Indonesia Tanpa Jakarta

jakartaTerpantik untuk menulis esai tentang Jakarta setelah membaca esai Seno Gumira Ajidarma yang berjudul ‘Jakarta Tanpa Indonesia’ yang termuat didalam buku kumpulan esai ‘Tiada Ojek di Paris’. Seno begitu anggunnya menggambarkan ringkihnya Jakarta—yang dipandang digjaya, oleh banyak orang—tanpa daerah yang menopang penghidupan kota pusat segala-galanya Indonesia ini.

Jakarta bagi manusia yang berasal dari daerah, terlebih yang berasal dari luar Pulau Jawa adalah sebuah kota yang gemerlapan, kilauan yang tak ada akhir. Cahaya yang mengundang laron untuk mengerubungi. Jakarta adalah gula, dimana semut dari penjuru rumah akan menghampiri, berkumpul, berdesakan. Jakarta bagi saya bukanlagi menjadi sebuah ruang, tetapi telah menjelma menjadi identitas yang tak tergapai.

Rasanya saya menjadi begitu inferior ketika berhubungan dengan Jakarta. Kota yang dipenuhi oleh gedung bertingkat, kompleksitas kehidupan, dan kemacetan yang tak terobati. Saya selau berpikir, Jakarta merupakan gambaran Bhineka Tunggal Ika yang sesungguhnya. Jakarta merupakan pusat pemerintahan, pusat pengendali arus uang, kokpit dimana Indonesia menentukan arah tujuan.

Jakarta merupakan tempat bersandarnya jutaan impian para kaum pendatang ketika habis lebaran dan tempat kerasnya impian tersebut harus mendapati kenyataan pahit. Indonesia tanpa Jakarta mungkinkah tetap bertahan? Ini yang menjadi pertanyaan dalam benakku.

Jika Jakarta tak ada, masih mampukan Indonesia membawa kapal oleng yang penuh akan kekayaan. Jakarta yang selama ini lupa, atau mungkin pura-pura tak tahu ketika Suku Amungme yang hidup di Mimika menjalani kehidupan sehari-hari dengan sangat sederhana, padahal tanah yang dipijaknya telah memberikan kemegahan pada Amerika dan mungkin Jakarta. Tak jauh dari itu, bagaimana nasib Dayak Meratus di Kalimantan Selatan yang semakin hari pertambangan dan perkebunan semakin mendekati kehidupan mereka yang masih menjunjung pada kearifan lokal.

Atau pada warga Barabai yang setiap tahun akan merasakan banjir akibat pertambangan yang beroperasi di utara Kalimantan Selatan itu. Masih banyak pula, masyarakat di Kalimantan yang dengan terpaksa harus menjual tanah mereka kepada para penguasa pengusaha pertambangan dengan berbagai ancamana yang melatarbelakanginya.

Dan sebagian besar penduduk Kalimantan Selatan tak perduli akan kenyataan ini. Mereka hidup normal dan bahagia, berselfie di danau beracun hasil dari pertambangan yang ditinggalkan. Berdesakan mengantri tiket bioskop, tertawa renyah di cafe menghabiskan malam. Sedangkan nasib dari rakyat-rakyat kecil yang tertindas tersebut nyaris tak terdengar di media massa. Seolah-olah Kalimantan Selatan benar-benar damai dan sejahtera.

Jika putra daerah sendiri tak memperdulikan apa yang terjadi di daerah ini. Sudah dipastikan Jakarta tak akan mengenal apa itu Pegunungan Meratus yang mulai gundul, apa itu lahan gambut yang hilang akibat perkebunan kelapa sawit, dimana itu hutan-hutan tropis yang menjadi penyangga oksigen dunia.

Jakarta tak akan perduli isu-isu remah seperti ini. Selagi kurs dolar tak meroket, selagi demonstrasi tak terjadi di Senayan, selagi arus uang masih berhimpun disana. Maka tak ada masalah di seluruh penjuru Indonesia. Jakarta dapat beristirahat dalam glamour dan keramaian.

Ketika daerah tidak mampu mendefinisikan masalah yang terjadi di tempatnya sendiri. Dan tak bersuara lantang untuk meminta perubahan kepada Jakarta, kepada Indonesia. Maka kita akan terus disuguhi mati lampu, kabut asap, dan sengketa lahan yang mewarnai kehidupan daerah ini sepanjang tahun.

Indonesia tanpa Jakarta, adalah ketidak niscayaan, karena tak ada yang mampu mengganti Jakarta. Ia begitu kokoh dalam banyak permasalahan yang dimilikinya, ia begitu megah berdampingan dengan kekumuhan sekaligus. Tak ada daerah yang mampu menjadi Jakarta.

Pelaihari, 1 Juli 2016

Sumber Foto: Klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s