Ramadan dan Inflasi

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Banjarmasin Post edisi Kamis, 9 Juni 2016. Merupakan sebuah pandangan saya terhadap kejadian inflasi dan kenaikan harga bahan pokok menjelang dan selama bulan suci Ramadan. 

***

inflasi saat ramadanBulan Ramadan senantiasa dirindukan oleh setiap umat muslim. Dimana pada bulan ini dilimpahkannya segala rahmat dan ampunan, terdapat pula satu malam yang lebih baik dibandingkan beribadah seribu bulan. Sungguh besar nilai Ramadan dimana segala kebaikan dilipat gandakan sedangkan dosa diganjar seperti biasa. Wajar jika umat muslim berlomba-lomba menyambut Bulan Ramadan dengan segala persiapan lalu menjalani hari-hari di bulan ini dengan segala yang terbaik. Baik dari segi amalan dan ibadah maupun dari segi persiapan fisik.

Tidak hanya itu saja, Bulan Ramadan juga dikenal sebagai bulan melambungnya harga-harga kebutuhan pokok yang selalu saja terjadi disetiap tahunnya. Ketika umat muslim bersiap menyambut bulan suci ini, seluruh masyarakat menjadi resah karena beban hidup semakin bertambah. Sedikit banyak, hal ini tentunya menggangu kekhusyuan dalam beribadah.

Kenaikan harga bahan pokok yang terjadi pada menjelang dan selama Bulan Ramadan bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Hal ini selalu saja terjadi di setiap tahunnya. Bahkan, Bank Indonesia dan Pemerintah telah memprediksi besaran nilai inflasi dampak hadirnya Bulan Ramadan.  

Inflasi menurut teori ekonomi dimaknai sebagai suatu keadaan dimana terjadinya kenaikan harga barang dan jasa pada mekanisme pasar. Ada banyak faktor penyebab inflasi pada suatu negara seperti meningkatnya jumlah uang yang beredar dalam masyarakat, berkurangnya jumlah barang di pasaran, inflasi yang terjadi pada negara yang barang dan jasanya negara kita impor (imported inflation), dan yang umum terjadi di negara kita disebabkan oleh kenaikan biaya produksi (Cost Push Inflation) dimana terjadinya kenaikan harga barang-barang disebabkan oleh kenaikan biaya porduksi. Contohnya seperti kenaikan harga BBM, upah minimum provinsi, harga bahan baku, dan meningkatnya pajak yang harus dibayarkan.

Dan faktor inflasi yang sangat dekat pada kondisi akhir-akhir ini diakibatkan karena peningkatan permintaan (Demand Pull Inflation) dimana kenaikan harga barang-barang disebabkan oleh meningkatnya permintaan konsumen akan barang dan jasa tersebut. Hal ini wajar terjadi, karena menurut hukum ekonomi, jika semakin tingginya permintaan maka harga komoditas tersebut akan mengalami peningkatan karena ketidak mampuan pasar dalam menyediakan barang dan jasa tersebut.

Pengendalian dari Pemerintah

Pemerintah tentunya tidak tinggal diam akan inflasi yang terjadi di Bulan Ramadan ini. Terbukti telah banyak kebijakan yang telah diterapkan guna menjaga keseimbangan harga kebutuhan pokok di pasar. Diantaranya dengan melakukan operasi pasar, sosialisasi inflasi, dan transparansi informasi harga pangan. Semua ini dilakukan agar pemerintah dapat memantau ketersediaan barang kebutuhan pokok dan memotong rantai monopoli harga daari pedagang nakal yang memanfaatkan momentum bulan suci ini untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.

Disamping itu pemerintah juga melakukan perbaikan infrastruktur jalan agar sistem distribusi tidak mengalami gangguan. Akan tetapi, operasi pasar yang setiap tahunnya dilakukan pemerintah dengan mengalokasikan dana yang besar tak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kestabilan harga bahan pokok. Demikian pula dengan melakukan impor bahan pangan tetap saja kelangkaan kerap terjadi pada waktu tertentu yang mengakibatkan melambungnya harga kebutuhan pokok.

Akar Permasalahan

Berdasarkan penyebab utama terjadinya inflasi di Bulan Ramadan akibat dari Demand Pull Inflation, dapat dimaknai secara sederhana bahwa Masyarakat Indonesia jauh lebih konsumtif dibandingkan bulan-bulan lainnya. Sehingga akar permasalahan dari melambungnya harga kebutuhan pokok bukanlah sepenuhnya salah pemerintah yang tak mampu menjaga kestabilan harga di pasar.

Faktor dominan yang mempengaruhi adalah bersumber dari pribadi kita masing-masing. Perlu kiranya kita merenungkan bersama, sebagai negara yang memiliki jumlah umat muslim terbesar di dunia dan pada bulan ini sedang melaksanakan ibadah puasa. Lantas mengapa justru tinglat konsumsi kita mengalami peningkatan? Apakah hal ini sebagai bentuk kegagalan kita dalam mengendalikan hawa nafsu.

Fenomena ini sebenarnya dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat yang menurut penulis sering kali terjadi, yaitu kebiasaan ‘balas dendam’ atau ‘lapar mata’ pada saat menjelang berbuka puasa. Dapat kita cermati ketika pasar wadai dan area pinggir jalan dipenuhi sesak oleh masyarakat yang membeli hidangan berbuka dengan beraneka rupa macam bentuk rupa dan warna. Ketika waktu mendekati berbuka, semakin banyak saja keinginan makanan yang ingin dicicipi.

Hasilnya di meja makan ketika berbuka akan dipenuhi berbagai varian makanan yang bahkan di bulan lainnya tak pernah kita makan sebegitu banyak jumlahnya. Sehingga terjadilah hal yang kontras, ketika di siang hari kita berupaya untuk menahan hawa nafsu dan meresapi bagaimana rasanya kelaparan yang sering menghinggapi pada saudara-saudara kita yang kurang mampu, pada saat berbuka kita seolah lupa akan hakikat dari puasa tersebut. Seolah momentum berbuka adalah waktu pesta pora dan dari semua hidangan yang disajikan ternyata acap kali sebagian makanan saja yang tertampung dalam perut.

Memang bukanlah suatu pelanggaran ketika kebiasaan tersebut dilakukan. Sepanjang kita sanggup dan butuh akan hal tersebut, bukankah di bulan ini umat muslim berupaya untuk melakukan hal yang terbaik disegala hal. Tak terkecuali dalam menyajikan hidangan dalam berbuka. Akan tetapi yang perlu diwaspadai adalah munculnya sifat serakah dan berlebihan yang malah mengurangi pahala puasa.

Bukankah Allah SWT telah menegaskan di surah Al-A’raf ayat 31 “… makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A’raf: 31).

Mengetahui bahwa Allah tidak menyukai pada umatnya yang bertindak mubazir dan berlebih-lebihan selayaknya kita menghindari hal tersebut, apalagi di bulan yang penuh berkah ini.  Cukuplah kiranya di bulan ini menjadi momentum untuk menjalani gaya hidup yang sederhana, bukan menjadi konsumtif dan mengikuti hawa nafsu ketika berbuka. Pengendalian inflasi tidak hanya berpangku tangan pada Bank Indonesia dan kebijakan pemerintah saja. Karena partisipasi masyarakatlah yang merupakan faktor utama dalam menjaga stabilitas ekonomi suatu negara.

Sumber Gambar: Klik

Iklan

One thought on “Ramadan dan Inflasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s