Efektivitas Larangan Kantong Plastik

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Radar Banjarmasin edisi Selasa, 19 Juli 2016. Merupakan sebuah pandangan saya terhadap kebijakan Pemrintah Kota Banjarmasin atas larangan memberikan kantong plastik kepada konsumen di toko ritel dan modern.

***

larangan kantong plastikBeberapa kota besar di Indonesia yang beberapa waktu lalu menerapkan kebijakan kantong plastik berbayar kini kembali menggratiskan kantong plastik di pasar modern maupun ritel. Penerapan kantong plastik berbayar yang bertepatan dengan peringatan Hari Perduli Sampah Nasional, pada tanggal 21 Februari 2016 yang lalu hanya berumur tiga bulan saja.

Hal ini berdasarkan pada surat edaran yang ditandatangani antara Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dengan bupati/walikota di hadapan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan para menteri bahwa program kantong plastik berbayar berlaku 21 Februari hingga 31 Mei 2016.

Sehingga sejak 1 Juni, maka tidak ada payung hukum yang menaungi regulasi kantong plastik berbayar ini. Para pengusaha ritel dapat mengambil langkah yaitu dengan menghentikan atau melanjutkan program kantong plastik berbayar tersebut. Terbukti, di Kota Bandung, minimarket-minimarket kembali menggratiskan kantong plastik bagi konsumennya.

Akan tetapi kebijakan ini bukan berarti mengalami kegagalan setelah dilakukan uji coba. Pemerintah pusat sedang merancang peraturan menteri guna menindaklanjuti hasil penerapan kebijakan kantong plastik ini. Dengan kata lain, kantong plastik gratis yang kembali diberikan pengusaha ritel ini bersifat sementara menunggu regulasi baru di bawah Permen Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Langkah Berani

Ketika daerah lain menanti tindak lanjut atas hadirnya peraturan baru yang akan dibuat oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kota Banjarmasin mengambil langkah berani dengan menetapkan peraturan yaitu larangan menyediakan dan menjual kantong plastik di toko ritel modern. Peraturan ini telah termuat dalam Peraturan Walikota Banjarmasin No. 18 tahun 2016 dimana mulai diberlakukan sejak 1 Juni yang lalu.

Hal ini juga sebagai langkah kongkrit guna mengurangi sampah di Kota Banjarmasin yang telah mencapai 600 ton dalam seharinya, dimana lebih dari 50 persennya berasal dari sampah plastik. Penulis mengapresiasi langkah berani yang diambil Pemerintah Kota Banjarmasin ini. Hal ini dikarenakan untuk menumbuhkan keperdulian terhadap lingkungan tidak saja dimulai dari kesadaraan pribadi, tetapi dapat juga bermula melalui paksaan maupun aturan yang terkadang memberatkan.

Pada saat ini mungkin konsumen merasa direpotkan ketika tidak disediakannya kantong plastik setelah membayar belanjaan di kasir. Untuk menggunakan kardus yang disediakan pihak toko, juga memakan waktu dalam menyusun barang belanjaan ke dalam kardus tersebut. Terlebih ketika ingin menenteng barang belanjaan dengan tangan kosong, akan sangat merepotkan terlebih ketika barang belanjaan yang dibeli cukup banyak.

Tetapi semua itu hanya sementara, ketika kebiasaan berbelanja tanpa kantong plastik ini tumbuh, maka kejadian ini tak akan memberatkan kembali.

Pro Kontra Kantong Plastik

Penggunana kantong plastik selepas belanja mengalamai pro kontra dari berbagai pihak. Terlebih ketika diterapkannya kebijakan kantong plastik berbayar yang telah diterapkan beberapa waktu lalu. Harga 200 rupiah yang dinilai terbilang murah dan tak menimbulkan dampak yang memberatkan bagi konsumen. Sehingga mayoritas masyarakat mungkin tak berkeberatan untuk membeli kantong plastik atas nama kepraktisan dalam berbelanja. Berbeda hal jika kantong plastik dikenai harga tinggi sebesar 5000 rupiah, mungkin konsumen akan berpikir dua kali dalam membeli kantong plastik yang hanya digunakan sementara waktu saja.

Wacana pergantian penggunaan plastik sebagai pembungkus, digantikan oleh kardus dan kantong kertas juga mengalami dampak yang buruk. Walaupun kedua material tersebut mudah untuk diuraikan oleh lingkungan, tetapi bahan baku pembuatan bahan tersebut yang sebagian besar berasal dari pohon juga menjadi bahan pertimbangan nantinya berdampak pada eksploitasi hutan secara besar-besaran.

Sehingga subsitusi ini seperti dua mata pedang yang saling menikam. Maka dari itu solusi final yang harus diambil tidak lain dengan mengembangkan kantong belanja multifungsi yang dibawa sendiri oleh konsumen. Dengan kantong belanja yang multifungsi dan fleksibel, diharapkan peritel maupun pasar tradisional tidak dibebani masalah pembungkus barang belanja konsumen.

Efektivitas Larangan

Menurut data Nielsen 2015 menyebutkan, market share dari industri ritel-toko swalayan (minimarket, supermarket, hipermarket, dan perkulakan) di Indonesia hanya sebesar 26 persen sedangkan ritel pasar rakyat/tradisional mencapai 74 persen. Artinya, kebijakan yang diterapkan oleh Pemerintah Kota Banjarmasin ini hanya akan berhasil jika semua peritel baik toko swalayan maupun pasar rakyat menerapkan kebijakan larangan menyediakan kantong plastik.

Disamping itu, menurut Dr. Hamdaning Pranamuda, Direktur Pusat Teknologi Agroindustri, Badan Pusat Penelitian Terpadu (BPPT), 95% kantong plastik yang digunakan pasar ritel modern dapat diuraikan oleh mikroorganisme selama dua tahun. Berbeda dengan kantong plastik yang berada di pasar tradisional yang belum mencapai 10% kantong plastik yang cepat terurai/ degradable. Sehingga mayoritas kantong plastik yang berada di pasar tradisional membutuhkan waktu 500-1000 tahun baru mampu terurai oleh lingkungan.

Berdasarkan penelitian BPPT pula tahun 2014, tanaman, cacing tanah dan bibit udang yang ditanam di media plastik mudah terurai tidak memiliki dampak negatif yang sangat signifikan. Sehingga dalam hal ini permasalahan kantong plastik yang sulit diurai oleh lingkungan sebenarnya bersumber pada kantong plastik pada pasar-pasar tradisional atau pada pelaku usaha yang belum menyediakan plastik yang mudah terurai/degradable.

Sehingga jika ditengok lebih lanjut, aturan larangan kantong plastik di toko ritel modern tidak berpengaruh signifikan terhadap timbulan sampah dan kerusakan lingkungan yang dihasilkan, selama kebijakan pelarangan ini masih mengarah ke toko ritel modern.

Akan tetapi penulis menyadari, bahwa kebijakan yang dibuat haruslah secara bertahap sehingga tidak mengagetkan dan memberatkan masyarakat, terlebih semakin hari harga kebutuhan pokok yang sulit untuk terjangkau. Melalui aturan ini pula, penulis kembali mengapresiasi bahwa kebijakan ini merupakan tonggak awal perubahan kebiasaan dan kesadaran masyarakat untuk perduli akan lingkungan.

Melalui penetapan aturan larangan kantong plastik ini pemerintah juga berharap untuk kembali membudayakan kearifan lokal berupa bakul purun bagi masyarakat banjar sebagai kantong belanja. Terlepas dari ini semua, membawa kantong belanja baik berupa bakul purun maupun kantong belanja multifungsi bagi konsumen merupakan langkah terbaik guna mengurangi timbulan sampah plastik di Kota Banjarmasin.

Karena perubahan besar diawali dari diri sendiri dan dilakukan secara bersama-sama. Mari menolak menggunakan kantong plastik ketika berbelanja.

Sumber Gambar: Klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s