Mendukung Kantong Plastik Berbayar

Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Waspada Medan edisi Rabu, 13 April 2016. Berisi pandangan saya terhadap kebijakan kantong plastik berbayar, yang sangat perlu untuk diterapkan di seluruh Indonesia dengan harapan turut membantu mengurangi timbulan sampah plastik yang sulit terurai tersebut.

***

Kantong plastik berbayarMungkin selama ini tak terlintas dalam pikiran, bagaimana sampah plastik yang membantu kita semua dalam membungkus dan membawa barang kebutuhan akan berakhir di lapisan tanah atau terbawa arus mengarungi lautan hingga ratusan tahun dan akhirnya terurai oleh alam. Membayangkan sampah plastik hasil dari membeli minuman kaleng di mini market hari ini, yang digunakan hanya beberapa menit, akan lebih panjang umurnya dibandingkan umur hidup kita.

Itulah fakta yang terjadi dan mungkin kita semua tak sadari. Bahwa praktisnya plastik yang kita gunakan bersama, ternyata pada masa pembuatan dari awal hingga terurai membutuhkan waktu dan usaha yang panjang.

Secara tidak sadar satu orang di Indonesia rata-rata membuang 700 kantong plastik di setiap tahunnya. Setara 100 milyar kantong plastik per tahun yang menghabiskan 12 juta barrel minyak yang tak dapat diperbaharui, 14 juta pohon yang ditebang dan membutuhkan waktu hingga 1000 tahun agar sampah plastik tersebut terurai.

Bagi tanah, plastik menjadi bencana, karena racun dari partikel plastik yang masuk ke dalam tanah akan membunuh hewan-hewan pengurai seperti cacing, menurunkan kesuburan karena plastik menghalangi sirkulasi udara di dalam tanah serta mengganggu jalur air yang meresap ke dalam tanah.

Pembakaran plastik yang sering dilakukan untuk mengurangi tumpukan sampah menimbulkan polusi udara dan pembakaran yang tidak sempurna menghasilkan zat yang apabila terhirup oleh manusia akan mengakibatkan kangker, kerusakan hati dan gangguan sistem syaraf.

Sampah plastik yang dibuang sembarangan akan menyumbat aliran air baik di selokan maupun sungai yang berpotensi mengakibatkan banjir di musim penghujan. Ketika sampah plastik yang telah melewati sungai dan berakhir pada laut akan mencemari ekosistem laut.

Menurut penelitian Indonesia merupakan negara kedua terbesar setelah Tiongkok yang menyumbang sampah plastik di lautan. Sekitar 80% sampah di lautan berasal dari daratan, dan hampir 90% adalah plastik. Setiap tahun, plastik telah ’membunuh’ hingga 1 juta burung laut, 100.000 mamalia laut dan ikan-ikan yang tak terhitung jumlahnya.

 Penulis pernah mengikuti workshop mengenai keperdulian akan sampah laut dunia yang diselenggarakan oleh kedutaan besar Amerika. Sampah plastik yang berasal dari laut menurunkan geliat pariwisata di Lombok dan Bali, dimana kiriman sampah plastik di bulan-bulan tertentu membuat keindahan pantai berkurang.

Di samping itu, penelitian di Samudra Hindia mengenai sampah laut. Peneliti menemukan banyaknya sampah pembungkus makanan yang berasal dari Indonesia dan ketika dilakukan pengambilan sampel air laut terdapat kandungan micro plastik didalamnya.

Hal ini tentunya sangat berbahaya, micro plastik yang berukuran sangat kecil akan  dimakan oleh ikan yang mengira bahwa itu adalah plankton. Plastik yang sulit tercerna oleh ikan akan terakumulasi dalam tubuh dan mengakibatkan kematian ikan tersebut. Lebih berbahaya lagi ketika ikan tersebut ditangkap oleh nelayan dan dikonsumsi oleh manusia, maka akumulasi dari micro plastik tersebut akan berpindah dan menyebabkan potensi penyakit berbahaya bagi manusia.

Mendapati hal ini, Pemerintah dalam hal ini Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bekerjasama dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) bersepakat melakukan uji coba penerapan kantong plastik berbayar yang dimulai pada minggu (21/2) yang bertepatan dengan hari perduli sampah nasional.

Sebanyak 22 kota besar di Indonesia berkomitmen dalam mendukung kebijakan kantong plastik berbayar ini, diantaranya; Jakarta, Bandung, Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang, Solo, Semarang, Surabaya, Denpasar, Palembang, Medan, Balikpapan, Banjarmasin, Makassar, Ambon, Papua, Jayapura, Pekanbaru, Banda Aceh, Kendari, dan Yogyakarta.

Usulan mengenakan biaya tambahan sebesar Rp. 200 untuk setiap lembar plastik yang digunakan konsumen ini tentunya akan memberatkan konsumen yang selama ini dimanjakan dengan kantong plastik yang gratis. Tetapi kebijakan ini merupakan langkah terbaik guna mengurangi penggunaan plastik di Indonesia. Terlebih Aprindo memiliki visi, keuntungan dari hasil penjualan plastik akan dialokasikan untuk kegiatan dalam bidang pengelolaan sampah.

Penerapan kantong plastik berbayar ini bukanlah hal yang baru, terlebih di negara maju kebijakan ini mampu mengurangi sampah plastik. Di Washington, USA bisa mengurangi sampai 78%. Di Irlandia pajak 15 sen euro bisa mengurangi pemakaian kantong plastik sampai 90%. Negara tetangga Malaysia pun sudah terlebih dahulu menerapkan kebijakan ini, dengan mengenakan biaya sekitar Rp 600 untuk setiap lembar plastiknya. .

Bagi konsumen kebijakan jelas akan memberatkan. Karena hal itu, perlu kiranya melakukan perubahan kebiasaan dengan selalu membawa kantong belanja ketika berpergian. Kita terkadang tak memiliki rencana ketika berbelanja, dengan membawa kantong belanja di setiap hari akan menjadi kebiasaan baru yang turut mendukung kelestarian lingkungan.

Ditambah lagi, kini banyak desain kantong belanja yang menarik dan simple. Tentunya hal ini bukan menjadi alasan lagi ketika menganggap membawa kantong belanja itu menyusahkan, tidak praktis dan tidak fashionable. Terkadang suatu bentuk aturan inilah yang akan memaksa diri untuk merubah kebiasaan yang berguna untuk mengurangi timbulan sampah plastik yang selama ini menjadi masalah bersama.

Sumber Foto: Klik

Iklan

2 thoughts on “Mendukung Kantong Plastik Berbayar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s