Booming Mengeksplore Banua

Saat berada di Bukit Lintang, Pelaihari
Saat berada di Bukit Lintang, Pelaihari

Anak muda Banjar kini menggandrungi jalan-jalan menjelajahi alam. Meng-eksplore keindahan alam, bahasa trendnya. Berkat pengaruh jejaring sosial Instagram, membuat anak muda disini keranjingan keluar dari rumah, membawa ransel, dan berbagai aksesoris outdoor lainnya.

Bukit-bukit yang sebelumnya tak dikenal kini telah didaki, pantai yang sebelumnya sepi kini marak didatangi, dan danau yang sebelumnya angker kini ramai di setiap hari. kekuatan sosial media memang besar pengaruhnya bagi anak muda daerah ini. influencenya sanggup menggerakan laki-laki maupun perempuan untuk berkemah, mandi, dan berjalan diberbagai tempat indah yang sebelumnya sepi.

Aku sebagai anak yang masih muda tentunya tak ingin tinggal diam. Ingin ikut pula menjadi bagian dari mereka. Karena tanpa dipungkiri, booming ini juga mengangkat denyut pariwisata di Kalimantan Selatan, yang jauh sebelum hal ini, masyarakat lebih senang menghabiskan waktu liburannya di Pulau Jawa dan Bali, pada kota-kota wisata yang sudah tersohor sejak lama. Sebelum hits tentang eksplore – mengeksplore ini memang hanya berbagai objek wisata saja yang sering dikunjungi di Kalimantqan Selatan, seperti; Pasar terapung, pantai di wilayah Pelaihari atau kawasan Loksado.

Tetapi kini, banyak varian jenis wisata yang dapat dinikmati. Wisata perbukitan di Pelaihari, Riam Kanan, Mandiangin, dan Loksado. Wisata danau di Gambut, Banjarbaru, dan Pengaron. Serta kawasan pantai di Tanah Bumbu dan Kotabaru. Banyak sekali objek wisata yang ditemukan hampir di setiap kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan. Masyarakat di Kalsel pun kini merasa bangga akan keidahan alam di daerahnya sendiri. Jujur, aku merasa senang ketika wisata di daerah ini mengalami peningkatan yang sangat pesat.

Paling tidak dengan masyarakat sering rekreasi, akan meningkatkan angka kebahagian hidup mereka serta meredam segala emosi yang meletup atas berbagai tekanan yang diterima. Senang rasanya, ketika tak hanya mall saja yang dipenuhi manusia, berbagai objek wisata—kebanyakan berada di daerah yang ‘sepi’—akhirnya ramai oleh hiruk pikuk mereka berselfie.

Disamping itu maraknya objek wisata baru ini juga menumbuhkan denyut perekonomian warga sekitar. Tak dipungkiri, warung-warung bermunculan guna memberikan kemudahan pengunjung untuk makan dan minum, berbagai retribusi yang terkadang belum resmi atas nama desa, juga sedikit banyak membantu peningkatan fasilitas umum di daerah tersebut. Bahkan munculnya objek wisata baru ini juga dapat menyerap tenaga kerja dadakan, seperti penjaga parkir dan keamanan.

Banyak sekali manfaat yang dapat dirasakan, yang dalam kesempatan ini tidak dapat disebutkan satu persatu. Akan tetapi setiap perubahan yang terjadi selalu memberikan dampak, mungkin saja postitif, atau negatif, atau pula keduanya. Seperti kenyataan yang terjadi, dimana beberapa pengunjung ada yang tak perduli akan kebersihan lingkungan. Mereka meninggalkan sampah begitu saja ketika pulang, dengan bangga menuliskan sesuatu seperti “Masih di rumah saja? Indonesia itu indah” atau “Lain waktu ayo kita jalan-jalan” atau pula ungkapan cinta untuk kekasihnya yang tak ikut karena mungkin tak diijinkan orang tuanya. Tulisan itu tertulis pada sepucuk kertas yang lalu diabaikannya ketika puas berselfie dengan kamera dan tongsis.

Kebiasaan-kebiasaan buruk yang dilakukan oleh pengunjung ini yang sebenarnya mengurangi keindahan alam itu sendiri. Belum lagi aksi-aksi vandalisme, menuliskan nama dirinya, pasangannya, gengnya di berbagai tempat yang memungkinkan. Agar terkenal, agar diketahui oleh pengunjung lainnya, bahwa mereka telah lebih dulu mengunjungi tempat ini.

Hal-hal seperti ini yang membuat mereka—yang katanya pencinta alam—malah berubah menjadi sang perusak alam. Tak ingin tentunya meningkatnya denyut pariwisata di daerah ini kedepannya kembali mati ketika tempat-tempat tersebut menjadi kotor, rusak dan tak indah lagi.

Aku merasa terharu ketika para anak muda keluar rumahnya, tak menghiraukan semaraknya mall dan pusat perbelanjaan. Mau berletih-letih menjelajahi tempat yang belum mereka datangi. Bergerak sambil berolahraga, mengenal tingkat emosi teman sejawat, dan lebih mengenal sahabat mereka lebih baik lagi bersama alam.

Aku menyukai perubahan ini, walaupun selalu ada dampak negatif yang akan mengiringi perubahan ini. Akan selalu ada sampah-sampah sisa perjalanan yang ditinggalkan. Mungkin pula ada aksi-aksi vandalisme yang dilakukan anak muda yang masih belum mengerti.

Ya, mungkin ini tugas bersama untuk saling mengingatkan. Tentunya hal ini menjadi sebuah pembelajaran bersama bahwa kebanggaan kita terhadap wisata di daerah ini tidak hanya menemukan tempat yang baru, namun juga menjaga tempat yang lama agar tetap menjadi ‘baru’ sama pada saat sebelum heboh dikunjungi.

Teruskan mengeksplore banua ini, kawan. Ada banyak keindahan yang masih terpendam. Ada banyak pengalaman yang mungkin akan kita dapatkan dan tentunya tak akan terlupakan.

Pelaihari, 28 Juli 2015

Iklan

4 thoughts on “Booming Mengeksplore Banua

  1. Bener banget tuh gan..
    sering2 lah berekreasi agar badan selalu segar.. pikiran selalu sehat..
    kebalik gak sih?
    🙂

    sepertinya TIDAK..
    hehehe….

    BTW, potonya keren gan 🙂

  2. Dilema obyek pariwisata Indonesia, semakin banyak pengunjung, malah jadinya makin kumuh. Miris.
    Yang pasti Instagram kayaknya bikin suatu tempat bisa jadi ngehits. #explorebanua yes!

    1. Yg nama perubahan pasti ada sisi positif n negatifnya. Kaya sisi koin lah klo di ibaratkan.

      Instagram influenceny besar bgt buat anak ‘gaol’ di banjarmasin. Kayany di daerah lain juga gitu. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s