Kabut Asap dan Pemerintah yang Tidak Bisa Move On

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) membentang poster di depan patung 'Selamat Datang' yang telah dipasangi masker pelindung pernapasan saat menggelar aksi Peduli Bencana Kabut Asap di Pekanbaru, Riau, Jumat (4/9)Dulu saya merasa bergembira ketika kabut asap pekat menghampiri kota tempat tinggal saya di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Itu berarti sekolah akan memulangkan kami lebih cepat dari jadwal pulang. Jika situasi makin parah, maka dinas pendidikan setempat akan mengambil kebijakan meliburkan kegiatan belajar mengajar selama satu hingga dua hari. Tentunya tak ada hal yang lebih menyenangkan dibandingkan libur sekolah. Walaupun itu harus ditukar dengan menghirup pekatnya asap yang membuat pusing kepala dan batuk-batuk yang tak berkesudahan.

Itu dulu, ketika lingkar otak saya masih berukuran mini. Sekarang setelah enam tahun lulus dari masa SMA, kejadian kabut asap masih saja menghampiri kota kami setiap musim kemarau tiba. Seolah-olah di Kalimantan telah terjadi tiga tipe musim di setiap tahunnya, musim hujan, musim kemarau dan musim kabut asap.

Sudah puluhan tahun perihal kabut asap ini selalu datang dan pergi. 18 tahun tepatnya dan pemerintah seakan baru melihat kejadian ini kemarin sore. Seakan telah menjadi dagelan yang tak lucu sama sekali. Kami seperti diminta untuk pasrah menghirup asap-asap sehingga udara kota menjadi bersih, dianggapnya paru-paru kami ini seperti AC dengan teknologi inverter rupanya.

Ketika kebakaran lahan dan hutan tiba, seolah-olah pemerintah bekerja cepat tanggap, menerbangkan helikopter untuk mengguyurkan air, menerbangkan Hercules untuk membuat hujan buatan, mengerahkan manggala agni dari darat, dan menciduk pelaku-pelaku pembakaran lahan yang kedapatan sedang membuat api unggun siang-siang. Tapi apakah hal itu efektif? Sama sekali tidak, apa yang dilakukan sama sekali tak menyentuh akar permasalahan.

Sampai-sampai saya sempat berpikiran bahwa kejadian kabut asap yang kerap terjadi ini adalah proyek abadi pemerintah, tak ubahnya seperti perbaikan jalur pantura ketika lebaran akan tiba. Pemerintah menemukan dalih menggelontorkan uang trilliunan rupiah untuk memadamkan lahan, padahal kenyataannya mereka ngaso sambil melihat dari jauh api unggun raksasa yang tersebar dimana-mana.

Itu selintas pikiran buruk saya kepada pemerintah, karena terlalu sering menghirup asap membuat saya tidak bisa lagi berfikir jenih. Tapi buru-buru saya buang pikiran buruk tersebut. Saya mengerti persoalan kebakaran hutan merupakan murni motif ekonomi. Iya sesederahana itu, para masyarakat awam dan korporasi yang serakah paham betul, biaya pembukaan lahan dengan dibakar jauh lebih murah, hanya sebesar Rp 600.000 sampai 800.000, jauh berbeda jika tanpa dibakar yang mencapai Rp 3,5 juta. Ditambah lagi dengan dibakar, lahan gambut akan menurunkan derajat keasamaan sehingga mudah untuk ditanami.

Untung besar toh, tapi semua itu hanya dirasakan oleh segeitir orang saja. Sedangkan dampaknya semua manusia di Sumatera dan Kalimantan terganggu aktivitas dan dengan sukarela menghirup racun. Saya tak bisa membayangkan betapa besar dosa jariyah yang didapatkan para pelaku pembakaran lahan. Bagaimana mereka mempertanggung-jawabkan perbuatannya di akhirat kelak? Kami jelas akan menuntut ganti rugi kepada Tuhan atas kelakuan mereka, tapi itu nanti setelah kami semua mati dan nyatanya kami sekarang masih hidup dan sedang leluasa menghirup asap.

Sedangkan pemerintah ‘sibuk’ sekali saat-saat ini bekerja. Presiden terjun langsung melihat lokasi kebakaran, entah melakukan apa disana. Berbagi kementrian pun bergerak bersama. Namun, saya masih saja bingung, cepat tanggap kinerja mereka mengapa baru sekarang. Sebelum terjadi kebakaran mereka sedang apa? Padahal faktanya, sebagian besar lahan yang terbakar adalah lahan konsensi ahli fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit.

Apa pemerintah menutup mata dengan membiarkan kebakaran terjadi lalu berakting panik memadamkan api dan mengelus pundak kami agar bersabar dari bencana ini. Ini bukan bencana, pak. Sudah puluhan tahun kami menghirup asap dan bagi kami ini bukan bencana. Ini adalah usaha korporasi untuk memulai menjalankan usaha. Setelah musim hujan tiba lahan bekas terbakar akan ditanami bibit-bibit berwarna hijau yang unyu dan kami akan menunggu tahun depan untuk menyaksikan pertunjukan kabut asap seperti di arena pertunjukan sulap terulang kembali.

Sumber Gambar: Klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s