Tak Ada Judul

Aku merasa, kemampuanku menulis fiksi semakin berkurang. Maka dari itu aku berusaha untuk menulis cerita fiksi singkat yang membuatku belajar membuat cerita yang menarik.

***

Adakah langit yang sebelumnya kita lihat dulu tetap seelok seperti bentuk yang sama. Aku pernah bertanya padamu, tentang hal yang aku tak kuketahui tentang dunia ini, karena kuanggap kamu lebih banyak mengetahui akibat kesenanganmu membaca buku. Aku bertanya mengapa di Eropa turun salju sedangkan di Timur Tengah panas menyengat. Atau mengapa di Nusa Tenggara udaranya kering sedangkan di Bandung terasa sejuk.

Kamu menjawab dengan baik, beserta alasan-alasan logis yang memuaskan akalku. Berada di dekatmu aku menjadi lebih cerdas tiga puluh persen rasanya. Dan menjauh darimu membuat diriku menjadi bodoh sekaligus melakukan kebodohan.

Masih ingatkah kamu ketika kita sedang tiduran di rumput yang baru saja bertemu embun. Baju belakang kita menjadi basah, sedangkan kita merasakan kehangatan yang sama dibalik sinar matahari pagi. Kamu membuat kanopi di mata dengan tanganmu, agar bisa melihat matahari itu bersinar. Katamu, matahari pagi bagus untuk merangsang pembentukan vitamin D yang tubuh kita miliki. Banyak hal kegunaannya, dari mencerahkan kulit, mencegah kangker sampai meningkatkan vitalitas seksual. Aku percaya saja apa katamu, karena kamu lebih banyak membaca dibandingkan aku yang lebih sibuk untuk tidur siang. 

“Tapi kamu jangan berjemur ketika siang hari, sinar UV yang dipancarkan matahari telah menjadi jahat.”

Aku tak banyak mengetahui memang. Tapi sebodohnya aku juga tak ingin berjemur di siang hari yang terik.

Aku mengangguk akan nasihatmu, dan kamu teruslah berbicara, dari satu topik melompat ke topik lain yang terkadang tak beririsan. Di titik itulah aku menyukaimu, ketika dirimu menjadi guru untuk kebodohanku, oh tidak, ketika suaramu membuat nyaman telingaku. Aku bingung, apakan telinga memiliki jodoh dengan pita suara. Ia terus berusaha untuk menangkap apa saja yang keluar dari mulutmu, tawamu, bisikmu, keluhmu, desahmu, dan marahmu. Sayangnya, banyak ekspresi itu diterjemahkan hanya keindahan oleh telingaku.

Mungkin lebih tepatnya telingaku mengalami gangguan dibandingkan bersikeras pita suaramu adalah cinta sejatinya. Mataku juga benar-benar tergila-gila oleh senyummu. Ia sama sekali tak akan berpaling ketika sebentar lagi kamu akan tersenyum, atau ketika beberapa detik lamanya setelah kamu tersenyum. Ia menunggu senyum kedua, ketiga, keempat itu terbingkai kembali di bibirmu. Dan mataku menunggu itu, bahkan disaat tubuhmu tak kulihat. Benar menjadi gila sepertinya.

Dan yang lebih parah, bibirku ikut merindukan bibirmu pula. Bagaimana mungkin ketiga indera yang kumiliki mencintai bagian yang sama? Aku tak mampu menjawab semua itu, sampai kini, disaat ketika suaramu tak kudengar lagi, senyummu tak dapat kupandang dan bibirmu tak mampu kukecup. Karena kamu bukan lagi menjadi manusia yang sama. Kamu berubah dengan memutuskan untuk pergi, dengan alasan yang tak dapat aku pahami dengan logika. Disaat itulah aku menyadari, sisi logis yang kamu miliki dengan setumpuk pengetahuan, juga tersimpan keanehan yang membuatku tak mampu memahami dirimu.

Aku yang menunggumu menjawab pertanyaan, mengapa hati ini bisa sakit dan terluka, pada sesuatu yang tak menamparku?

Bandung, 16 November 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s