagi yang tinggal di sekitar sungai, tidak ada tempat sampah yang paling praktis dibandingkan membuang langsung ke aliran sungai. Buang saat ini, beberapa saat kemudian kresek sampah yang kita buang menghilang dari tempat asal, kehebatan sulap yang tidak akan mampu ditandingi Om Demian.

Maka tak heran menurut penelitian permodelan Jenna Jambeck dari Universitas Georgia pada tahun 2015, bahwa Indonesia menjadi negara kedua terbesar penyumbang sampah ke Laut setelah Tiongkok dengan prediksi total sampah sebanyak 3,2 ton. Walaupun saya mengira sampah-sampah tersebut produk asalnya juga dari Tiongkok.

Saya juga tak semerta menyalahkan masyarakat karena membuang sampah ke aliran sungai, mungkin saja juga karena buruknya pengelolaan sampah di negeri ini. Masyarakat kesulitan membuang sampah karena tempat pembuangan sampah sementara jaraknya cukup jauh, jika pun ada isinya sudah penuh tak terangkut, jika tetap dipaksakan dibuang, akan meluber ke pinggir jalan, dan menimbulkan bau serta pandangan yang tak enak. Bayangkan perkara membuang sampah saja sudah begitu ribetnya.

 Nah dampak dari sampah yang arisan di laut adalah tingginya tingkat hewan laut yang kena PHP. Bayangkan saja, ikan tentunya tidak mampu untuk membedakan mana sisa kulit ayam KFC dengan bungkus makanan styrofoam, penyu tidak bisa membedakan sisa nasi padang yang tak termakan dengan plastik permen lolipop, dan burung-burung laut dengan mudah tertipu dengan plastik yang mengambang. Jadilah hewan-hewan laut tersebut akhirnya mati karena perut dipenuhi sampah plastik dan hatinya terluka karena harapan palsu. “Tak ada yang lebih kejam dari plastik yang dimakan di Bulan Juni.”

Akan tetapi ada bahaya yang lebih besar yang tak terlihat oleh mata telanjang kita, yaitu pencemaran plastik berukuran mikro hingga nano. Ukuran mikro itu benar-benar kecil loh, untuk melihat benda berukuran tersebut perlu bantuan mikroskop dan jas lab. Tapi jangan juga dianggap ukuran mikro itu absolut sangat kecil, karena jika dilihat oleh Fahri Hamzah, Jonru dan kawan-kawannnya, kesalahan berukuran mikro akan menjadi sebesar gajah.

Plastik berukuran mikro ini biasanya berasal campuran pembersih wajah, kosmetik, material tekstil sintetis, tali, pipa, dan cat yang memang mengandung plastik mikro. Selain itu, plastik mikro dan nano biasanya juga berasal dari hasil penguraian secara alami dari plastik besar selama bertahun-tahun lamanya.

Padahal plastik mikro tersebut memiliki kandungan bahan kimia berbahaya bagi tubuh. Ikan-ikan kecil yang memakan plastik mikro yang mereka kira adalah plankton dan mengendap di tubuhnya. Lalu ikan kecil, dimakan oleh ikan besar. semakin besar ikan predator maka semakin tinggi cemaran plastik mikro yang terakumulasi di tubuh mereka. Bayangkan rantai makanan terakhir adalah kita manusia, yang memakan ikan predator tersebut di warung lalapan favorit pinggir jalan.

Hal di atas tentunya bukanlah cerita rekaan saya belaka. Berdasarkan riset bersama antara Universitas Hasanuddin dan University of California, bahwa mereka menemukan cemaran plastik mikro di saluran pencernaan ikan dan kerang yang dijual di tempat pelelangan ikan terbesar di Makassar, Sulawesi Selatan.

Sepertiga dari sampel ikan yang diuji atau lebih tepatnya 28 persennya mengandung plastik mikro. Fakta lain yang lebih spesifik dari sepuluh ekor teri, empat diantaranya mengandung plastik mikro.

Itulah alasan saya mengapa saya takut memakan ikan yang selama ini dianjurkan oleh Ibu Susi. Saya takut plastik bungkus roti yang dibuang teman saya akan saya makan lagi dalam bentuk ikan yang digoreng maknyus. Ya mungkin saja kekhawatiran saya berlebihan, tetapi tak ada salahnya kita waspada akan fenomena ini.

Terakhir, mungkin sebaiknya Ibu Susi juga harus menenggelamkan para pembuang sampah ke sungai, karena jika dibiarkan kita tidak hanya merasakan beras plastik, tetapi juga akan makan ikan plastik. Sungguh ini akan mengecewakan hati Gaj Ahmada jika masih hidup di dunia, bersusah payah menyatukan lautan di Nusantara, tetapi ternyata, ikan di dalamnya hanya ikan plastik. Juga pasti akan menyinggung hati nelayan di negeri ini, karena yang memancing ikan plastik hanyalah anak-anak kecil yang telah membayar lima ribu rupiah di pasar malam.

Sumber Gambar: Klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s