Kebiri, Apakah Sebuah Solusi?

kebiriPresiden telah menetapkan bahwa pelaku tindak kekerasan seksual terhadap anak akan di mendapatkan hukuman dengan kebiri secara kimiawi. Banyak orang yang menyambut positif atas pengesahan perppu ini. Aku pun pada awalnya demikian, tetapi setelah membaca mengenai kasus ini, loh, sekarang kok aku menjadi ragu hal ini dapat menyelesaikan tindak kejahatan tersebut.

Pertama, mungkin karena masih belum jelas maksud kebiri secara kimiawi tersebut adalah kebiri secara permanen dengan menyuntikan suatu zat yang mampu mematikan fungsi testis atau hanya sekedar memasukan zat antiandrogen yang mengurangi hormon testosteron (hormon kejantanan) yang berfungsi membangkitkan libido laki-laki. Jika hanya memasukan antiandrogen, efek dari kebiri ini hanyalah sementara. Ketika reaksi zat ini berakhir di tubuh, tentunya hasrat seksual akan kembali, dan para penjahat kemungkinan besar akan kembali melampiaskan hasratnya dengan jalan tidak benar.

Menurutku, kejahatan seksual tidak dapat terselesaikan hanya dengan menekan hasrat libido dari pelaku. Semua laki-laki memiliki hormon testosteron, yang membedakan bagaimana jalur pelampiasannya.

Proses kebiri secara kimiawi ini pula memberikan efek samping dari zat yang disuntikan tersebut. Dari berkurangnya kepadatan tulang sehingga beresiko pada osteoporosis dan patah tulang, hingga berkurangnya massa otot sehingga berdampak pada timbulan lemak yang kembali berdampak pada penyakit jantung dan pembuluh darah.

Entah mengapa aku sekarang masih memandang bahwa hukuman kebiri secara kimiawi masih dirasa kurang efektif. Aku tak memandang dari sudut pandang HAM, tetapi esensi dari hukuman ini memang tak menuju langsung pada solusi final. Karena kebiri secara kimiawi yang dianggap sementara saja, kemungkinan jika dampak obat berakhir pelaku akan kembali berbuat jahat melampiaskan nafsu seksualnya.

Pemasukan cip ke dalam tubuh juga tak memiliki esensi apa-apa. Kita hanya dapat mengetahui keberadaan pelaku ketika mereka kembali melakukan kejahatan. Sedangkan untuk upaya pencegahan, cip aku rasa tak sesuai dengan fungsinya. Jadi untuk apa?

Sehingga aku berpandangan solusi efektif yang tepat ke sasaran adalah dengan melakukan upaya pendidikan seks secara dini, pembatasan distribusi minuman keras, pemberantasan narkoba dan zat adiktif lainnya, menutup konten-konten pornografi yang saat ini mudah sekali di akses serta lebih mendekatkan hubungan antara anak dan orang tua sehingga orang tua lebih mudah memberikan pemahaman yang baik terhadap isu seksualitas, begitupun anak lantas tidak segan untuk bercerita atas upaya pelecehan yang mungkin saja mereka alami. Kesenjangan ekonomi serta pengaruh lingkungan sosial juga memiliki andil dalam peningkatan angka kekerasan seksualitas ini.

Atau dengan jalan yang cukup otoriter, melakukan hukuman secara keras, yaitu dengan kebiri secara fisik dengan mengamputasi testis ataupun dengan hukuman mati bagi para pelaku tanpa terkecuali.

Alasan yang aku kemukakan di atas memanglah sangat retoris dan mungkin sudah sering didengar. Tetapi memang begitulah kenyataan di lapangan. Kejahatan seksual bukanlah sesuatu yang sederhana, berharap mengehentikannya dengan satu dua hukuman yang penuh toleran tidak akan mampu menghentikannya. Karena kejahatan ini aku rasa merupakan kejahatan kompleks dengan berbagai alasan pelaku melakukannya.

Sehingga sekarang, aku menarik dukunganku kepada hukuman kebiri secara kimiawi yang akan dilakukan pemerintah. Ancaman akan efek jera bagi para pelaku ataupun bagi calon pelaku mungkin saja akan tercipta jika diterapkan hukuman keras yang aku jabarkan di atas. Tetapi mungkinkah ditengah isu HAM yang berhembus di dunia ini, hukuman tersebut dapat ditegakkan? Ataukah kita akan terus mendengar nasib Yuyun, Retno dan wanita-wanita lainnya?

Bandung, 27 Mei 2016

Sumber Foto: Klik

Iklan

2 thoughts on “Kebiri, Apakah Sebuah Solusi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s