Dilema Transportasi Berbasis Online

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Banjarmasin Post edisi Sabtu, 18 Maret 2017. Merupakan pandangan saya mengenai hadirnya transportasi berbasis online yang hadir beberapa tahun terakhir, dari kelebihan, potensi, dan rivalitas usaha, serta harapan permerintah untuk menjadi penengah dalam masalah ini.

*** 

Hadirnya transportasi berbasis online (TBO) beberapa tahun terakhir memberikan warna baru dalam peta transportasi di kota-kota besar Indonesia. Tidak bisa dipungkiri, berkembang pesatnya TBO merupakan jawaban atas ketidakmampuan pemerintah untuk menyediakan transportasi publik yang layak, murah, dan nyaman bagi masyarakat.

transportasi onlineKondisi ini terjadi di semua kota besar, transportasi publik yang dirancang dengan dana sangat besar, tidak bisa berbuat banyak ketika harus berhadapan dengan TBO yang dihadirkan oleh para orang kreatif yang menawarkan kemudahan dan keterjangkauan harga. Cukup dengan menggunakan smartphone yang hampir dimiliki semua lapisan masyarakat, kebutuhan moda transportasi untuk berpergian maupun mengantarkan barang tiba dengan cepat hanya berbilang menit.

Kehadiran TBO merupakan sebuah bentuk creative disruption. Disruption dalam ini merupakan  perubahan akibat dari trend lama yang terputus atau yang tak terpakai lagi karena dianggap telah usang. Sehingga terciptalah sebuah trend baru, yang datang seiring dengan kamajuan teknologi, arus globalisasi, dan keinginan manusia untuk membuat segala hal menjadi lebih praktis dan efesien.

Sehingga akibatnya, segala hal yang bersifat konvensional dan tak mampu mengikuti inovasi yang terjadi saat ini, maka tak lama lagi akan ditinggalkan dan berangsur akan tumbang. Setidaknya ada banyak kelebihan yang dimiliki TBO saat ini:

Pertama, hadirnya TBO menurunkan biaya pencarian. Semua pasti memahami masalah yang dialami angkutan kota di kota ini, para sopir harus berputar-putar untuk mendapatkan penumpang. Begitupun bagi penumpang, mereka harus menunggu angkutan di jalan dan harus bersabar pula ketika angkutan tersebut melakukan ngetem. TBO datang untuk memotong mata rantai permasalahan tersebut.

Brishan Roger (2015) berpendapat bahwa layanan Uber menurunkan biaya pencarian (search cost) baik untuk penumpang dan sopir. Sehingga penumpang dengan mudah membuka aplikasi dan menentukan sopir dan sopir pun tidak perlu kesulitan lagi mencari penumpang.

Kedua, Tarif diawal yang ditawarkan TBO memberikan keuntungan untuk menghindari prilaku buruk dari sopir atau pengemudi angkutan. Para pengemudi yang seenaknya dalam menentukan harga atau kenakalan pengemudi berbasis argometer dengan memilih rute yang jauh untuk sampai tujuan tidak akan kita temui dalam TBO. Karena TBO tidak memberikan insentif tambahan biaya, ketika tidak melewati rute terdekat yang telah ditentukan oleh aplikasi.

Ketiga, TBO memberikan standar pelayanan yang prima. Penumpang akan diberikan helm yang wangi dan masker ketika menggunakan ojek online atau kondisi mobil yang bersih, wangi, pendingin yang terjaga, dan prilaku pengendara yang tidak ugal-ugalan. Hal ini karena terdapat sistem rating/reputasi untuk menilai kinerja pengemudi. Pengemudi dengan reputasi yang buruk maka akan diberhentikan dengan segera oleh pengembang aplikasi.

Walaupun sistem rating ini cenderung bersifat subjektif dan tidak sempurna. Kita akan dengan mudah memberikan rating yang tinggi hanya karena pengemudinya berwajah ganteng, walaupun pelayanan yang diberikan di bawah standar. Atau karena mood penumpang yang sedang tidak baik, maka dengan mudah melampiaskan emosi dengan memberikan penilaian yang buruk kepada pengemudi. Akan tetapi dari ketidak sempurnaan tersebut, sistem reputasi merupakan patokan pengemudi untuk terus memberikan pelayanan terbaik setiap saat.

Keempat, TBO mampu meningkatkan produktivitas terkait tenaga kerja. Layanan online tidak saja menyediakan lapangan pekerjaan baru tetapi juga memberikan peluang seorang pekerja kantoran untuk mendapatkan penghasilan tambahan di waktu luangnya. Jam kerja yang tidak terikat membuat seseorang mau bekerja lebih giat.

Di samping itu layanan online mampu meningkatkan utilitas suatu modal atau aset secara maksimal, sehingga aset yang dimiliki lebih produktif.  Fenomena ini sedikit banyak juga terjadi pada perusahaan rental mobil. Sejak ada layanan online, mereka bisa menyewakan aset mereka (mobil) yang menganggur ke sopir Uber,Grab, maupun Go Car.

TBO membongkar bisnis ojek pangkalan yang tidak efisien (karena pengojeknya lebih banyak menganggur) dan kadang menetapkan tarif sesuka hati. TBO saat ini juga mulai mengganggu bisnis kurir, dengan mengirimkan barang apapun saat itu juga tanpa mempertimbangkan minimum volume atau jadwal pengiriman.

Di Kota Banjarmasin pengaruh TBO mulai hadir. Nama-nama usaha seperti Bang Jeck, Kulir, IndieJeck, Black Jek, Akang Juara, Amang Ojek, B-Trans, dan Mang Antar telah dikenal oleh masyarakat daerah ini untuk memudahkan kegiatan mereka. Dari jasa transportasi, pengiriman barang, pemesanan makanan bahkan layanan mengantri tiket bioskop (karena antrian bioskop satu-satunya di daerah ini sudah kurang manusiawi).

Meskipun pengembang TBO di daerah ini masih terbilang kecil, tetapi geliat ini telah cukup mengganggu usaha jasa transportasi konvensional menjadi semakin terpuruk. Masyarakat tentunya tidak ingin apa yang terjadi akhir-akhir ini dengan insiden tabrak lari sopir metro mini terhadap pengojek online atau demonstrasi angkutan umum di Kota Bandung yang berakhir dengan anarkis.

Kita semua tentu menginginkan keharmonisan terus hadir di daerah ini. Untuk melarang masuknya TBO sudah barang tentu tidak mungkin, karena hal itu merupakan bentuk siklus. Segala hal akan terjadi pembaruan, menolak TBO sama saja dengan menolak perkembangan zaman.

Para pengusaha Organda mungkin merasa menjadi korban akan hadirnya TBO saat ini. Wajar karena model bisnis mereka berbenturan keras dengan kelebihan yang ditawarkan TBO. Mereka tidak bisa mengintervensi pemerintah untuk melarang aktivitas TBO, pemerintah pun tidak bisa pula semena-mena menjalankan aturan tanpa melihat realitas perubahan.

Maka dari itu, sebelum terjadi perubahan yang lebih masif, pemerintah perlu mengupayakan memberikan regulasi secara legal kepada hadirnya TBO. Regulasi yang adil, agar jasa transportasi konvensional dan TBO sama-sama diuntungkan. Agar di antara mereka tidak terjadi gesekan di lapangan. Bentuk legalitas TBO dapat pula menjadi gerbang pendapatan baru pemerintah dari sektor pajak yang tentunya akan menguntungkan negara.

Selain aspek legalitas layanan, pemerintah perlu menciptakan iklim persaingan yang adil. Hal utama yang menjadi kritikan tajam adalah perusahaan TBO tidak terbebani bebagai kewajiban seperti memakai pelat kuning, membangun pul taksi, meminta perijinan dari dinas perhubungan, memiliki jumlah minimum moda kendaraan, dan penentuan tarif batas atas dan bawah yang selama ini dianggap membebani perusahaan transportasi konvensional. Karena itu pemerintah perlu mempertimbangkan kewajiban mana yang harus juga dibebankan kepada pengusaha TBO agar kesimbangan pasar dapat terjadi.

Selanjutnya perlu pula diperhatikan prihal asuransi bagi pengemudi dan penumpang agar mendapatkan jaminan keselamatan yang sama dengan jasa transportasi lainnya. TBO merupakan bentuk nyata perubahan zaman, tentunya semua hal perlu dikaji ulang untuk melegalkan TBO, membuang yang buruk dan mengambil sisi baiknya.

Sumber Gambar: Klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s