[Cerpen] Enggang yang Tak Pandai Terbang

Cerpen EnggangAwang Kiting termangu di gubuk ketika letih berladang di suatu sore. Sesekali kicauan burung enggang yang bertengger di pohon lahung menambah ketenangan sore itu. Riak suara sungai yang mengalun teratur penuh tempo, duhai indah ingin didengar setiap telinga. Sore itu hutan begitu syahdu memberikan keindahannya. Mungkin orang kota perlu sesekali merasakannya, tentu perlulah dibuang jauh-jauh keluhan mengenai nyamuk yang begitu ganas atau sinyal handphone yang tak akan pernah didapat.

Etak Bungeh, istri dari Awang Kiting berjalan menuju gubuk selepas mandi di sungai. Menggunakan tapih yang menyelimuti dada hingga ke paha, Etek Bungeh lekas meghampiri Awang.

“Sibuk sekali melamun, sampai lupa mandi. Badan itu sudah bau, tak sudi nantinya jika kau tidur memelukku,” ejek Etak mengingkan suaminya lekas mandi.

 “Tahanlah sebentar, lagi asyik aku memandang langit yang berwarna jingga ini. Seperti dilukis saja, Enggang juga hilir mudik sedari tadi, bahagia dia rupanya musim buah akan segera datang.”

Dari dalam gubuk Etak menjawab, “Tak perlu banyak alasan, hari sebentar lagi gelap, tersesat nantinya kau mencari jalan pulang.”

Begitulah kehidupan di gubuk, ladang yang terus berpindah untuk mencari kesuburan tanah agar menghasilkan panen yang baik. Membuat keluarga  Awang Kiting betah untuk tetap tinggal di gubuk, tanpa penerangan listrik, tanpa ada hiburan radio. Nyanyian malam lebih enak didengar, tukas Awang. Mengikuti perubahan zaman, membuat kepala ini tambah pusing saja.

Hal ini bertolak belakang dengan pandangan warga desa kini. Mendengar ibu kota provinsi yang akan dibangun mall seperti kota besar, membuat berita gaduh hingga ke pelosok hutan. Hasil ladang nantinya tak hanya berakhir ke perut lagi, bisa kita manfaatkan untuk menonton film  di bioskop, melihat artis yang bekulit seputih susu kambing. Atau membeli baju agar tak ketinggalan zaman. Biarpun berladang di hutan sehari-hari, tampilan harus juga tetap trendy, nyamuk pasti akan segan menggigit, lintah tak akan berani mendekat. Pokoknya apa yang dipakai orang kota, itulah yang terbaik untuk kita ikuti. Sudah teruji menurut riset di laboratorium katanya.

Ketika makan malam, Etak Bungeh mengadu kepada Awang Kiting, perihal kebajikan seorang yang dermawan di alun-alun desa tempo hari.

“Kemarin ada pembagian kompor gas gratis, Bah, di alun-alun desa. Semua warga mendapatkan satu. Katanya biar lebih mudah untuk memasak, tak perlu mencari dan membelah kayu bakar lagi. Apinya pun bisa diatur sesuka hati kita. Sayang aku malah kehabisan, tapi katanya minggu depan ia akan datang kembali.”

“Ahh, itu hanya mudah di awal saja, nantinya malah menyusahkan kita. Tak cocok yang modern-modern seperti itu untuk kita. Hidup di hutan, paling pas memang dekat dengan alam.”

Etak Bungeh mengerutkan dahinya, tak mengerti, “Diberi enak kok malah ditolak, kapan majunya hidup. Tetangga kita sudah pernah naik pesawat. Lah kita, tak kemana-mana. Berteman dengan rusa sesekali dan bergelut dengan babi hutan untuk menjaga ladang.”

“Toh, hidup bisa dinikmati. Tenang begini, ketika malam tak perlu memikirkan banyak hal. Beristirahat saja. Kebahagiaan kan berasal dari pikiran yang tenang.”

Etak Bungeh tak lagi menjawab. Baginya, suaminya adalah sosok yang konservatif, kuno dan tak mampu menerima perubahan.

***

 “Etak Bungeh, bagaimana kelanjutannya? Kita semua membutuhkan kepastian. Tanah adat ini lepaskan saja. Toh negara telah menyetujui. Jika tambang dan perkebuanan itu datang, kita pasti akan ikut sejahtera.”

Etak bungeh menggelengkan kepala atas pertanyaan warga desa yang terus mendesak suaminya yang merupakan kepala adat, untuk mengijinkan pertambangan dan perkebunan untuk mengeksplorasi perut bumi di daerahnya.

“Suamiku tak ingin kita nantinya sengsara, tak ada lahan berladang. Bingung nantinya menghidupi keluarga,” jelas Etak Bungeh secara halus.

“Ahh, pemikiran terkebalakang itu. Jika tambang dan perkebuanan itu masuk uang puluhan milyar akan masuk di daerah ini. Itu investasi untuk membangun tempat kita, untung-untung saja ada yang berminat berusaha di hutan tempat jin beranak seperti ini.  Suamimu malah menolak, kan aneh.”

Tak diaya, ternyata Awang Kiting mendengar semua pembicaraan itu di balik dinding bambu sebuah warung. Sudah lama memang warga adat menginginkan tambang dan perkebunan memasuki daerah mereka. Konon katanya akan membawa kesejahteraan yang tak henti. Sudah puluhan kali pula Awang Kiting mendapat hadiah berupa tas yang penuh berisi uang agar bisa memuluskan perijinan, selalu saja ditolaknya.

Kini semua warga adat menginginkan hal itu, walaupun hati kecilnya berat untuk mengijinkan. Maka dipenuhilah keinginan warga adat tersebut. Tambang datang membawa mesin-mesin raksasa, menghujamkan perut bumi, ratusan lubang raksasa menganga. Tak berselang lama perkebunan kelapa sawit datang di sisi lain, meratakan penjuru hutan dan rawa menjadi pohon yang seragam dan selalu haus akan air.

Kesejahteraan warga desa meningkat tajam. Tak pernah terbayangkan jika Kasim, pemilik tanah adat puluhan hektar kini bisa memiliki mobil, suatu keanehan tempo dulu ketika mobil masuk ke wilayah desa, dan kini banyak warga yang memilikinya. Rumah yang dulu berdinding bambu dan beratap rumbia ata sirap. Kini seolah berlomba untuk menjangkau langit.

***

Tiga puluh tahun setelah tambang dan perkebuanan masuk desa. Awang Kiting telah berusia lanjut, hanya terbaring di kamar tidurnya. Dan banyak masyarakat di desa ini mengeluhkan susahnya hidup di era modern ini. Pekerjaan sulit didapat karena perusahaan memilah pekerjanya berdasarkan latar pendidikan. Lahan untuk bertani dan berladang semakin sempit saja.

Semakin meningkat angka kriminal di desa ini, pencurian, perampokan hingga korupsi yang berasal dari perangkat desa tak terbendung. Entah bermula dari mana, ketika kesejahteraan yang telah dikecup manis oleh masyarakat, seperti hujan di penghujung kemarau, cepat sekali berganti dengan kemiskinan yang menampakan wajah seramnya.

Awang Kiting selalu menangis di pembaringannya. Selalu ia beribacara sendiri.

“Duhai, sudah sejak dulu aku menakuti hal ini, sekarang telah terjadi. Mereka gagal memahami antara kemiskinan dan gaya hidup. Pada awalnya aku curiga akan niat baik para dermawan itu, memberikan warga kompor berarti memaksa untuk membeli minyak tanah atau gas. Padahal dulunya bahan bakar untuk memasak tersedia di halaman rumah mereka sendiri.

Karena perlu uang untuk menghidupi gaya hidup yang semakin modern, maka mereka membutuhkan pekerjaan. Investasi mau tidak mau harus masuk untuk memanfaatkan sumberdaya alam. Sayangnya hal itu tanpa pernecanaan yang matang, tambang itu begitu barbar mengeruk perut bumi, begitu cepat dan dalam sekejap tak ada lagi sumber daya yang berharga. Perkebunan sama saja, menghampar begitu luas, dan hebat sekali menghisap hara dan cadangan air. Menjadikan daerah ini mudah sekali kekeringan. Sesuatu yang dulunya mustahil terjadi.”

Tak terasa air mata itu begitu deras mengucur membasahi bantal.”

“Dulu dengan bambu, kayu dan rumbia, warga bisa membangun rumah dengan bergotong royong. Sekarang seolah dipaksa untuk berutang semen, besi dan seng, belum lagi upah tukang. Dulu kehidupan begitu damai seolah tinggal makan dan tidur, kini yang terjadi harus menempuh jalan memutar agar bisa makan dan tidur dengan gaya orang kota,

Semua itu adalah jebakan kemiskinan. Padahal dulunya kita kaya, lahan begitu luas membentang untuk ditanami ladang, ikan yang berlimpah di rawa, dan hewan-hewan indah yang acap kali kami lihat di waktu kecil. Kini Enggang enggan untuk kemari, ia yang tak pandai untuk terbang atau sebenarnya ia yang tak sudi untuk singgah di daerah yang telah menghancurkan rumahnya.”

Air mata itu terus mengalir, bermuara pada penyesalan akan keputusan yang diambil Awang Kiting ketika muda. Sekarang yang bisa ia lakukan hanyalah menyesali dan mendengar banyak sekali keluhan susahnya hidup di zaman modern.

Sumber Foto: Klik

Iklan

3 thoughts on “[Cerpen] Enggang yang Tak Pandai Terbang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s