Bukit Matang Kaladan, Indahnya Riam Kanan dari Sudut Berbeda

Satu lagi kawasan bukit yang lagi booming di Instagram. Bukit Matang Kaladan namanya, terkenal pula dengan nama Bukit Tiwingan. Bukit ini berada di Riam Kanan, cukup dekat dari Kota Banjarbaru. Tepatnya berada di samping Pelabuhan Tiwingan.

Pada hari selasa (21/7) minggu lalu aku mengunjungi bukit tersebut. Hanya bermodal informasi bukit itu terletak dekat dengan Pelabuhan Tiwingan, aku nekat saja kesana. Tanpa mengetahui lebih lanjut, bagaiman trek mendaki bukit tersebut, berapa jarak tempuhnya, bahkan tak terlalu mengetahui view apa yang tersaji di bukit tersebut.

Matang kaladanBermodal bertanya dengan penduduk sekitar—seseorang yang menjaga retribusi di awal masuk lokasi—aku akhirnya sampai pada pos pertama—sebenarnya tidak resmi. Pada sebuah rumah penduduk, lokasi tempat memarkir kendaraan, tepat berada di samping SD Tiwingan.

Setelah ditelusuri, ternyata ada dua jalan untuk menuju lokasi ini. pertama kita dapat memarkir kendaraan langsung di Pelabuhan Tiwingan, lalu masuk sedikit ke perumahan penduduk dan melewati jembatan gantung. Tepat di ujung jembatan, itulah pos pertama. Kedua, bila menggunakan sepeda motor sebelum pertigaan menuju pelabuhan, kita bisa memilih jalan lurus—arah menuju mesjid—ikuti saja jalan tersebut, nanti akhirnya akan sampai di SD tiwingan, terus saja beberapa meter maka kita akan sampai di pos pertama.

Aku menyebutnya pos pertama, karena tempat inilah yang menjadi gerbang utama sekaligus batas akhir kita menggunakan kendaraan. Karena selepas ini perjalanan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau terbang. Di pos pertama ini, akan dikenakan pungutan tidak resmi sebesar 3000 rupiah, yang dikelola oleh kakek-kakek—mungkin tetuha kampung—yang rumahnya tepat di pos pertama ini.

Pungutan ini tergolong murah aku rasa. Walaupun ada beberapa rombongan yang mengeluh—menyambat—akan penungutan ini. Bagiku hal ini lumrah, terlebih ini adalah objek wisata yang baru, dimana fasilitas umum tentunya masih belum lengkap tersedia. Disamping itu, tentunya terjadi dampak akibat ramainya tempat ini dikunjungi, seperti jalanan yang makin berdebu, suara bising yang mengganggu, maupun timbulan sampah yang terjadi. Bentuk retribusi ini, mungkin dapat sedikit membantu masyarakat sekitar untuk membenahi kondisi kampung mereka tentunya.

IMG_7086 - Copy IMG_7091 - Copy

Kembali ke perjalanan, sesampainya di pos pertama. Trek perjalanan akan mudah dikenal. Kita hanya mengikuti jalan setapak, trek jalan memanglah menanjak—jelas kita sedang naik bukit, dan terkadang sedikit curam. Terdapat banyak papan informasi dari penunjuk arah hingga kalimat motivasi. Cuaca di musim kemarau yang panas, membuat mendaki bukit ini semakin menantang saja. Tak membawa persediaan air selama mendaki, maka kita akan mengumpat menyesali kebodohan, terlebih lagi view di atas bukit yang dilihat adalah air.

Jalan setapak ketika musim kemarau ini menjadi sangat berdebu. Langkah-langkah kecil kita akan menciptakan debu yang keren untuk tidak dinikmati, tapi tenang saja waktu tempuh untuk sampai ke puncak terbilang singkat, sekitar 30 menit jika berjalan santai, 45 menit jika bersama pasangan, dan tak akan pernah sampai-sampai jika pasangan minta gendong.

IMG_7134 - CopyLayaknya, film india, kisah akan berakhir happy ending. Akan ada tali yang siap membantu kita ketika akan sampai puncak. Sesampainya pendakian menggunakan tali, maka sampai pula lah cobaan hidup dalam mendaki. Aku akhirnya sampai puncak bukit ini. Mata ini disuguhi pemadangan yang indah. View Waduk Riam Kanan—Judul Tugas akhirku—tergambar jelas bak lukisan alam, terdapat delta-delta yang menjadi pulau kecil yang menjadikan tempat ini seperti Raja Ampat dari Kalimantan. Tak perlu membayar mahal, tak sampai lima ribu, lebih lima ribu jika membeli air mineral di bawah, lebih sepuluh ribu jika membeli makan juga.

Di atas bukit, angin berhembus deras sekali. Terdapat pepohonan yang menjadi penolong untuk bernaung dari teriknya matahari. Jika sudah mengoleskan tabir surya, saatnya melakukan selfie. Tak membawa tongsis juga tak apa, banyak pengunjung yang dapat dimintai tolong untuk mengambil foto. Tentunya, mungkin saja ada pengunjung yang berstatus jomblo, yang bisa dibawa turun, lalu diperkenalkan kepada orang tua.

Narsis itu terkadang perlu
Narsis itu terkadang perlu

Ramainya pengunjung, di atas bukit membuat kita tak akan merasa sendiri. Terdapat banyak bekas api unggun, itu berarti tempat ini juga dijadikan tempat berkemah—tak ada orang waras yang menyalakan api unggun siang-siang. Memandang langit malam ditemani bintang mungkin menjadi keindahan tambahan ketika malam hari di tempat ini.

Selalu ada rasa bosan befoto sana sini. Apalagi mendapati kenyataann wajah ini terlalu kontras jika disandingkan dengan keindahan alam yang menjadi backgroundnya. Aku memutuskan untuk pulang. Sempat terpikir, bahwa tempat ini bagus jika dijadikan tempat paralayang. Hanya saja pikiran ini langsung dibantah oleh pikiranku selanjutnya, banyak orang yang takut ketinggian dan hampir semua orang takut tenggelam. Membuat lokasi paralayang di tempat ini butuh perencanaan yang maksimal, karena di bawah sebagian besar adalah waduk dan sisanya hutan-hutan.

Perkiraanku waktu yang ditempuh untuk turun akan lebih cepat, mungkin hanya butuh 15 menit, atau lebih cepat lagi jika aku menggelending. Ternyata perkiraanku selalu salah, jalan turun lebih berat lagi, jalan setapak yang berdebu ternyata jika dituruni menjadi licin. Hati-hati—terutama untuk perempuan—terpeleset, jatuhnya mungkin tak sakit, tapi pakaian pasti akan jadi kotor. Berani kotor itu baik, tapi masih berlakukah pada kita yang sudah tua, kumisan dan banyak bulu ini?

  Intinya pada saat turun dibutuhkan kewaspadaan yang ekstra. Fokus pada jalan, jangan teralihkan pada rombongan naik yang terselip cewek cantik diantaranya. dan tentunya yang utama adalah berdoa semoga diselamatkan sampai bawah. Mungkin itu saja sedikit review mengenai perjalananku ke Bukit Matang Kaladan di Desa Tiwingan ini.

Aku sedikit sekali memoto landscape di tempat ini, karena hanya membawa lensa fix yang cenderung sempit. Tapi semoga tercerahkan dan tergugah saja bagi kalian yang membaca tulisan ini. Mohon maaf jika ada salah kata, semoga tak garing membaca tulisan ini. semoga bertemu di dunia nyata.

Terakhir, Lompat dulu ah
Terakhir, Lompat dulu ah

Pelaihari, 28 April 2015

Iklan

18 thoughts on “Bukit Matang Kaladan, Indahnya Riam Kanan dari Sudut Berbeda

  1. Pake lensa fix juga?
    Fotonya pake pose membelakangi dong biar ga kontras sama latar mah, terus gayanya ala-ala #livefolk gituh. 😎

  2. Wah bagus ya serasa ingin lagi kesana.dlu aku pernah kesana hanya sekali pas naik kapal bersama rombongan.Air nya bergelombang gelombang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s