Mengembalikan Banjarmasin sebagai Kota Seribu Sungai

Tulisan ini merupakan sebuah pemikiranku mengenai sungai di Banjarmasin yang semakin hari, semakin ditinggal. Jadilah kini sungai di Banjarmasin kondisinya sangat buruk dan tidak sehat. Tulisan ini merupakan tulisan yang gagal dimuat di koran harian ketika seminggu lalu aku mengirimkannya.

***

Sungai di banjarmasiinFoto headline harian banjarmasin post (25/1/16) mungkin akan mencengangkan pembaca yang melihat harian tersebut. Foto tersebut menampilkan wajah sungai di Banjarmasin yang kini tertutupi oleh tumpukan eceng gondok, serpihan kayu dan sampah. Tak ayal tumpukan sampah sungai ini menciptakan pulau atau delta di sungai tersebut.

Pihak terkait lantas melakukan pembersihan di area tersebut karena sampah tersebut menghambat transportasi sungai dan tentunya akan merusak ekosistem sungai ketika sampah-sampah tersebut terus menumpuk. Ratusan warga menonton aksi pembersihan sungai tersebut, tapi apakah kita semua dapat mengambil pelajaran atas kejadian yang selalu terulang dari tahun ke tahun ini?

Dulunya Kota Banjarmasin menjadi kota terpandang karena suangainya. Banjarmasin menjadi bandar pelabuhan untuk kapal-kapal dari jawa, arab dan singapura yang berlabuh di Pulau Kalimantan. Pada masa itu keberadaan sungai merupakan jalur transportasi utama yang menghubungkan masyarakat dari berbagai wilayah. Di samping itu aktifitas perdagangan sehari-hari juga diselenggarakan di sungai, aktifitas jual beli yang masih tersisa di atas sungai kini lebih terkenal sebagai pasar terapung. Dan seiring waktu para pedagang pun mulai berkurang, budaya asli Kota Banjarmasin yang menjunjung tinggi keberadaan sungai perlahan mulai mati ditinggalkan.

Pandangan Kota Banjarmasin sebagai kota sungai dulunya terlihat jelas dengan banyaknya masyarakat membangun rumah panggung yang dibangun berdampingan menghadap sungai dan juga rumah-rumah lanting (rumah terapung) yang berada di atas tepian sungai. Sungai pada masa itu juga berfungsi sebagai sarana pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci dan konsumsi air minum. Sehingga wajar saja, sungai bagi Masyarakat Banjar tempo dulu ibarat sebuah rumah dan jiwa yang harus selalu bersih dan lestari.

Sungai yang kini ditinggalkan

Perubahan budaya dan keperdulian masyarakat banjar terhadap sungai dimulai ketika pengaruh Kolonialisasi Belanda sekitar tahun 1860, dimana ketika itu untuk menjamin pertahanan dan perkembangan daerah jajahannya, pemerintah kolonial membangun jalan darat di Kota Banjarmasin. Sesuatu yang waktu itu tentu saja bertentangan terhadap transportasi utama masyarakat yang memanfaatkan sungai sebagai transportasi.

Perkembangan zaman yang semakin modern meningkatkan produksi kendaraan bermotor yang mengakibatkan semakin mudahnya akses di jalan, mempersingkat waktu tempuh dan kondisi jalan yang kini beraspal lebar, akhirnya mampu merubah orientasi hidup Masyarakat Banjar yang kini menjauhi sungai.

Tentunya hal ini menjadi alasan yang logis mengapa Masyarakat Banjar meninggalkan jukung mereka dan berganti pada sepeda motor ataupun mobil. Hal ini tentu saja diikuti dengan pembangunan permukiman yang berpusat, dekat dengan simpul jalan darat. sehingga permukiman di bantaran sungai kini mulai ditinggalkan, dan jika pun masih ada, kondisinya kurang terawat dan terkesan kumuh.

Menjauhnya Masyarakat Banjar terhadap badan sungai diperparah ketika pemerintah kolonial membangun instalasi pengolahan air sebesar 35 liter/detik pada tahun 1937, pemerintah kolonial secara tidak sengaja tentunya mengalihkan ketergantungan masyarakat terhadap sungai sebagai pemenuh kebutuhan air bersih. Hingga kini ketika instalasi pengolahan air dikelola oleh PDAM Bandarmasih, Masyarakat Banjar hampir sepenuhnya tergantung pada distribusi air dari perusahaan daerah ini.

Akibatnya tentu saja, masyarakat semakin kurang perduli akan kondisi sungai di Banjarmasin. Permasalahan pun bermunculan ketika sungai ditinggalkan dari kehidupan Masyarakat Banjar. Seperti penyempitan alur sungai, penggerusan tebing sungai, hilangnya sungai—tertutup oleh bangunan maupun permukiman.

Sudah ratusan aliran sungai hilang di Kota Banjarmasin, sebagian berubah menjadi selokan dan got yang alirannya tak mengalir lancar, sehingga menimbulkan penurunan kualitas air sungai. Sebagai contoh di aliran sungai wilayah Jalan A. Yani, dimana aliran tersebut tak mengalir, mengakibatkan aliran air, lumpur serta sampah berkumpul dan mengendap di sana. Akibatnya warna air yang berubah menjadi hitam, bau yang cukup menyengat, dan tentu kadar oksigen di dalam air yang rendah menjadikan sungai tersebut tidak mampu untuk memberikan kehidupan biota sungai.

Kebiasaan masyarakat yang membuang limbah domestiknya ke sungai ikut memperparah kondisi kualitas air sungai. Tak ayal Sungai Banjarmasin kini identik dengan hal yang kotor, bau dan tidak sedap untuk dipandang. Maka akhirnya Sungai di Banjarmasin benar-benar ditinggalkan. Sungai dianggap sebagai ‘halaman belakang’, tempat membuang sampah paling mudah dan menjadi teranglah kebanggaan Masyarakat Banjar akan sungai kian meluntur.

Bangkit Kembali

Predikat Kota Banjarmasin sebagai kota seribu sungai seharusnya dapat ditangkap sebagai peluang untuk Kota Banjarmasin mengklaim sebagai kota modern pertama di Indonesia yang berkonsep waterfront city. Banjarmasin tentunya dapat mengikuti konsep waterfront city di Eropa seperti Venice di Italia dengan hunian bersih di tepian sungai, London Docklands di Inggris yang menjadi pusat bisnis yang indah, ataupun San Antonio di Texas yang mempertahankan bangunan bersejarah dan menonjolkan nuansa kebudayaan setempat.

Pemerintah Banjarmasin memang tidak tinggal diam melihat potensi ini. Terlihat upaya pemerintah dengan membangun ruang terbuka publik dengan konsep riverwalk di tepian Sungai Martapura, pembuatan maskot Kota Banjarmasin, yaitu patung bekantan dan menara pandang yang keduanya menghadap Sungai Martapura. Pemerintah pula menghidupi pasar terapung di kawasan jalan Pierre Tendean ketika akhir pekan. Penanganan drainase, normalisasi sungai mati, serta revitalisasi sungai dari permukiman kumuh telah dilakukan pemerintah untuk menghidupkan kembali kejayaan Banjarmasin sebagai kota sungai.

Upaya pemerintah tersebut tentunya tidak dianggap sebagai program pembenahan kota saja, melainkan sebagai pendorong untuk menghidupi jiwa dan budaya tentang sungai yang dulu dimiliki Masyarkat Banjar. Kebanggaan akan sungai tentunya akan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap sungai dan mencoba merubah pandangan masyarakat modern di Banjarmasin yang menganggap sungai hanya sebagai ‘halaman belakang’ rumah.

Hal inilah yang sebenarnya menjadi hambatan utama pemerintah untuk mengembalikan sungai sebagai ‘halaman depan’ rumah Masyarakat Banjar. Perubahan kebiasaan dan pola pikir ini diharapkan mengembalikan fungsi sungai kembali normal dan bersih, karena masyarakat mana yang mau melihat halaman depan rumahnya kotor, kumuh dan berbau?

Perubahan pola pikir masyarakat ini nantinya akan meningkatkan kondisi sungai di lapangan serta meningkatkan citra Kota Banjarmasin sebagai pionir waterfront city modern di Indonesia. Walaupun, menurut penulis untuk kembali menghidupkan sungai sebagai jalur transportasi utama dirasa cukup berat, karena masyarakat telah dimudahkan dengan akses jalan darat yang nyaman, murah dan efektif. Setidaknya kembali normal fungsi sungai di Kota Banjarmasin nantinya akan membuat bangga Masyarakat Banjar untuk terus membangun banua menjadi kota metropolitan berkonsep waterfront city.

Sumber foto: klik

Iklan

One thought on “Mengembalikan Banjarmasin sebagai Kota Seribu Sungai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s