[Cerpen] Suatu Negeri yang Sejahtera karena Judi

Setelah hampir dua tahun cerpen ini dibuat dan dipublish di blog ini, akhirnya cerpen ini di muat di surat kabar harian Radar Banjarmasin edisi Minggu, 5 Februari 2017. Sudah sejak lama memang saya tidak menulis cerpen lagi. Pengiriman ulang cerpen saya ke media massa lokal, merupakan usaha saya untuk lebih percaya diri lagi dalam menulis fiksi.

***

Pernahkah terpikirkan bahwa judi ternyata mampu membawa kesejahteraan pada seluruh penduduk di suatu negeri. Terdapat sebuah negeri dimana penduduknya menggantungkan hidup dalam bercocok tanam menanam padi, sayuran, buah-buahan, bahkan tanaman hias.

Pemerintah negeri ini mengatur permukiman dengan gaya modern dan tertata rapi. Masing-masing penduduk mendapatkan jatah lahan sajudima rata, 10000 meter persegi untuk bercocok tanam. Pemerintah negeri ini menjunjung tinggi kesetaraan, sehingga tak ada penduduk yang kaya raya dan tak ada pula yang terlalu miskin. Kehidupan disana seperti memberikan gambaran nyata tentang keadilan.

Tak ada yang istimewa dari penduduk negeri ini. Semua dari mereka tak mengenyam pendidikan. Semua orang bahkan pejabat di pemerintahan tak ada yang mampu membaca apalagi berhitung. Segala arus informasi berjalan melalui lisan dan segala bentuk transasksi dilakukan melalui barter. Tak ada penduduk yang berniat tipu menipu, walaupun semua berjudi. Laki-laki dewasa, ibu-ibu, nenek tua renta hingga anak-anak berusia sepuluh tahun sangat menyukai berjudi. Fakta yang terjadi, tak ada yang benar-benar kaya dari berjudi dan tak ada yang jatuh miskin karenanya. Tingkat pendidikan yang tak tinggi membuat penduduk tak menerapkan sama sekali strategi untuk memenangkan perjudian, mereka semua hanya mengandalkan insting dan naluri yang sama tumpulnya dengan kecerdasan yang mereka miliki. 

Tiba-tiba datang seorang penduduk baru, bedanya ia sama sekali tak berminat untuk berjudi. Ia mendapatkan lahan yang sama untuk mendirikan rumah dan berladang, tapi ia langsung pulang ke rumah ketika selesai berladang disetiap sorenya. Hanya satu orang saja dan seluruh penduduk negeri itu menjadi gempar.

“Mengapa kamu tak berjudi wahai penduduk baru?” seorang kakek renta yang menjadi tokoh masyarakat memulai bertanya.

“Aku sama sekali tak bisa melakukan permainan seperti itu, kehadiranku hanya akan mengacaukan.”

“Tata caranya sangat mudah, kamu hanya memilih angka dimana dadu yang dilempar akan memilih siapa yang menang. Atau yang paling mudah kamu menebak mata koin yang akan muncul. Tak perlu perhitungan, semua orang disini tak ada yang pandai dalam berhitung.”

“Tak ada barang yang mampu aku pertaruhkan,” kembali alasan penduduk baru tersebut hadirkan agar tak ikut berjudi.

“Kamu bisa taruhkan hasil ladangmu, bukan?”

“Aku baru saja menanam, tak ada hasil yang kudapatkan.”

Semua penduduk merasa lelah dalam membujuk, penduduk yang tak mau berjudi itu selalu memberikan alasan ‘tak ada yang bisa aku pertaruhkan’ sebagai alasan ketidakinginannya dalam berjudi.

 Banyak gunjingan yang beredaar, seperti seharusnya ia bisa mempertaruhkan hasil ladang yang akan ia peroleh. Bukannya Sumijan acap kali melakukan hal ini. Atau ia bisa saja berhutang barang, nanti setelah hari panen tiba ia bisa membayarkannya.

Darurat kestabilan politik terjadi di negeri itu, semua penduduk menggunjingkanya. Semua orang tak berkonsentrasi lagi dengan permainannya, tak memperdulikan lagi insting dalam memilih angka dadu. Semua sibuk bergunjing tentang penduduk yang tak ingin berjudi itu. Hingga akhirnya pemerintah turun tangan dan menteri urusan dalam negeri menemui penduduk baru tersebut dan mengajaknya untuk berjudi. Ini hanya permainan sederhana yang tak merugikan siapapun. Sudah seratus dua puluh tiga tahun permainan ini dilakukan, tak ada penduduk yang jatuh miskin, tak ada yang kalah judi melakukan bunuh diri, kilahnya membujuk penduduk tersebut.

Seluruh penduduk menanti kedatangan penduduk yang tak ingin berjudi di berbagai arena yang mungkin saja akan ia datangi. Tapi jam berlalu dan hari ikut berlalu, tak ada jua batang hidung penduduk baru tersebut untuk melangkahkan kaki ke arena perjudian.

“Berani sekali ia tak menghiraukan perintah presiden yang datang melalui menteri dalam negeri.”

“Seorang menteri yang penuh wibawa datang, membujuknya, dan sampai hari ini ia tak muncul juga di hadapan kita. Apa maunya orang itu?” seorang jawara kampung mulai emosi dan mulai menaik turunkan parang dari sarungnya.

“Sepertinya tak ada jalan lain, kita harus mengusir dia dari negeri ini.”

Seorang yang berumur menengahi, “tak pernah dalam sejarahnya di negeri ini, kita mengusir penduduk, bahkan untuk seorang pencuri sekalipun.”

“Tapi ia tak ikut berjudi, itu lebih membahayakan dibandingkan perampok sekalipun” seorang remaja yang masih belum tumbuh jakun membantah.

“Ia benar sekali, tak ada dalam sejarah hidupku seorang penduduk negeri ini yang tak ikut berjudi,” Nenek renta ikut menimpali.

“Kita bakar saja rumahnya, Pak. Biar ia pergi dengan sendirinya,” seorang anak sepuluh tahun memberikan ide.

“Wah ide bagus itu, kita bakar bahkan dengan ladang yang ia punya,” giliran ibu yang hamil tua ikut memamanaskan perdebatan.

Seorang pemuda bertato mendebat,“tapi seumur hidup kita tak pernah penduduk bersekongkol untuk melakukan tindakan kriminal.”

“Tapi ia tak menghiraukan peringatan dari, Presiden.”

Segala perdebatan menghiasi setiap arena perjudian. Tak ada lagi penduduk yang fokus untuk berjudi, semua berganti prilaku menjadi suka bergunjing. Laju perputaran barang semakin lambat di negeri ini. Pajak yang diperoleh dari arena perjudian menurun drastis.

Sedangkan sang penduduk yang tak ingin berjudi semakin dikucilkan oleh seluruh penduduk. Tak ada yang mau barter hasil ladang dengannya. Hasilnya tubuh penduduk yang tak ingin berjudi itu tampak tak bertenaga dan lemas, karena hanya memakan nasi tanpa sayur dan lauk. Bahkan garam untuk memberikan rasa di lidah pun ia tak punya. Jadilah ia tak sanggup lagi untuk pergi ke ladang.

Sedangkan penduduk negeri ini masih saja menggunjingkan penduduk itu, waktu berladang semakin berkurang. Semua orang berkumpul di arena perjudian hanya sibuk bergunjing, berjudi hanya selingan ketika mereka lelah memaki.

Dua tahun tiba setelah kedatangan penduduk yang tak ingin berjudi itu, kini penduduk yang tak ingin berjudi itu mati di gubuknya sendiri karena kekurangan gizi, tubuhnya kurus tak ada daging pembungkus tulang. Seluruh penduduk bersuka cita mendapati kabar kematian penduduk yang tak ingin berjudi tersebut dan kembali mengunjingkannya.

Hari demi hari seluruh penduduk menggunjingkan kematian penduduk yang tak ingin berjudi tersebut, tak bosan, selalu saja ada kisah baru dari sumber yang tak jelas, dengan kisah yang semakin tak masuk akal saja. Seperti, perihal penduduk tersebut dirasuki setan, sebenarnya gila, atau merupakan hasil hubungan gelap antara manusia dengan kerbau yang menyebabkannya memiliki pikiran tak waras, enggan untuk berjudi.

Akhirnya, waktu panen telah tiba dan tak ada satupun penduduk yang memanen ladangnya. Tahun ini tak ada hasil ladang yang tercipta dari ladang-ladang penduduk. Semua mati, tak terurus. Padi meranggas, sayuran layu tak sempat di panen. Buah-buahan seakan ikut dengan nasib tanaman lain, enggan untuk memberikan hasil.

Pemerintah tak memiliki kuasa apa-apa untuk memberikan subsidi makan kepada seluruh penduduk. Dan akhirnya sebagian besar penduduk mati kelaparan dan sebagian lagi menderita busung lapar dan tak ada satu pun penduduk yang mampu melakukan aktivitas sehari-hari berladang apalagi berjudi.

Pernah terdapat suatu negeri yang sejahtera karena judi, tapi hanya karena satu orang negeri tersebut punah dimakan zaman, yang teringgal hanya kisah-kisah bagaimana kesejahteraan meliputi negeri tersebut dan tak tahu pula sudah berapa banyak bumbu yang dimasukan agar kisah-kisah tersebut menjadi nikmat untuk didengar dan dipercayai.

Iklan

4 thoughts on “[Cerpen] Suatu Negeri yang Sejahtera karena Judi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s