Di suatu Senja

senja-di-pantai-weraDi penghujung senja aku duduk di pinggir pantai. Pantai yang sepi dengan perahu nelayan yang terpakir sembarang. Warna jingga hampir mendominasi warna langit. Ombak membawa sampah plastik untuk berkelana di samudra. Aku pun ingin dibawa oleh laut. Untuk meninggalkan daratan yang selama ini tak mampu mewujudkan harapanku.

Dalam lamunan, aku tersadar oleh colekan buih air yang dibawa oleh ombak bergulung. Ujung celanaku menjadi basah. Lamunan pikiran yang sebelumnya melompat-lompat dari satu kejadian ke kejadian lain kembali bermuara di pantai ini. Aku menyadarkan sepenuhnya pada suasana yang syahdu di pantai ini. Seluruh indera seakan bergetar ketika aku kembali. Kutatap tubuh laut yang hampir berpadu dengan tubh langit. Aku larut dan tak kusangka ada sesosok tubuh yang mengajakku berbicara.

“Apa yang kamu pikirkan, seakan pikiranmu lebih riuh dibandingkan ombak di pantai ini.”

Aku terdiam

Dia tak pernah berhenti bertanya.

“Seberapa banyak hal yang kamu masukkan ke dalam pikiranmu, seakan kamu tak mampu lagi merespon suara?”

Aku jawab sekenanya, “aku tak pernah tahu apa-apa saja yang kumasukan, tahu-tahu seperti tak ada ruang kosong lagi.”

“Sandy, kamu selalu saja membawa apa saja ke rumah. Pekerjaanmu, makan siangmu, bensin mobilmu, bahkan tawa teman kantor kepadamu engkau bungkus rapi setiap harinya. Sampai kamu kebingungan sudut manalagi yang mampu menampungnya.”

Aku memikirkan kebenaran atas ucapannya. Kuanggukan kepalaku akan sesuatu yang ia katakan tadi. Aku memasukan apa saja, itu kebenaran. Aku menumpuk segalanya, itu kenyataan. Tapi salahkah hal itu? Bukankah permasalahan, ketika kita tak dapat menyelesaikannya di kantor dapat dibawa pulang ke rumah sebagai pekerjaan yang bisa dilakukan menemani istirahat malam.

Dan kamu lagi-lagi beranggapan segala hal bisa diselesaikan pada kesempatan itu juga. Lalu melupakannya, mana bisa?

“Tak segala hal bisa kamu bawa, hal itu menjadi beban untukmu. Membuatmu selau letih.”

Aku menatapnya dengan seksama, sosok yang begitu angkuhnya, seperti motivator yang seolah tahu isi hati yang dirasakan semua manusia, “Kamu tahu apa? Kamu memangnya merasakan? Segala hal ini aku akui menjadi beban ketika kubawa. Tapi itu harus kubawa, karena aku manusia yang bertanggung jawab.”

“/aku salut atas ke’profesional’anmu. Tapi yang aku tak mengerti, mengapa kamu masih menyimpannya ketika segala hal telah kamu selesaikan dengan baik. Kenapa? Kamu khawatir akan penilaian orang lain yang menilai buruk kerjamu. Kamu menghawatirkan apa kata orang atas pribadimu. Wake up, perduli apa tentang orang lain ketika yang berada di tubhmu itu adalah dirimu sendiri.”

“Hmm..” aku bergumam tak ingin membantahnya.

“Lihatlah ombak itu, San. Biarpun ia berkali-kali datang dan pergi, ia tak pernah bosan lalu berhenti. Sewaktu-waktu ia mengeluarkan sampah dan ranting pohon dari laut, kadang pula ia menelan sampah plastik dari pantai dan membawanya berkelana ke laut lepas. Ia melepaskan, bukan memeluk dengan erat. Karena ia tahu, hidup ini bukan kepemilikan dia.”

Sosok itu meninggalkan aku sendiri. Dan tak lama ombak besar menghempaskan batang kayu dan meletakkannya tepat di bibir pantai. Tak sudi lagi ombak membawanya pergi.

Bandung, 15 November 2015

Sumber Gambar: klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s