[Cerpen] Mencari Alasan

Di ujung gang sepi aku duduk, bernaung pada pos kamling yang juga tak terawat. Warga enggan bersilahturahmi dengan meronda. Mereka berpikir praktis, membayar seorang penjaga malam, daripada harus berjalan mengelilingi komplek di malam hari yang dingin.

Jadilah pos kamling ini menjadi tempat tongkronganku setiap harinya, dari pagi hingga tengah malam. Seorang pengangguran ini, menganggap tempat ini sebagai surga, karena rumah yang banyak orang anggap sebagai istana, kini berubah bentuk menjadi sangat membosankan. Ejekan istri yang menganggap aku tak becus menjadi suami, hingga amarahnya karena sudah sebulan tak diberi nafkah. Keluar rumah membuat telingaku lebih waras, tentunya.

Istri yang seharusnya menutup aib rumah tangga, kini seolah menjadi TOA mesjid yang menyebarkan segalanya kepada siapa saja, seolah masalah akan selesai dengan hanya diceritakan, menganggap uang akan didapat ketika tetangga tahu letak kerak di panci. Aku heran dengan istriku ketika ia tak mau mengerti bagaimana susahnya mencari kerja di zaman sekarang. Bagaimana pertarungan mencari rupiah seperti bertarung di Coloseum, mempertaruhkan nyawa.

Aku memang mengerti segala himpitan ini membuat segalanya sesak. Bernapas susah, apalagi lambung anak dan istriku yang senantiasa kosong tak terisi. Tapi siapa yang menginginkan demikian? Semua orang tentunya ingin menjadi raja yang segala ingin terpenuhi, kenyataannya hidup bukanlah khayalan yang dengan mudah dirangkai, dibentuk dan dihiasi dengan begitu indah. Dan aku seorang tak berpendidikan, yang hanya memiliki kemampuan membaca dan perjumlahan dan pengurangan angka rasanya tak pantas untuk berdiri sejajar dengan para sarjana yang sekarang mengantri mencari kerja dengan stelan rapinya.

“Ngelamun aja, bang?”

Ada yang menyapaku ketika pikiranku melayang, aku duduk bersandar dan tak menjawab pertanyaan.

“Aku lihat, abang di sini mulu setiap hari.”

“Kerjaan susah sekali dicari. Jangan sok perduli, dirimu juga sama denganku, bocah.”

Dihadapanku ada seorang remaja yang kini berhenti kuliahnya. Katanya ia bosan belajar, belajar tak juga membuat otak pintar jika setiap ujian seluruh mahasiswa saling bekerja sama, saling mencontek. Mengerjakan tugas pun demikian. Dosen menjelaskan, lebih khusyuk memainkan gadget daripada mendengarkan. Lalu untuk apa terus kuliah, buang-buang uang spp saja.

Hmm. Mendengarkan alasannya aku indahkan saja. Bocah bodoh memang, sok idealis, sekarang yang dibutuhkan bukannya ilmu, tetapi ijazah, kalau bisa dengan IPK yang tinggi. Tapi aku urungkan nasihat itu, mana mau ia mendengarkan perkataan yang bahkan tak lulus SMA ini.

“Bang, ngga dicari istri, nongkrong di sini terus?”

“Istriku baru mencari kalau aku sudah menjadi jutawan. Sekarang aku menjadi orang yang merdeka.”

“Hahaa.. Dasar orang tua, perempuan memang akan datang kalau kita punya segalanya, selagi masih belum punya apa-apa, ya siap-siap tak dianggap kita ada.”

“Sok tua lu, bocah. Sekarang aku tantang kamu main catur, kalah harus beli makanan di warteg.”

Bocah ini memang banyak omong, tapi ia memang perduli dengan diriku saat ini. Ia mengerti apa yang aku rasakan. Mungkin ia sebenarnya berbakat menjadi psikolog, sayang ia kuliah di jurusan teknik, ya, ngga sampai-sampailah otaknya.

***

   Malam tiba di pos kamling yang sepi ini. Paijo, tukang jaga malam komplek ini mengabarkan tak bekerja lagi malam ini. Miskin saja sudah pandai korupsi, makan gaji buta. Jadilah aku dan bocah berada di sini berdua, sepi, hujan sore yang tadi hujan dengan lebatnya. Membuat siapa saja enggan untuk keluar rumah. Remang-remang lampu jalanan, dinginnya udara malam, membuatku dadaku sesak, pikiranku melayang kembali, dan napasku berat. Sudah sejak lama. Semenjak istriku merajuk karena tak kuberi uang belanja.

   “Bang, cewek cantik tuh.”

   Bocah ini menunjuk kepada wanita yang lewat pos kamling ini dengan tergesa. Aku menatap pinggulnya yang bergoyang dengan sempurna. Tubuhnya yang dirasa pas lekukkanya. Jakunku naik turun menahan air liur yang tak terkendali.

   “Kita ajak kenalan, yuk.”

***

   Aku kini berada di luar pulau. Berkunjung ke rumah orang tuaku yang telah lama tak aku kunjngi. Sejak malam itu aku sudah tak karuan untuk tidur, aku merasakan gelisah, panik dan merasa ada yang terus membututi. Sejak malam itu aku berpisah dengan bocah bodoh itu. tak kuketahui nasibnya bagaimana kini.

     Malam itu aku bukan menjadi diriku. Mataku berubah menatap wanita itu. Melampiaskan semuanya yang terpendam selama ini. Lalu dengan penuh kerisauan aku berupaya menghapus semua jejak perbuatan kami.

Komplek perumahan itu tiba-tiba gempar ketika pagi hari dan kini aku berusaha mencari pembenaran atas segala tindakanku. Aku mencari kambing hitam, menyalahkan siapa saja, karena aku merasa selalu benar. Salah siapa ia bertubuh seksi, salah siapa ia berbaju ketat memamerkan lekuk tubuh, dan salah siapa ia lewat ketika hari sepi di malam yang dingin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s