[Cerpen] Nasihat kepada Penulis Muda

Bait demi bait kalimat yang tercipta pada akhirnya dihapus kembali oleh Reja, merasa tak baik dan kurang harmonis strukturnya. Seperti tak ada soul-nya ia merasa. Sudah hampir tiga jam ia berada di depan laptopnya ini, kopi yang berada di sisi lengan telah lama dingin, seperti seorang kekasih yang letih menunggu lalu tertidur.

Malam makin larut, tak ada lagi kebisingan selain sentuhan tuts keyboard yang semakin lama semakin nyaring, kesal juga sepertinya jari yang tak diijinkannya untuk berhenti, selain untuk menggaruk bagian tubuh yang digigit nyamuk.

“Ahh, pikiranku kenapa menjadi buntu seperti ini. Sore tadi aku sudah merancang kisah ini, lengkap beserta konflik dan akhir yang mencengangkan,” umpat Reja menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi.

“Jangan dipaksakan, mungkin otakmu itu perlu untuk istirahat.”

Reja terkejut dan menoleh pada sumber suara. Ternyata yang berbicara itu adalah pamannya yang siang hari tadi tiba mengunjungi. Ia berjalan mendekat seraya mengaduk cangkir berisi kopi.

Ia kembali menambahkan, “benar adanya, segala sesuatu perlu perencanaan. Tak bedanya dengan sebuah tulisan. Harus tahu kapan dimulai dan kapan akan di akhiri.”

“Tapi aku merasa tulisanku ini masih belum bagus, Man,”

“Tulis sajalah sesuai dengan keinginanmu itu. Jangan perdulikan jelek atau bagusnya tulisan. Kamu tidak akan bisa menulis dan memperindah tulisan dalam satu waktu. Tak ada yang mampu menembak dua kelinci dengan satu peluru.”

“Tapi aku merasa belum puas melanjutkan menulis, jika tulisan sebelumnya aku anggap belum bagus. Tulisankan seperti anggota tubuh yang harus kita buat sesempurna mungkin sejak awal.”

 “Sejak kapan kamu membuat analogi itu, Ja. Hebat benar rupanya kamu dalam mengarang. Kamu tahu Hugh Howey, seorang penulis dunia. Dia menganggap bahwa menulis dibagi menjadi dua kerja, pertama menulis dan kedua mengedit tulisan sebelumnya. Dan tahukan kamu bagian mana yang paling sulit? Di bagian merevisinya, Ja.”

Reja menatap langit-langit rumahnya seolah telah memahami segala nasihat dari pamannya itu.

“Janganlah kamu memikirkan kesempurnaan dalam tulisanmu itu, tugasmu hanyalah menulis dengan baik. Seiring waktu, tulisanmu akan menjadi lebih baik, keahlianmu akan meningkat. Setidaknya itu membutuhkan waktu yang lama kedepannya, kamu akan menjadi penulis yang menghasilkan tulisan yang baik, kesempurnaan tak akan mampu kita raih, Ja. Tapi kualitas kita akan meningkat menurut waktu.”

“Lalu bagaimana caranya agar tulisanku bisa tembus di media masa, Man?”

“Ya, kirimkan sajalah, mudahkan? Bisa lewat email, bisa pula kamu kirim langsung ke redakturnya. Zaman sudah semakin maju, kamu pasti lebih suka cara yang instan, bukan?”

***

            Fadly kembali mengingat-ingat kembali nostalgianya ketika aktif menulis di koran. Masa saat dimana di setiap hari minggu, ia akan harap-harap cemas menanti kepastian tulisannya yang dimuat di koran atau tidak. Saat dimana, pada pagi-pagi sekali ia bangun, padahal malam harinya begadang larut malam, hanya untuk melipir ke loper koran. Mencek satu demi satu koran nasional yang terbit di negeri ini.

Terkadang ia tersenyum ketika tulisannya diterbitkan. Tapi sering kali ia merasa patah hati ketika tak satu pun koran yang menerbitkan tulisannya. Pada awalnya rasa sakit itu melebihi sakitnya ditolak kekasih pujaan hati. Tapi lambat laun, karena seringnya ia mengalami rasa sakit itu, ia akhirnya kebal, mentalnya terbentuk seperti otot yang terbentuk akibat beban berat yang sering dipikulnya.

Ia berfikir positif dan terus belajar dari kesalahan dan kekurangan tulisannya yang gagal dimuat. Dan terus belajar dari tulisan-tulisan yang lebih beruntung darinya. Sampai ia merasa telah memiliki resep jitu untuk menulis di media massa.

Berjayanya tulisan Fadly pada masa itu, membuat ia kalap, hampir tiap minggu tulisannya terpampang di koran yang berbeda. Walaupun terkadang sempat beberapa minggu namanya tak terlihat di koran manapun. Itulah yang menyebabkan ia kembali sakit.

Maka ia memiliki strategi dengan mengirimkan tulisannya kepada berbagai koran. Agar ketika koran satu menolak tulisannya, ia masih memiliki kesempatan di koran yang lain. Tapi kerakusan itu akhirnya membawa petaka, itu bermula pada suatu minggu, ia menuliskan tulisan yang tepat menyinggung kebijakan pemerintah saat itu. Betapa senangnya Fadly saat itu, rekor menulisnya yang terbaik dan akhirnya tulisan itu dimuat, di tiga koran yang berbeda di waktu yang sama. Dan selepas itulah karir Fadly sebagai penulis di koran berakhir.

***

“Kalau tulisanmu sudah selesai kirimkan hanya pada satu koran saja. Jangan menjadi kemaruk. Menjadi penulis itu belajar melatih kesabaran.”

Reja hanya mengangguk. Entah mengerti atau tidak.

“Dan ingat, menulis bukanlah profesi yang menguntungkan, walaupun masih dipertanyakan pula menulis itu apakah bisa dianggap sebagai profesi.”

“Aku hanya menjalankan hobi. Kabarnya paman dulu aktif menulis, mengapa sekarang tidak lagi?”

Fadly tak menjawab pertanyaan keponakannya, ia berbicara tentang hal lain.

“Tahukah kamu ciri tulisan yang baik? Tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai dan ketika pembaca tak sadar akan waktu ketika ia menyelesaikan membaca kisahmu itu.“

Sumber gambar: Klik

Iklan

One thought on “[Cerpen] Nasihat kepada Penulis Muda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s