[Cerpen] Kisah Seorang yang Mencintai Sisir

Sisir putih bermata tiga puluh tiga itu tergelatak di jalanan kering dengan debu berterbangan, terlihat jelas oleh mata dan dirasa kering oleh kulit lengan. Garteng memungut sisir itu, lalu menghirup lekat-lekat wanginya. Wangi kulit kepala yang tertinggal di sela-sela sisir. Ia mengenadah ke langit, lalu kembali menghirup wangi dari sisir putih bermata tiga puluh tiga. Siapa gerangan yang memiliki sisir yang terjatuh ini? Garteng bergumam dalam hati. Dibawanya sisir itu pulang, ditutupnya pintu kamar lalu ia kembali menghirup lekat-lekat wangi sisir itu kembali, sampai tertidur.

Di dalam tidurnya Garteng terbangun. Seorang wanita sedang menyisir rambut di sebuah kursi yang tak terdapat cermin di hadapannya. Hanya berhadapan dengan dinding kamar yang penuh dengan coretan-coretan tak jelas yang berasal dari lipstik. Garteng tak dapat melihat bentuk rupa wanita itu, yang terlihat hanya sebuah rambut panjang tergerai yang kini dimakan oleh sisir itu lalu menjadi rapi. Terhirup pula aroma wangi kulit kepala yang sebelumnya ia rasakan dibalik sisir putih yang ia dapat.

“Hai siapa gerangan kamu sebenarnya?”

Garteng bertanya dengan penuh harap sang wanita berbalik memandang wajahnya. Namun berbeda, sang wanita bergegas memasang sebuah penutup kepala. Sebait berikutnya wanita itu berlari meninggalkan Garteng. Tak ada yang sempat dilihat Garteng, selain bola mata hitam dan bulu mata yang lebat. Wanita itu berlari pada sebuah pintu yang langsung menghadap pada sebuah padang rumput yang kering, tak indah sama sekali, semak belukar yang berduri dan berwarna cokelat. Terhirup aroma amis yang terbawa oleh angin.

Wanita itu terus berlari, Garteng hanya bisa meringis ketika wanita itu berlari. Semak setinggi kepala dilewati dengan tergasa, duri yang ada, cabang semak yang meruncing tentu saja akan menggores tubuh wanita itu walaupun ia mengenakan baju panjangmaya.

“Awas, kenapa kamu berlari,” teriak Garteng, ia heran betapa mengerikannyakah suaranya hingga seorang wanita berlari lintah pukang, padahal dia belum melihat wajahku.

Garteng terbangun dari tidur dengan keringat bercucuran, padahal dalam mimpinya ia tidak berlari, tidak melihat suatu yang menakutkan. Tetapi keringat itu terus keluar, bercucuran di sela-sela rambut dan pelipisnya. Dilihatnya kembali sisir yang tadinya tergelatak di sisi ketika tidur. Mata sisir itu patah tiga. Menyisakan tiga puluh mata yang masih tegak.

***

Esoknya Garteng kembali bekerja, di pasar, menjaga parkiran motor—hanya sampingan—dihabiskan harinya dengan duduk di jok motor. Tak lama tercium kembali wangi kulit kepala yang tercium olehnya pada sisir putih dan mimpi yang misterius itu. Tergelak hati, dengan semangat melihat segala penjuru. Dimana orang yang memiliki wangi yang tak dimiliki shampo-sampo terkenal itu?

“Mat, kamu nyium bau wangi-wangi kaga?” Garteng bertanya, berteriak.

Somat berdiri kaku kebingungan, “Bau apa bos? Bau amis iya. Tuh dekat sama loakan pasar ikan.”

“Kampret lu, kalau bau amis mah sudah kebal.”

Garteng kembali melupakan wangi kepala itu. Hingga ia tak bisa lagi mengindahkan semua hal ini. Sudah tiga hari berturut-turtu ia bermimpi tentang wanita itu, tentang rambutnya yang lurus dan selalu disisir dengan sisir putih. Tapi kali ini sisir itu tanggal tiga, sama dengan kenyataannya yang ada. Heran mengapa Garteng bisa mengingat dengan jelas jumlah mata sisir yang patah di bandingkan lekuk tubuh sang wanita yang menggiurkan. Hingga ia memutuskan untuk mencari. Sebuah langah untuk mengobati segala rasa penasarannya.

“Mat, kita hari ini keliling pasar.”

“Buat apa, bos? Bukannya minggu lalu kita sudah mengambil jatah keamanan?”

“Bego, aku hanya ingin cuci mata saja.”

“Ahh, booss sekarang bloon, mana ada mah sekarang cewek cantik mau pergi ke pasar yang kotor ini. semua cewek cantik pergi ke supermarket, bos. Tak ada mau desak-desakan di tempat yang bau.”

Tak dihiraukannya perkataan Somat, Garteng memasuki pasar dengan sorot mata tajam mencari. Tak juga ditemukannya. Hanya hirup pikuk pasar dan bau amis ikan. Betapa besar rasa penasarannya. Mencari sesuatu yang selalu menghantui. Tak ditemukannya jua, apa yang ia cari.

***

Malam hari adalah waktu Garteng bekerja, pekerjaan utamanya. Bersama Somat ia berkeliling menyusuri jalanan sepi mencari manusia yang sedang lengah. Menjambret barang-barang yang dibawa. Pukul satu malam, jalanan kota makin sepi saja. Garteng dan Somat telah lelah mencari korbannya. Ketika mereka berhenti di sekitar taman kota, mereka melihat seorang wanita yang sedang duduk.

Somat tersenyum, Garteng semangat mendekati wanita itu. Semakin mendekat, semakin jelas ia mendengar suara tangisan. Ia mengendap berusaha tak terdengar kehadirannya. Dada Garteng bergemuruh ketika ia melihat tas merah yang tergelatak di samping tubuh wanita itu. Secepat kilat ia mengambil tas itu, sayangnya, wanita itu secara bersamaan ingin mengambil sesuatu dalam tasnya. Terkejut wanita itu ketika tasnya ditarik oleh Garteng, ia berteriak sambil terus menarik dengan sekuat tenaga.

Garteng tak mau kalah, tenaganya jauh lebih kuat, tapi teriakan itu sungguh mengganggunya. Ia mengeluarkan pisau dipinggangnya, lalu menyayat tangan kanan wanita itu. Wanita itu masih saja berteriak dan tangan kirinya masih saja menarik tas, matanya yang sembab semakin deras mengeluarkan air mata. Betapa paniknya Garteng, ia lalu menancapkan pisau itu tepat di dada kanan wanita itu. Tak mampu lagi wanita itu bersuara, tangannya pun tak memiliki tenaga untuk mempertahankann tasnya.

Garteng mendapatkan apa yang ia inginkan. Keesokan harinya kota ini gempar atas kematian serorang wanita. Polisi seolah-olah bekerja dengan menyisir lokasi TKP mencari barang bukti. Tak ditemukan identitas dari wanita itu, warga kota yang memadati lokasi TKP juga tak seorang pun mengenali wanita itu.

Di tempat yang terpisah mata Garteng lelah tak bisa tidur. Semalaman ia hanya menangis menyesali apa yang ia lakukan malam tadi. Telah membunuh untuk pertama kalinya, kepada wanita yang tak berdaya. Di dalam tas wanita itu tak berisi apa-apa, hanya beberapa helai pakaian dan sebuah jilbab bekas terpakai, wewangaian yang menempel sama seperti wangi sisir yang ia temukan tempo hari. Ia temukan pula sebuah surat penggilan dari pengadilan agama perihal perceraian yang digugat oleh seorang pria.

Iklan

One thought on “[Cerpen] Kisah Seorang yang Mencintai Sisir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s