Bintaro

Aku berjalan mengendap-ngendap. Agar tak terlihat siapapun ketika aku mulai menjadi gila karena rindu. Kulangkahkan kaki dengan perlahan, membuka pintu dengan begitu lembut, berupaya agar engsel pintu yang berkarat tak berderit. Semua kulakukan agar tak ada yang curiga ketika aku keluar malam ini. Dan mengobati kantukku dengan menumpahkan rindu.

Kutatap kembali perwujudan rumahku ketika aku sudah berdiri di pinggir jalan. Rumah yang menaungi aku di teriknya siang dan selalu kutinggalkan ketika gelapnya malam mulai datang. “Besok pagi aku akan menemuimu kembali, tak usah kau sedih, aku pergi juga hanya sebentar. Ada urusan hati yang harus dituntaskan,” gumamku menyapa bangunan di depanku.

Lelah rasanya aku berjalan. Angin malam ternyata mampu mengeluarkan keringat. Entah seberapa jauh aku telah meninggalkan rumah. Dan aku mempunyai satu tujuan yang ingin aku singgahi. Sebuah tempat yang selalu aku kunjungi ketika tengah malam datang dan tak perduli ada sinar bulan atau tidak, aku akan berada disana. Tak perduli gelap dan mata tak bersahabat, aku tetap berada di dalamnya. 

Aku duduk di kursi yang telah usang. Satu kaki kursi telah patah tak ditemukan lagi bangkainya. Aku duduk sambil menyeimbangkan diri, sungguh seperti duduk dengan kewaaspadaan. Lampu pijar menyala remang-remang, menciptakan bayangan miring kepemilikan tiang atau meja kursi usang yang lain. Angin malam berhembus entah tanpa aturan ia penuh kelembutan tapi memukulku dengan hantaman yang bertalu-talu. Aku meringkuk kedinginan, tapi aku tetap teguh menunggu.

Kucing liar terlihat pula meringkuk sepertiku, bedanya ia tak menunggu siapa-siapa, ia tidur melepas segalanya. Aku disini memunguti segalanya, merapikan semua kenangan yang semenjak aku duduk telah berantakan entah siapa yang kurang ajar memporak-porandakannya.

Pukul dua pagi tapi ia tidak datang jua, kapan ia datang? Dan dari arah mana datangnya? Biar aku bersiap menyambutnya dengan senyum manisku yang mengembang ketika kereta berhenti dan pandangannya menemuiku yang seorang diri menantinya.

Kereta itu tetap saja tak datang. Hampir dua puluh delapan tahun aku menunggu seperti orang gila saja. Tapi ia tak pernah datang dan aku, bodohnya, selalu tak putus harapan. Kekasihku yang dari Rangkasbitung tak pernah sampai ke Jakarta Kota. Entah kemana ia singgahnya, dan dulu semua orang heboh membicarakan sedangkan telingaku mendadak menjadi tuli untuk mendengar. Jadilah kini aku yang selalu menunggu, karena yakin setiap kereta akan sampai ke tujuannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s