Jangan Salahkan PLN

(Tanggapan untuk Tulisan Sainul Hermawan)

Mati lampu banjarmasin

Menarik membaca tulisan Sainaul Hermawan, seorang sivitas Universitas Lambung Mangkurat dengan keahlian di bidang bahasa dan sastra. Beliau pandai sekali dalam berpantun, bersajak, dan tentunya mengkritik karya tulisan penulis lain. Hal ini membuat penulis di Banjarmasin Post patut berhati-hati dalam menulis, salah memberikan pengandaian dalam tulisan saja maka keesokan harinya akan dikritiklah tulisan tersebut paragraf per paragraf dengan begitu detailnya. Tulisan ini pun mungkin tak luput dengan kritikan beliau dengan analisis yang tidak mungkin penulis sanggah.

Tulisan beliau mengenai dusta PLN Kalselteng patut diapresiasi, suara dari masyarakat kecil yang lelah berteriak dan mengeluh bertahun-tahun lamanya, ketika seringkali listrik dimatikan ketika banyak kegiatan yang harus dilakukan.

Benar adanya pendapat Sainul bahwa pemadaman ini sudah basi dan masyarakat telah  bosan akan alasan yang diberikan oleh pihak PLN Kalselteng. Setidaknya masyarakat Kalimantan Selatan sudah memaklumi dua musim yang terjadi di daerahnya selain musim hujan dan kemarau, yaitu musim kabut asap dan ‘mati lampu’.

Penulis juga penasaran mengenai somasi yang dikeluarkan oleh perhimpunan pengacara muda di Banjarmasin. Ancaman menuntut PLN secara pidana maupun perdata, apakah mendapatkan tanggapan oleh pihak PLN? Ataukah surat somasi tersebut hanya dianggap sebagai gertak sambal dan dibiarkan berlalu tanpa menghasilkan apa-apa.

Jika demikian, apakah kita perlu mengulang apa yang dilakukan oleh berbagai LSM dengan memblokir alur sungai barito empat tahun silam, ketika krisis energi (BBM) membuat antrian di SPBU mengular begitu panjang.

Kembali mengenai berbagai pendapat yang diajukan oleh tulisan Sainul Hermawan di Banjarmasin post (16/3/16)

Berbagai Alasan

Sainul beropini, mempertanyakan keadaan mengapa pemeliharaan excess power PLTU Makmur Sejahtera Wisesa (MSW) unit 1 milik PT Adaro Energy Tbk berpengaruh pada pelayanan listrik di Kalselteng? Jawabannya mungkin sederhana, daerah ini bukan daerah yang miskin bahan baku, kita sangat kaya. Akan tetapi mungkin PLN kekurangan pembangkit untuk mengolah timbunan sumber daya alam tersebut menjadi listrik. Tidakkah mengherankan ketika pembangkit listrik yang baru dibangun milik swasta pula, menjadi tulang punggung ketersediaan listrik di daerah ini.

Entah alasan yang disampaikan pihak PLN tersebut logis atau tidak. Mungkin jika besok ada pembangkit listrik baru bertenaga matahari, walaupun hanya memproduksi listrik satu MW, jika musim penghujan tiba akan membebankan ketidakmampuan pelayanan tersebut kepadanya. Tentunya kita sudah sering mendengar alasan ini pada PLTA Riam Kanan di musim kemarau tiba. Sayang sekali alam tak bisa protes ketika disalahkan.

Di samping itu, PLN memberikan penjelasan dengan  memberikan alasan telah bekerja keras melakukan perbaikan untuk PLTU Asam-asam unit 3, sebuah berita baik. Lalu kalimat berikutnya memberikan alasan-alasan lain yang mengharuskan melakukan pemadaman listrik. Ini merupakan strategi yang jitu rupanya, agar kita menghargai kerja keras PT. PLN dan lalu memaafkan alasan kedua karena kasihan dan menganggap hal ini wajar ketika harus melakukan pemeliharaan alat.

Sayangnya, PLN telah memonopoli bisnis listrik ini. Masyarakat tidak bisa diberikan pilihan untuk berpindah. Berbeda dengan begitu ketatnya persaingan provider handphone, mengalami gangguan sedikit akan ditinggalkan penggunanya. Sehingga akhirnya masyarakat hanya bisa bersabar, bagimanapun kualitas pelayanan yang diberikan oleh PLN.

Selanjutnya, Sainul berpendapat, mengapa PLTU Paiton yang menyinari Jawa, Bali dan Madura tidak pernah memadamkan lampu karena alasan perawatan? Menanggapi hal ini membuat kita semua perlu membuka mata lebar-lebar. Tentunya karena PLTU Paiton memiliki predikat PLTU terbesar di Indonesia. Dengan kemampuan produksi listrik yang mencapai ribuan MW. Seorang raksasa jika disejajarkan PLTU-PLTU lainnya. Tapi yang cukup menggelikan, dengar-dengar bahan baku untuk PLTU tersebut diambil dari perut bumi di utara Kalimantan Selatan.

Melihat hal ini isu sentralisasi pembangunan yang ingin dibuang jauh-jauh oleh pemerintah pusat dengan otonomi daerahnya sepertinya masuh belum terwujud. Listrik Jawa Bali adalah contoh sederhananya, bagaimana terdapat gap yang jauh antara Pulau Jawa dan Pulau Kalimantan sebagai lumbung energi.

Terbukti hampir dua tahun penulis berada di Kota Bandung, kondisi ‘mati lampu’ jarang sekali terjadi, bisa dihitung oleh jari tangan. Dengan durasi pemadaman hanya seperti sepengambilan napas.

Listrik Jawa Bali merupakan bisnis yang sangat menggiurkan. Maka wajarlah ketika banyak pihak swasta yang menginvestasikan modalnya pada bisnis listrik ini, dengan tingkat kebutuhan yang tinggi karena banyaknya industri dan padatnya permukiman membuat keuntungan dipastikan akan diperoleh. Berbeda sekali ketika berinvestasi di Kalimantan, listrik bagai menimbang-nimbang untuk menjual buah apel yang memperhitungkan untung dan rugi.

Maka tak heran ketika listrik di Kalimantan sekian tahun kondisinya tak berubah. Berjalan di tempat, pembangunan pembangkit listrik baru terkesan sangat lambat dan pada akhirnya sepanjang tahun di sosial media, akan kita temui dengan mudah sindiran, keluhan, dan umpatan yang dilayangkan oleh konsumen, tetapi seolah tak didengar oleh pihak PLN.

Pada akhirnya, ketika segala alasan telah dilontarkan oleh PLN dan pemadaman itu masih saja terjadi, maka kepada siapa lagi masyarakat menyalahkan kalau tidak kepada PLN itu sendiri. Tetapi tunggu dulu, jangan salahkan PLN sekarang. Dengarkan apa yang menjadi alasan mereka, ketika telah bosan mendengar. Tutup telinga dan saatnya untuk bergerak.

Sumber Gambar: Klik

Iklan

4 thoughts on “Jangan Salahkan PLN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s