Mengantisipasi Macetnya Kota Banjarmasin

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Banjarmasin Post edisi Sabtu, 28 Januari 2017. Merupakan pandangan saya mengenai kemacetan yang mulai menghampiri di Kota Banjarmaasin dan upaya yang mungkin dapat diambil oleh pemerintah untuk mengantisipasinya. 

***

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”

macet-banjarmasin-2Kalimat di atas mungkin tidak asing lagi di telinga kita. Merupakan kalimat satir yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma akibat melihat kemacetan di Jakarta yang kini sudah tidak manusiawi lagi.

Berbicara soal kemacetan di kota-kota besar, jawaban masalah tersebut sebenarnya sangat sederhana. Logikanya seperti ini, jika ingin memiliki rumah yang lapang, maka bangun rumah yang besar atau kurangi perabotan rumah yang tidak terlalu bermanfaat. Maka langkah yang diambil adalah dengan membangun banyak jalan atau mengurangi jumlah kendaraan di jalan. Ini langkah yang sangat efektif tetapi sulit untuk diimplementasikan.

Pemerintah Kota Banjarmasin saat ini berencana untuk membangun banyak flyover di berbagai ruas jalan. Tetapi harus berapa banyak flyover yang dibangun agar Banjarmasin bebas macet? Begitu pula dengan usaha pelebaran ruas jalan dan pembangunan ruas jalan untuk menyambungkan daerah yang belum terhubung. Berapa nominal yang harus dikeluarkan pemerintah untuk ganti rugi lahan warga, pembangunan dan perbaikan jalan? Apakah lahan di Kota Banjarmasin tidak terbatas sehingga dapat membangun akses jalan kapan saja?

Jika membangun jalan menjadi terbatas karena tidak ada lagi ruang untuk pembangunan dan pelebaran jalan, maka usaha mengatasi kemacetan yang paling sederhana lainnya adalah dengan mengurangi kendaraan di jalan. Minimal dengan tidak menambah lagi kendaraan di setiap tahunnya. Apakah bisa? Kenyataannya laju pertumbuhan kendaraan bermotor di Kota Banjarmasin sangat tinggi.

Pemerintah pusat acap kali mengambil kebijakan yang bertentangan. Ingin menghilangkan kemacetan tapi membuka pintu lebar-lebar agar mobil murah masuk ke Indonesia, membuat proses pembiayaan kredit yang mudah untuk kendaraan bermotor, pajak kendaraan bermotor yang terbilang murah jika dibandingkan dengan negera tetangga. Maka dampak yang akan dirasakan di seluruh kota di Indonesia akan sama. Kendaraaan bermotor akan terus bertambah, sedangkan jalan akan begitu-begitu saja, maka kemacetan hanyalah menunggu waktu.

Lalu banyak orang beranggapan, dengan menghadirkan angkutan umum maka akan mengatasi macet. Setidaknya untuk memutuskan berpindah dari transportasi pribadi ke transportasi umum, minimal tiga syarat yang harus dimiliki oleh transportasi umum tersebut. Yaitu lebih murah, lebih cepat dan lebih nyaman. Cepat mengacu pada efesiensi waktu, baik itu waktu tempuh perjalanan, rute angkutan yang melingkupi seluruh wilayah kota, dan waktu tunggu armada jalan. Murah berasosiasi kepada tarif yang lebih murah jika dibandingkan menggunakan angkutan pribadi. Nyaman berdasarkan kemudahan angkutan umum itu dijumpai, kondisi di dalam angkutan umum, serta keamanan penumpang saat menggunakan angkutan umum.

Jika ketiga hal tersebut masih belum dimiliki angkutan umum di Kota Banjarmasin, maka masyarakat akan enggan berpindah dari angkutan pribadi dan upaya pemerintah mengurangi kemacetan dengan kebijakan transportasi umum hanyalah mimpi belaka.

Sebagai contoh, penulis beberapa kali menggunakan taksi (sebutan angkutan antar kota di daerah ini) dari Terminal Pal 6 menuju Pelaihari. Faktanya, perlu waktu dua jam untuk menunggu taksi tersebut akhirnya beroperasi. Alasannya manusiawi, menunggu penumpang lain, dan setelah lama menunggu, penumpang yang ada hanya berjumlah enam orang. Hal ini tentunya tak menguntungkan bagi sang supir taksi, tetapi yang lebih dirugikan tentunya penumpang, waktu untuk menunggu angkutan tersebut jalan, lebih lama dibandingkan waktu tempuh sampai ke tujuan. Belum lagi kondisi angkutan yang kurang nyaman. Jika seperti ini, maka siapa yang akan menggunakan angkutan umum?

Perencanaan transportasi umum perlu dikaji lebih mendalam, baik dari segi pangsa pasar, keberlanjutan operasional, kesejahteraan pekerja angkutan umum, kenyamanan hingga tarif yang tidak memberatkan penumpang. Jangan sampai investasi besar untuk menghadirkan transportasi umum di Kota Banjarmasin berakhir sia-sia. Tentunya kebijakan transportasi umum tidak ingin bernasib sama dengan Terminal Km 17 saat ini, bukan?

Kebijakan lain yang dapat diambil dalam mengurai kemacetan di Kota Banjarmasin adalah dengan penggunaan jalan satu arah, sederhananya, mekanisme ini dapat menambah kapasitas jalan dan memindahkan volume kendaraan di ruas jalan yang tinggi ke ruas jalan yang cenderung sepi. Dapat pula dengan membatasi arus belok kanan, sehingga dapat mengurangi kepadatan di persimpangan. Melakukan manajemen lampu persimpangan yang efektif, tidak terlalu lama dan tidak pula terlalu singkat.

Larangan tegas bagi pedagang kaki lima, pasar tumpah dan parkir di pinggir jalan pada ruas jalan yang sering mengalami kemacetan. Hal ini membantu untuk mengurangi hambatan dalam perjalanan. Pembuatan ruang henti khusus bagi sepeda motor di persimpangan agar akselerasi kendaraan kecil dapat maksimal sehingga memperlancar arus. Dan dapat pula dengan menghidupkan kembali transportasi air. Menerapkan kebijakan jalan berbayar (electronic road pricing) atau sistem 3 in 1 untuk ruas jalan yang sangat padat yang menjadi biang kemacetan.  

Secara garis besar jam puncak (atau dapat pula dianggap sebagai waktu macet) kendaraan di kota-kota besar biasanya terdapat pada saat pagi dan sore hari. Hal ini dihubungkan dengan waktu warga kota berangkat dan pulang dalam beraktivitas. Terkadang jam puncak terjadi pula saat istirahat makan siang. Maka dari itu pemerintah dapat mengambil kebijakan mengubah jam kerja bagi karyawan swasta dan negeri. Karena selama ini masuk dan pulang kerja di waktu yang sama, akhirnya terjadi penumpukan kendaraan di jalan.

Kebijakan di atas tentu hanyalah proses memindahkan kemacetan (meratakan kemacetan) dan menunda kemacetan. Hanyalah menjadi solusi jangka pendek. Solusi utama untuk menambah ruas jalan dan mengurangi kendaraan dirasa sangat berat. Maka satu lagi solusi yang mungkin akan membantu dalam mengurangi kemacetan. Yaitu dengan memindahkan pusat-pusat kegiatan ke luar Kota Banjarmasin.

Kita harus belajar dari Jakarta, kota itu begitu maruk menjadi berbagai pusat kegiatan. Hasilnya? Banyak Warga Jakarta yang menjadi depresi karena kemacetannya. Maka dengan memindahkan atau berhenti membangun pusat pelayanan ekonomi (industri, perdagangan, pasar, tempat hiburan) dan pusat pelayanan sosial (pendidikan dan kesehatan) di Kota Banjarmasin—beruntung pusat pemerintah telah dipindahkan—diharapkan dapat mengurangi volume kendaraan yang melintas di jalan.

Karena transportasi merupakan pergerakan manusia untuk mencapai tempat tujuan. Maka dengan menyebarkan pusat kegiatan ke luar Kota Banjarmasin maka diharapkan pergerakan manusia (kendaraan) akan berhenti terkonsentrasi di Kota Banjarmasin. Tentunya kota-kota yang tergabung dalam BanjarBakula siap berbagi peran untuk membantu.

Sumber Gambar: Klik

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s