[Cerpen] Surga Sederhana

Aku akan pergi dari rumah yang selama ini begitu nyamannya aku tempati. Adakah yang sadar keindahan cat dinding yang kebanyakan telah terkelupas. Dinding yang mulai retak dan plafon yang perlahan berjatuhan seperti daun kering musim kemarau. Entah sudah berapa lubang yang menganga ketika genteng tak mampu lagi menahan rintik hujan dan teriknya panas.

Rumah yang selama ini menaungi kehidupanku. Tak ada kemewahan yang kudapat. Tapi di sana aku mendapatkan ketenangan. Saat kehidupan di luar begitu kejamnya dalam menggoda. Aku lebih suka mendekam, tak ada hiburan di dalam rumah. Tak ada tv, apalagi radio. Telepon gengam yang kumiliki adalah model lawas dimana permainan yang disajikan hanyalah ular yang terus berjalan mencari makan dan lambat laun membuat tubuhnya semakin panjang.

Tak ada pula pasangan yang menemani. Sebagai teman mengobrol pengusir sepi, hanya dinding kamar sajalah yang setia mendengarkan keluh kesahku tanpa ia bergerak sesentipun. Tak pula ia merasa lelah dalam mendengarkan, memang selayaknya telinga terbuat dari sesuatu yang kokoh, kalau perlu bertulang seperti beton-beton pencakar langit. 

Hanya aku sendiri saja manusia di rumah ini. Walaupun banyak makhluk hidup yang ikut bernaung di tempat ini. Ada laba-laba yang bergonta-ganti sarang sesuka hatinya. Kadang di atas lemari, kadang pula di bawah meja, kadang lagi di kamar mandi, tapi ada satu kala ia membuat sarangnya tepat di pintu kamar. Kurang ajar sekali, ia memenjarakanku di rumah sendiri. Adapula semut-semut yang gemar sekali berbaris. Rapi sekali, seperti anggota Paskibra ketika tujuh belasan. Tak ada yang saling mendahalui seperti antri membeli tiket konser musik. Betapa bodohnya terkadang manusia, sudah mengantarkan uang dengan ikhlas kepada promotor,eh disuruh mengantri pula, itupun diminta berdiri menunggu hingga berjam-jam lamanya. Slogan pembeli adalah raja sepertinya hanya bualan. Di negeriku pembeli adalah mangsa mudah untuk ditipu. Diimingi harga yang dipotong setengahnya, banyak manusia rela membeli barang imitasi asal merek terpampang jelas.

Terdapat pula sepasang tikus yang gemar sekali bercinta. Dialah sosok hewan di rumah ini yang bertabiat seperti raja. Sudah lihai membobol kardus indomie. Buang air sembarangan tak punya tata krama dan ketika bercinta cicitannya melebihi disk jokey yang sedang beraksi. Ingin sekali aku membunuhnya lalu kugoreng dan kuhadiahkan pada kucing tetangga. Tapi ia sudah sangat cerdas dalam menghadapi jebakan yang aku hantar. Tak dipedulikannya lembut keju yang aku tempelkan pada kait jebakan. Seandainya waktuku lebih lama di rumah ini, aku berniat untuk membeli senapan, ingin sekali aku melihat perutnya berlubang.

Dan satu lagi hewan yang teramat aku benci kehadirannya di rumah ini, ialah nyamuk. Gayanya sudah melebihi burung garuda yang menjadi lambang negara. Kepakan sayapnya tak terlalu nyaring dibandingkan cicitan tikus, tapi ia tepat berada di daun telingaku. Betapa bisingnya telingaku dibuatnya. Belum lagi ketika ia mengecup kulitku, tak nikmat sama sekali, menimbulkan bentol yang selalu aku garuk ketika pagi. Nyamuk adalah pengganggu nyenyaknya tidurku, tak memiliki perasaan memang, sudah tidur sendiri, kesepian, kedinginan, dan diganggu pula. Ingin aku membeli kelambu, tapi dipikir kembali, nyamuk masih memiliki kebaikan hati, ia membangunkanku sebelum mimpi buruk datang menyergap.

Begitulah, telah aku ceritakan semua penghuni di rumah ini. Sebentar lagi mereka aku tinggalkan. Kuserahkan kekuasaan sepenuhnya rumah ini kepada mereka. Kutitahkan mereka untuk berbuat sekehendak hati, dijadikan kebun binatangpun aku ikhlas. Setidaknya rumah ini masih memberikan manfaat walaupun hanya untuk hewan-hewan yang sudah pasti diusir di rumah lain.

Perihal mengapa aku meninggalkan rumah ini, ceritanya begitu panjang. Baiklah jika kalian ingin tahu, aku akan menyederhanakannya. Rumah ini akan disita oleh bank, karena aku tak mampu membayar tagihan pinjaman. Aku tak pernah mau berurusan oleh rentenir yang dilindungi negara itu. Hanya saja, dulu sekali ada penghuni di rumah ini yang mengantarkan jaminan berupa sertifikat, aku tak bisa berbuat banyak, ia berjanji untuk bekerja membantuku yang selama ini lelah bekerja seharian. Sebagi kuli bangunan, masa depanku tak akan menjadi cerah jika ia tak ikut membantu. Mentok hanya menjadi mandor yang berpenghasilan tak seberapa pula. Diputuskannya untuk membuka kredit alat-alat rumah tangga. Berkeliling dari rumah ke rumah, padahal toko-toko perkakas rumah itu telah menjamur di jalan-jalan besar di kotaku.

Usaha tanpa perhitungan juga menghasilkan kebodohan. Ia memutuskan untuk bangkrut setalah usahanya yang terhitung tiga bulan. Ia berhenti, mengaku kalah dan parahnya memutuskan untuk meninggalkan rumah. Ternyata ia memutuskan untuk menjadi ‘benalu’ di rumah tangga orang lain. Usaha dagangnya yang tiga bulan itu memang tak menghasilkan banyak keuntungan, tapi ia menemukan harapan dari sosok laki-laki yang telah memiliki istri dan beranak empat yang bekerja sebagai mandor. Aku tak habis pikir dimana ia meletakkan otaknya, meninggalkan laki-laki miskin demi laki-laki miskin lainnya dan rela menggadaikan harga dirinya, mengemban status sebagai perusak rumah tangga. Keherananku masih belum terjawab sampai saat ini, bahkan sampai tikus-tikus di rumah ini beranak pinak.

Begitulah, besok aku harus meninggalkan rumah ini. Tak kutahu aku harus tinggal dimana kedepannya. Rumah yang ringkih ini menyimpan surga untuk diriku. Aku tak tahu diluar sana aku akan mendapatkan surga yang sama atau lebih bagus lagi bentuknya.

Bandung, 11 September 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s