Perpustakaan di Kota Kecil

perpustakaan matiDi sebuah perpustakaan pada sebuah kota kecil.  penduduknya tak mengerti, bahwa membaca adalah sumber pengetahuan. Mungkin mereka malah tak mengerti bahwa pengetahuan, akan memperbaiki kehidupan. Di benak mereka jika hidup ingin lebih baik, maka bekerja harus lebih keras lagi. Jika pergi pagi pulang sore tak mampu memberikan kehidupan yang layak, maka lembur malam adalah selayaknya untuk mendapatkan impian. Jika makan sepiring masih membuat kepala pening karena kurang energi, maka perlu makan dua piring agar stamina tetap bertahan hingga jam pulang tiba.

Begitulah, mereka semua memahami hukum sebab akibat dengan sangat baik, tapi dengan kaku. Sehingga di perpustakaan ini, hanya diisi manusia yang dianggap tanpa masa depan. Buku yang seakan membusuk dimakan oleh rayap, kertas yang menguning dimakan waktu. Tak ada yang perduli, buku baru belum tentu hadir disetiap tahunnya di tempat ini. Hanya mengharapkan keperdulian pemerintah untuk memasok buku yang dibeli murah dengan dana yang bisa dikorup dengan membabi buta.

Tak ingin merendahkan harga sebuah buku, tetapi buku yang dibandrol dengan murah itu, menandakan buku yang tak diminati, buku yang dibanting harganya oleh penerbit karena salah memahami pasar atau hanya berisi ‘sampah-sampah’ yang dikemas dengan penuh intelektual. Jadinya perpustakaan itu hanya diisi oleh buku yang begitu membosankan sejak halaman pertama. Rak dari kayu perlahan ikut merapuh karena rayap beranak pinak di kaki lemari.

Tak ada yang perduli dengan perpustakaan ini, bahkan pustakawan yang digaji tak seberapa itu, lebih asyik bermain dengan sosial medianya, menggoda teman SMAnya, atau bermain judi online untuk menambah pemasukannya. Tugasnya untuk merawat buku, tak ia hiraukan. Untuk apa? Alasannya, toh, tak ada yang mau datang di perpustakaan tua ini.

Pengunjung di satu hari hanya bisa dihitung dengan jari. Itupun sering kali remaja datang kesini untuk memadu kasih di pojok ruangan, entah perbuatan mesum apa yang ia lakukan. Perpustakaan tak ubahnya seperti semak di pinggir hutan, untuk mengobati nafsu rindu masa muda mereka.

Hingga kini, perpustakaan yang menjadi cermin keperdulian warga kota terhadap membaca. Mereka hanya puas membaca apa-apa yang ditampilkan di gadget mereka, menelan semua berita yang dipoles dengan begitu menawan tapi tak ada yang tahu kebenarannya. Begitu bangga memamerkan kehidupannya, seolah ia telah menjadi raja yang perlu diikuti trend berpakaiannya, tempat makannya, kata bijaknya.

Di sudut perpustakaan di kota kecil. Aku melihat seorang kakek tua yang membaca sebuah novel tua dengan penuh penghayatan, tak memperdulikan apa yang di sekitar, tak pernah mencek handphonenya, tak memperdulikan apa yang terjadi di luar sana.  Dan aku begitu terpesona akan apa yang dilakukan kakek tua itu. Susah menemukan bagaimana sesorang dapat khusuk membaca berjam-jam lamanya, seolah waktu begitu ia nikmati bersama dengan buku. Tanpa HP, tanpa bisikan remaja mesum, tanpa alunan musik dangdut yang dijalankan pustakawan tak tahu diri. Ia hanyut, seolah dirinya ikut masuk dan memerankan cerita tersebut.

Sulit menemukan orang yang begitu hobi untuk membaca, lebih sulit lagi menemukan seseorang yang dapat membaca dengan tanpa terganggu dan penuh dengan penghayatan tentang apa yang ia baca.

Bandung, 19 Februari 2015

Sumber foto: Klik

Iklan

9 thoughts on “Perpustakaan di Kota Kecil

  1. Kebetulan sy juga penjaga perpus swasta, sudah 4 tahunan sy hobi dsini. Terus terang memang tiap tahub jumlah peminat baca terus menurun. Bahkan pustakawan2 baru kami. Termasuk saya heuhue

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s