Zen

Hari ini aku membaca tulisan mengenai Zen di blog rumah filsafat, banyak hal yang aku tak mengerti dari Zen ini. Tetapi mungkin sebagian telah aku temui titik terangnya. Bagaimana aku harus melepas semua konsep, semua nama, semua hal yang melekat dalam hidup ini. Semua hal tersebut telah aku definisikan sejak lama. Apa itu baik dan tidak baik, apa itu pantas dan tidak pantas, apa itu indah dan tidak indah.

konsep zenSemua itu hanyalah atribut yang selayaknya harus dilepaskan, semua itu yang menjadikan diriku menderita, kecewa dan beragam hal buruk lainnya yang aku rasakan. Karena menurut Zen, kunci semua itu adalah melepaskan dan hidup hanya untuk saat ini. Jangan bawa-bawa masa lalu dan tak perlu menghawatirkan masa depan. Hidup di saat ini, menikmatinya saat demi saat.

Entah melalui bantuan siapa aku mendefinsikan segalanya, mengharuskan aku mengikuti jalan tersebut. Baik maka harus dilakukan, buruk maka harus dijauhi. Aku berlomba untuk meraih segala hal yang baik, dan ketika aku tak mampu untuk memperolehnya aku kecewa, merasa menderita. Aku tak hidup pada saat ini, aku hidup pada masa lalu dan masa depan sekaligus. Ketika aku melihat, mendengar, maupun mencium, aku seperti tak ‘merasakan’, aku mengikuti pikiranku, lalu bertindak sesuai apa yang aku pikirkan. Padahal apa yang aku lakukan belum tentu ‘benar’ untuk diriku, mungkin saja hanya benar untuk orang lain, mungkin saja benar tersebut akan berubah definsi dimasa mendatang.

Pikiraku pun sekarang seperti monyet liar, yang melompat-lompat. Ketika aku membaca, pikiranku menginginkan untuk makan. Dan ketika aku memutuskan untuk makan, pikiranku kembali melompat memintaku untuk membuka instagram. Ketika aku melihat foto makanan di Instagram, sekejap kemudian aku  membayangkan makanan tersebut untuk aku makan. Sungguh menyiksa untuk selalu mengikuti lompatan pikiran monyet ini.

Puncak dalam Zen adalah menjadi apa adanya. Tak ada istilah yang tepat untuk menggambarkan hal ini, kalimat yang mendekati mungkin hal ini “Sadar penuh, hadir utuh”—kalimat ini menjadi judul buku Adjie Silarus. Bagaimana menjalani hidup pada saat ini. Ketika melihat langit, kita melihat langit biru. Ketika berjalan, kesadaran penuh untuk berjalan. Mendengar gemerisik hujan, telinga mendengar suara gemerisik tersebut. Ketika makan, segala panca indera memusatkanya pada makan tersebut. Tak ada pikiran yang melompat, hidup hanya pada saat ini. Tak memperdulikan apa yang terjadi dua jam setelah ini, apa rencana esok hari atau sebuah penyesalan akan kebodohan pada kemarin sore.

Menjadi apa adanya tersebutlah yang bagiku sangat sulit saat ini. Karena susah untuk memusatkan kesadaran. Aku akan langsung merespon segala sesuatu dengan definisi yang telah aku miliki, aku langsung saja menerjemahkannya menjadi sebuah konsep, sebuah pikiran mengenai ini, mengenai itu. Dan kembali pikiran ini melakukan analisis, menterjemahkan ini benar dan itu salah, dan lalu menghakimi kepada diri bahwa apa yang dilakukan adalah kesalahan.

Sedikit demi sedikit aku berproses, untuk benar-benar hadir menikmati waktu saat ini. Karena memang hanyalah sesederhana itu. se’apa adanya itu’.

Nb: mungkin tulisan ini dirasa sangat membingungkan, aku sendiri masih gagal memahami semua ini. Tapi yang jelas aku mulai memahami, bahwa hidup di ‘masa sekarang’ adalah hal terbaik daripada membiarkan diri ini hidup di tiga masa sekaligus.

Bandung, 26 Mei 2016

Sumber foto: klik

 

Iklan

2 thoughts on “Zen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s