Menanti Pemimpin Perduli dengan Taman Kota

warga-nikmati-alun-alun-kota-bandung_20141229_142820Tulisan ini telah dimuat di surat kabar harian Banjarmasin Post edisi Sabtu, 9 Januari 2016. Merupakan sebuah harapan saya, terhadap pemimpin yang baru saja terpilih dari pemilukada desember lalu, agar lebih memperhatikan tentang ruang terbuka publik dan berbagai fasilitas publik lainnya.

***

Pemilihan umum kepala daerah telah diumumkan dan masing-masing kepala daerah yang terpilih bersiap untuk memimpin daerahnya dengan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Tentunya impian dari setiap kepala daerah melihat warga kotanya bahagia, bersemangat dan turut membangun daerah yang dicintainya.

Menjelang pelantikan dan memulai tugasnya sebagai kepala daerah tentunya banyak permasalahan yang sedang dialami setiap daerah, mulai dari masalah infrastruktur, kemiskinan, angka pengangguran, ketidakmerataan pendidikan, fasilitas kesehatan yang masih kurang dan berbagai permasalahan yang dituntut untuk ditangani segera.

Tidak terkecuali masalah taman kota beserta ruang terbuka hijau yang dirasa masih kurang. Menelisik berbagai taman kota di beberapa kota di Kalimantan Selatan keadaanya sungguh sangat memprihatinkan. Pengelolaan taman tersebut hanya sebatas formalitas dan seadanya. Dimana, dapat dinilai bersama banyaknya taman kota yang gersang, masih ditemukannya sampah karena ketiadaan tempat sampah hingga penerangan yang tidak memadai mengakibatkan taman kota sering dijadikan tempat pasangan remaja berduaan ketika malam hari.

Terlebih menurut UU No 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, idealnya suatu kota memproposikan ruang terbuka hijau paling sedikit 30 persen dari luas wilayah kota atau 20 persen untuk ruang terbuka hijau publik.

Proporsi 30 persen ini tentunya merupakan syarat minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota. Sehingga mampu meningkatkan ketersediaan udara bersih serta menambah nilai estetika suatu kota.

Merujuk dari aturan tersebut, sudahkah kotamadya maupun kabupaten di Kalimantan Selatan mengalokasikan luas wilayahnya dijadikan ruang terbuka hijau publik merangkap sebagai taman kota yang digunakan seluas-luasnya untuk warga kota sebagai tempat berkumpul dan menghabiskan waktu luang dengan nyaman.

Belajar dari Daerah Lain

Dari itu semua, perlu kiranya daerah ini mencontoh pengelolaan taman kota di kota-kota besar di Indonesia. Seperti contohnya, di Surabaya dengan  kondisi cuaca yang tak jauh berbeda dengan Banjarmasin, Walikota Surabaya, Risma, berhasil mengubah citra kota surabaya menjadi kota Metropolitan yang layak huni. Dimana banyaknya taman kota yang hadir dengan pedestarian dan jejeran pohon rindang membuat warga kota betah untuk mengunjungi taman kota.

Salah satunya Taman Bungkul yang berlokasi di Jalan Raya Darmo ini memperoleh penghargaan “The 2013 Asian Townscape Sector Award” dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Taman ini dibangun oleh Walikota Surabaya Ibu Tri Rismaharini. Memiliki fasilitas amphiteater dengan diameter 33 M persegi, Jogging Track, Taman bermain anak-anak dan Lahan untuk papan luncur. Taman Bungkul juga menyediakan fasilitas internet nirkabel, sehingga masuk sebagai salah satu Taman Kota Terindah.

Beda Surabaya, Beda lagi Bandung. Hasil buah tangan kreatif arsitek tingkat dunia yang juga merupakan Walikota Bandung, Ridwan Kamil. Kota Bandung berubah wajah menjadi kota yang dipenuhi dengan taman kota tematik.

Ridwan Kamil berhasil mengkreasikan puluhan taman kota melalui berbagai tema yang segar dan menarik, tidak hanya monoton dengan menghadirkan taman kota yang ditanami pohon rindang, rumput dan air mancur. Berbagai tema dalam pembuatan taman kota di Bandung membuat banyak warga tak bosan untuk mendatangi taman kota disana. Sebut saja taman Jomblo, taman sederhana yang diisi oleh kursi-kursi tunggal berwarna-warni.

Tak jauh dari Taman Jomblo, berdiri Taman Film, konsep taman kota dimana terdapat rumput sintetis luas untuk duduk lesehan dan tentunya terdapat sebuah layar LCD TV berukuran raksasa yang mendukung warga kota untuk berkumpul bersama menonton film dan menjadi tempat nonton bareng jika Persib Bandung atau timnas Indonesia sedang berlaga.

Adapula taman Fitnes, konsep taman kota yang menyediakan peralatan fitnes untuk warga kota berolahraga. Taman Gesit, dimana taman kecil yang berisi dengan rumah pohon tampat anak muda Bandung berkumpul. Pet Park, konsep taman untuk memanjakan hewan peliharaan jalan-jalan. Taman Musik, memanjakan anak muda dalam bermusik dengan konsep studio okestra.

Taman Superhero dimana terdapat aneka patung superhero raksasa yang menjadi daya tarik anak-anak untuk bermain disana. Ada Taman Vanda, Balai Kota, Pustaka Bunga, Cinta, dan yang kini menjadi trademark Kota Bandung adalah Alun-alun kota Bandung, berlokasi tepat bersebelahan dengan mesjid raya kota bandung. Maka wajarlah jika dipenghujung tahun lalu UNESCO menobatkan Kota Bandung sebagai kota desain dunia atau city of design. Sehingga tentunya meningkatkan angka kunjungan wisata ke kota ini.

Alasan Sederhana

Fokus pembangunan yang berorientasi pada pembenahan taman kota maupun ruang terbuka hijau tentunya bersumber dari niat dan nurani masing-masing kepala daerah. Walikota Surabaya, Tri Rishmaharini mengatakan pembangunan kota akan mengarah pada pembangunan bangunan yang bertingkat, sehingga dalam tempo 10-20 tahun medatang ketika warga kota bosan dengan hiburan hedonisme yang disajikan mall modern, maka warga kota akan mencari taman kota sebagai sarana untuk berkumpul bersama.

Tak jauh berbeda dengan Ridwan Kamil yang justru lebih mendahulukan membuat taman-taman yang indah dan sarana rekreasi ketimbang membenahi masalah kota yang kompleks seperti kemacetan, PKL, sampah, banjir, transportasi, dan sebagainya. Ridwan Kamil sendiri pernah mengatakan bahwa awalnya membangun taman-taman karena dia ingin meningkatkan indeks kebahagiaan (level of happiness) warga Bandung terlebih dahulu.

Jadi, prinsipnya berlawanan dengan pandangan umum yang mengatakan bahwa benahi semua permasalahan kota sampai tuntas barulah warganya menjadi bahagia. Tetapi prinsip Ridwan Kamil sebaliknya, warga harus dibuat senang dan betah dengan kotanya dulu, sembari bersama-sama memperbaiki infrastruktur lainnya serta menyelesaikan aneka permasalahan. Permasalahan kota besar tidak akan pernah tuntas, selalu bertambah, maka menunggu tuntas tidak akan pernah selesai-selesai.

Bagaimana Ibu Risma dan Ridwan Kamil sukses memanjakan masyarakat dengan menghadirkan berbagai fasilitas umum sebagai sarana untuk lebih dekat dan mengenal kota tempat tinggalnya. Para pemimpin tersebut tak memberikan pencitraan sesaat kepada masyarakat kecil dengan membawa puluhan awak media atau memberikan janji-janji ‘langit’ yang bahkan tidak bisa dipahami oleh para masyarakat itu sendiri.

Apa yang dilakukan oleh Ibu Risma dan Ridwan Kamil sebenarnya sederhana dalam mengambil hati dan simpati warganya. Landasannya bagaimana memberikan fasilitas umum yang manfaatnya dapat dirasakan langsung dan tidak dipungut biaya.

Pemimpin daerah ini kiranya tak perlu minder dengan pencapaian walikota-walikota sukses yang dicintai oleh warganya tersebut. Pemimpin daerah dapat meluangkan sisi kreatifitasnya yang selama ini kurang tersentuh dengan merancang taman kota impian untuk warga kotanya.

Ataupun jika tak mampu, kita tak perlu malu untuk meniru dan memodifikasi konsep taman kota yang telah ada di kota-kota besar di Indonesia.    Akan tetapi, menjadi malulah ketika pemimpin daerah di provinsi yang kaya akan sumber daya alam setelah lima atau sepuluh tahun menjabat tak mewariskan apa-apa untuk masyarakatnya. Karena yang dikenang masyarakat bukanlah janji-janji manis yang mereka lontarkan, melainkan sebuah bukti pembangunan yang dinikmati langsung dan bertahan lama untuk masyarakat.

Sumber Foto: Klik

Iklan

2 thoughts on “Menanti Pemimpin Perduli dengan Taman Kota

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s