Sebuah Pembuka

Sumber: http://pangeranputerilh.tunashijau.org/

Ketika aku makan, pikiranku terbagi mengenai masa depan menulisku. Semakin banyak aku membaca tulisan orang lain. Semakin minder aku memutuskan diri untuk menjadi penulis. Aku merasa pengetahuanku tak ada apa-apanya. Mereka yang kubaca tulisannya seperti telah melahap banyak buku. Bukan buku berbahasa indonesia saja melainkan buku berteks inggris atau bahasa asli sang penulis.

Ternyata selama ini aku salah. Aku melulu melihat cover orang lain, sehingga lupa akan kemapuan yang kumiliki saat ini. Aku terlampau kagum dengan tulisan orang lain mengenai politik, sastra, kebudayaan, hubungan internasional bahkan ideologi, sampai lupa mungkin saja mereka telah bertahun-tahun belajar mengenai hal itu. Tugas kuliah yang membuatnya begadang mengenai itu, skripsi yang ia kerjakan dan cari referensinya mengenai hal itu, obrolan di kantin kampus mengenai hal itu. Jadi wajar saja bagiku ia seperti memahami luar dalam, samping belakang mengenai hal itu.

Sedangkan aku melupakan aku pun mungkin saja memiliki kemampuan yang sama jika menulis tentang keilmuan yang sedang aku geluti. Ahh, aku terlampau naif untuk menjadi penulis serba bisa, menulis cerpen, novel bahkan esay di media massa. Tulisanku di media massa pun berlaga-laga seperti pakar politik dan pemerintahan. Padahal isi-isi yang kutuliskan hasil comot dari langit-langit dunia maya.

Aku melupakan diriku yang kutempa selama bertahun-tahun di kampus perjuangan. Mengerjakan tugas sampai pagi, menulis laporan, masuk kuliah walaupun jarang mandi, asistensi dengan dosen dengan wajah manis memelas, padahal sejam sebelumnya telah mengumpatnya habis-habisan. Mengikuti seminar mengenai keilmuan ini yang sungguh sangat membosankan. Mengerjakan tugas akhir yang banyak sekali kekurangannya, bahkan—bodohnya lagi—melanjutkannya sampai jenjang S2.

Aku lupa, di alam bawah sadarku aku memiliki sedikit pengetahuan mengenai lingkungan beserta tetek bengeknya. Keilmuan yang bertahun-tahun aku geluti. Walaupun aku menyadari, setelah beberapa tahun kuliah, aku merasa salah dalam menentukan jurusan. Bahkan aku tak tanggung-tanggung dalam menceburkan diri dalam jurusan ini, aku melanjutkannya lagi kuliah di kampus terbaik untuk jurusanku, ITB.

Ahh, rupanya ini alasan mengapa aku tak suka menulis perihal lingkungan, padahal banyak tema yang bisa aku angkat. Aku merasa hanya segelintir blogger yang menulis mengenai hal ini, kebanyakan mereka bersenang-senang mengangkat tema mengenai politik praktis, pergerakan ekonomi, penegakan hukum, isu tentang traveler yang mencintai alam bahkan mengenai psikologis jomblo dalam menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN.

Ini mungkin langkah yang tepat untuk memulai untuk menulis hal yang selama ini begitu dekat dengan kehidupanku. Pantas saja, bertahun-tahun aku kuliah, ilmu yang kudapatkan seperti menghilang begitu saja, mungkin dikarenakan aku tak menuliskannya, aku tak mengikatnya dengan membagikan kepada orang lain. Kali ini aku merasa bersemagat kembali, setidaknya hal ini bisa membangkitkanku untuk bersemangat membaca buku-buku, slide, jurnal kuliah, yang selama ini aku baca—karena terpaksa—jika besok ada ujian atau beberapa jam lagi tugas akan dikumpulkan.

 Aku berupaya—bukan berjanji—untuk menulis yang berhubungan tentang lingungan beserta masalah-masalah yang terjadi di lapangan, dengan bahasa yang seringan mungkin, karena aku sekarang tidak mengerjakan makalah atau esay untuk dinilai dosen. Aku pun tak menampik, pengetahuanku masih sangat terbatas mengenai keilmuan ini. maka dari itu, proses menulis ini bukan berarti aku telah mengetahui banyak, tapi hanya sebagi pembelajaran agar aku mengkaji lebih lagi, mengajarkan lagi apa yang telah aku ketahui agar hal tersebut dapat melekat dipikiranku.

Sepertinya aku terlalu bertele-tele mengenai hal ini. Inginku sederhana, memberikan kebaikan sedikit apapun itu untuk orang banyak. Mungkin lewat blog ini, di luar sana orang dapat mengakses apa yang aku tulis. Ini adalah paragraf pembuka memasuki gerbang tentang lingkungan. Welcome to my life.

Sumber Gambar: Klik

Iklan

11 thoughts on “Sebuah Pembuka

  1. Jangan jadi penulis, jadilah manusia pembaca yes. Satu kesalahan saya selama ini, menganggap membaca sebagai perpanjangan dari menulis, padahal sebaliknya.
    Yg penting tetap ngeblog. “Blogging is good for your career. A well-executed blog sets you apart as an expert in your field,” kata Penelope Trunk mah. Dan sekarang saya juga mau mulai fokus di tulisan pemikiran soal Psikologi dan Filsafat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s