Kabut Asap dan Kesehatan

Tulisan ini adalah tulisan lama yang gagal dimuat di surat kabar harian. Tulisan ini berisi tentang pendapat saya mengenai kabut asap yang selama ini hadir ketika musim kemarau tiba di Sumatera dan Kalimantan di setiap tahunnya. ini merupakan keluhan saya, mengapa pemerintah tak belajar dari pengalaman akan kejadian kabut asap ini dan membiarkan kami sebagai rakyat menghirup racun yang semakin pekat saja dari hari ke hari.

***

kabut asapKebakaran hutan dan lahan selalu terjadi ketika musim kemarau tiba. Upaya pencegahan dalam menanggulangi bencana ini seakan jalan di tempat. Upaya pemerintah dalam membuat kanal irigasi agar lahan gambut tetap basah dan tidak mengalami amblas yang mengakibatkan kekeringan parah, juga tak banyak memberikan hasil.

Sedangkan upaya pemadaman lewat udara maupun darat serta menciptakan hujan buatan hanyalah upaya penanggulangan yang tak menyentuh akar permasalahan. Titik api terus saja bermunculan dari hari ke hari. Satu harapan berupa penegakan hukum yang tegas kepada pelaku pembakaran hutan dan lahan berupa denda dan pidana tak pula memberikan solusi. Karena pada penerapannya penegakan hukum tak menyentuh hubungan para pelaku dengan korporasi yang kemungkinan besar ada di belakangnya.

Tak mengherankan jika upaya pembukaan lahan dengan pembakaran yang dilakukan korporasi maupun hasil tangan masyarakat awam memberikan hasil yang ekonomis dan efesien. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pembukaan lahan dengan cara dibakar hanya memerlukan biaya sebesar Rp 600.000-800.000 per hektar. Jauh berbeda jika pembukaan lahan tanpa dibakar yang akan memakan biaya hingga Rp 3,5 juta sampai 5 juta. 

Tentu saja keuntungan tersebut hanya dirasakan oleh segelintitr pihak yang berhubungan dengan pemanfaat lahan tersebut. Sedangkan kerugian akibat kebakaran hutan tersebut yang harus ditanggung negara mencapai puluhan trilliun rupiah. Hal ini belum terhitung kerugian perusahaan penerbangan yang sering mengalami gagal terbang akibaat kabut asap.

Kerugian akibat kebakaran hutan tidak melulu mengenai sudut pandang materi. Lebih dari itu, dampak kebakaran hutan yang mengakibatkan kabut asap telah mengganggu aktivitas masyarakat. Beberapa sekolah telah diliburkan dan telah ribuan warga mengalami gangguan kesehatan yang berhubungan dengna inspeksi saluran kesehatan atas (ISPA).

 Dampak Kesehatan

“Cukuplah anak saya yang menjadi korban.” Itulah kalimat yang dilontarkan Mukhlis ketika menerima kenyataan anaknya, Muhanum Angriawati (12) yang meninggal dunia akibat asap yang memenuhi paru-parunya. Menurut dokter yang merawat Hanum, ia mengalami gagal napas. Batuk, pilek selama lebih dari sepekan mengakibatkan lendir menutupi paru-parunya.

Hal ini diperparah, ketika Hanum tidak dapat membuang dahak yang mengakibatkan penumpukan lendir semakin banyak. Karena hal tersebut paru-paru sulit mendapatkan pasokan oksigen sehingga akhirnya Hanum menyerah pada asap yang menjadi takdir terakhir hidupnya.

Sebenarnya dampak kabut asap tidak hanya berhenti pada gadis kecil bernama Hanum saja. Bencana ini masih menghantui masyarakat Sumatera dan Kalimantan yang sampai hari ini masih menghirup asap di setiap harinya. Resiko terbesar tentunya mengarah pada bayi dan anak-anak dimana organ pernafasannnya yang masih lemah.

Menurut harian kompas (15/9/15) asap kebakaran hutan mengandung berbagai zat kimia dalam jumlah besar yang bisa mengganggu kesehatan, yakni partikel halus (particulate matter/ PM) dan gas-gas yang dominan seperti gas karbonmoksida (CO), sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida (NO2) seta ozon (O3). Patikel halus yang berukuran kurang kuran dari 10 mikrogram mampu masuk ke saluran pernafasan bawah dan menempel di paru-paru. NO2 dan SO2 merupakan gas beracun yang mengganggu fungsi paru, terutama pada penderitaa asma. Paparan dalam waktu lama menyebabkan bronkitis pada orang sehat, serta gangguan perkembangan fungsi paru.

Gas karbon monoksida merupakan gas yang tak berbau, tak berwarna, dan tak berasa yang bersifat mengikat oksigen, sehingga dampaknya mengganggu distribusi oksigen dalam jaringan tubuh. Paparan CO selama 3-4 jam pada konsentrasi 35 ppm dapat menimbulkan sakit kepala, disorientasi, dan keletihan pada manusia. Dampak kesehatan yang terjadi pada manusia akibat asap dari kebakaran hutan menimbulkan kematian rata-rata sebesar 339.000 jiwa per tahunnya.

Penilaian kualitas udara pada suatu wilayah mengacu pada indeks standar kesehatan udara (ISPU) yang merupakan laporan kualitas udara kepada masyarakat untuk menerangkan seberapa bersih atau tercemarnya kualitas udara dan bagaimana dampaknya terhadap kesehatan setelah menghirup udara tersebut selama beberapa jam atau hari. ISPU terbagi dalam 5 kategori yaitu <50 (sehat), 51 – 100 (sedang), 101 – 199 (tidak sehat), 200-299 (sangat tidak sehat), dan >300 (berbahaya).

Pantauan dari BNPB mengenai nilai ISPU diberbagai wilayah di Indonesia pada 14 september 2015 adalah di Pekanbaru sebesar 984 psi (berbahaya), Siak 467 psi (berbahaya), Dumai 464 psi (berbahaya), Palembang 550 psi (berbahaya), Pontianak 307 psi (Sangat Tidak Sehat), dan Banjarbaru 449 psi (Sangat Tidak Sehat). Dimana, di Kalimantan Selatan terdapat 53.442 jiwa menderita ISPA.

Udara Kalimantan Selatan yang memasuki level sangat tidak sehat menurut nilai ISPU seharusnya menjadi perhatian bersama dalam menanggulangi kebakaran hutan. Adapun langkah yang tepat dalam menanggulangi kebakaran adalah dengan merangkul masyarakat sekitar untuk turut andil dalam upaya pencegahan dan pemadaman kebakaran lahan dan hutan. Masyarakat tentunya dengan ikhlas membantu upaya penanggulanagan kebakaran karena tidak ingin anggota keluarganya terus-terusan menghirup asap.

Disamping itu, perlu adanya regulasi hukum yang kuat antara korporasi dengan pemerintah daerah. Dimana pemerintah dapat mengeluarkan peraturan mengenai denda dan pidana yang besar terhadap lahan dari perusahaan yang terbakar. Sehingga pihak perusahaan menjadi gentar untuk melakukan pembukaan lahan dengan pembakaran.

Langkah antisipasi pemerintah perlu digerakan lebih menyeluruh seperti pembuatan kanal irigasi serta melakukan pengetatan ijin alih fungsi lahan agar kejadian kebakaran hutan dapat diminimalisir pada tahun kedepan. Setidaknya pada tahun kedepan kita tidak lagi menghirup asap yang mengganggu itu, sebuah harapan bersama, dan tentunya kita akan bersama-sama untuk mewujudkannya.

Sumber Gambar: Klik

Iklan

2 thoughts on “Kabut Asap dan Kesehatan

  1. hai salam kenal. sebelumnya. sebenarnya pendapat saya sama tentang kebakaran yang sedang melanda wilayah Sumatra & Kalimantan. pembukaan lahan dengan cara di bakar kasusnya sering terdengar, dan hampir setiap tahun terjadi. saya hanya bisa prihatin dengan teman-teman yang ada di sana, bagaimana rasanya setiap hari mereka harus menghisap asap berbahaya. gw yang menghirup polusi kota sehari-hari aja sering mengeluh. apalagi mereka. harus ada tindakan tegas dan upaya pencegahan agar hal ini tidak terulang. semoga hujan cepat turun dan mmebasahi tanah mereka, amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s