Mengukur Kesaktian Hukum Kebiri

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Banjarmasin Post edisi Selasa, 31 Mei 2016. Merupakan sebuah pandangan saya terhadap rencana pemerintah untuk menerapkan hukum tambahan kebiri dan pemasangan cip kepada pelaku tindak kejahatan seksual.

***

proses kebiriGeramnya masyarakat atas aksi kekerasan seksual yang terjadi di negeri ini membuat Presiden Jokowi bertindak reaktif dengan menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) no 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU no 23 tahun 2002. Perppu ini lebih dikenal dengan sebutan perppu kebiri, hal ini dikarenakan adanya pidana tambahan berupa pelaksanaan kebiri secara kimiawi dan pemasangan cip kepada pelaku tindak kekerasan seksual.

Mengutip dari tajuk rencana kompas (27/5) Komisi Nasional HAM menilai pengebirian melanggar HAM. Pengebirian bukan solusi atas maraknya pemerkosaan. Meskipun hukum harus menimbulkan efek jera hukum tidak boleh melanggar prinsip kemanusiaan. Disamping itu, Perppu kebiri dinilai dibuat secara terburu-buru dan cenderung reaktif.

Dari sudut pandang yang pro akan perppu ini, banyak nitizen di dunia maya yang berkomentar positif dan mendukung dijalankannya segera perppu ini. Agar menimbulkan efek jera bagi tersangka pemerkosaan dan menjadi ancaman serius bagi para laki-laki yang berkinginan melakukan tindak kekerasan seksual pada anak.

Sebelum pengesahaan perppu ini, telah marak dukungan kepada hukuman pengebirian kepada tersangka tindak kejahatan pedofilia ini. Dengan pengebirian ini diharapkan dapat menghiilangkan libido seksual, sehingga ketika keluar dari masa tahanan tersangka tak mengulangi kejahatan tersebut nantinya.

Menurut Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait. Hukuman kebiri juga telah diterapkan oleh berbagai negara seperti Korea Selatan, Polandia, Republik Ceko, Amerika Serikat dan Jerman.

Terdapat dua macam proses kebiri yang diterapkan dibeberapa negara, yaitu kebiri fisik dan kebiri kimiawi. Kebiri fisik dilakukan dengan cara mengaputasi testis pelaku sehingga mengurangi hormon testosteron, metode kebiri ini diterapkan di negara Ceko dan Jerman.

Sedangkan kebiri kimiawi, tidak dilakukan dengan mengamputasi testis. Kebiri kimiawi dilakukan dengan memasukan zat antiandrogen, baik melalui suntikan maupun pil  ke dalam tubuh untuk memperlemah hormon testosteron yang mampu untuk mengurangi bahkan menghilangkan kemampuan eraksi dan hasrat seksual.

Akan tetapi hukuman kebiri dengan menyuntikan antiandrogen memiliki dampak negatif yaitu mengurangi kerapatan massa tulang sehingga berpotensi kepada pengeroposan tulang (osteoporosis) dan resiko patah tulang. Zat ini juga mengurangi massa otot dan meningkatkan kadar lemak sehingga beresiko penyakit jantung dan pembuluh darah.

Disamping itu pengebirian secara kimiawai ini hanya bersifat sementara. Karena jika pemberian antiandrogen ini dihentikan, melalui jangka waktu tertentu dorongan seksual dan fungsi testis akan muncul kembali. Sehingga pengebirian bukan merupakan jalan akhir dalam upaya meredam nafsu pelaku kejahatan seksual, karena ketika masa tahanan pelaku selesai dan ketika efek antiandrogen berakhir, pelaku berpotensi mengulangi tindak kejahatan tersebut.

Berbagai pandangan juga menyoroti bahwa kekerasan seksual merupakan masalah kejiwaan bukan masalah hasrat libido semata. Hal ini dikarenakan seluruh manusia masing-masing memiliki hasrat libido. Permasalahan yang terjadi saat ini bukanlah mengenai libido tersebut, melainkan penyaluran hasrat tersebut secara benar atau tidak.

Hal ini sesuai dengan pandangan Komisioner Komisi Nasional Antikekerasan terhadap perempuan, Mariana Amiruddin. Perppu ini dirasa tak memberikan solusi final. Karena kekerasan seksual, berdasarkan penelitian dan pengalaman yang terjadi di lapangan, bukan semata-mata akibat dari reaksi libido, melainkan mengandung unsur kemarahan terhadap situasi sosial, ekonomi, atau politik pelaku.

Bukan Solusi Akhir

Mendapati fakta Komnas Perempuan, pada tahun 2012 jumlah kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan mencapai 216.156, pada 2013 menjadi 279.688, tahun 2014 menjadi 293.220 kasus, dan pada 2015 sudah lebih dari 320.000.

Data di atas merupakan sebuah fakta bahwa penyebab dari kekerasan seksual yang terjadi tidak hanya bersumber dari ketidakmampuan laki-laki dalam meredam hasrat libidonya. Kita tak bisa menutup mata bahwa dampak kemiskinan, penggunaan alkohol dan zat adiktif, dan hubungan antar anak dan orang tua yang tak harmonis merupakan faktor yang berkontribusi besar terhadap kekerasan seskual yang terjadi pada perempuan dan anak.

Pesoalaan kekerasan seksual ini merupakan persoalan yang sistematis dan tercipta akibat banyak faktor yang terjadi. Sehingga penyelesaian kasus ini tidak dapat disederhanakan hanya dengan melakukan kebiri dan penempatan cip pada tubuh pelaku.

Melainkan perlu banyak tindakan pencegahan maupun hukuman yang saling berkait. Dimulai dengan menutup konten pornografi yang saat ini mudah sekali diakses di dunia maya, mengurangi angka ketimpangan kesejahteraan, pendidikan seksual yang perlu diberikan pada anak, agar anak-anak memiliki pemahaman berkaitan tentang seksualitas sehingga tidak mudah tertipu oleh rayuan pada orang dewasa.

Perlu pula upaya hukum untuk membatasi peredaran minuman keras agar tidak mudah dikonsumsi oleh berbgai kalangan, pemberantasan narkoba dan berbagai zat adiktif lainnya. Dan tentunya perlu hubungan lebih dekat dari orang tua dan anak, karena kejahatan seksual biasanya dilakukan oleh orang terdekat. Orang tua dapat memberikan pemahaman intensif kepada anak sehingga mampu untuk mencegah kasus kejahatan ini.

Penulis mengapresiasi langkah cepat yang diambil pemerintah dengan penambahan hukuman seperti kebiri dan penempatan cip agar kejahatan seksual ini dapat segera berakhir. Akan tetapi kejahatan seksual bukanlah kejahatan yang sederhana, kejahatan ini telah lama terjadi sejak awal peradaban manusia, solusi jangka panjang tentu sangat berpengaruh untuk menekan angka kejahatan ini.

Sumber Foto: klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s