Pelajaran dari Kematian Angeline

Tulisan ini telah dimuat di harian Banjarmasin Post edisi Sabtu, 13 Juni 2015. Sebuah bentuk simpati atas meninggalnya Angeline.

***

rip-angelineAngeline gadis manis asal Sanur, Bali kini menjadi pembicaraan hangat di media-media Indonesia. Bagaimana tidak, ketika sang ibu angkat bersandiwara mencari sang anak di media sosial dengan alasan hilang saat bermain di depan rumah, bahkan pihak keluarga berjanji untuk memberikan hadiah 40 juta bagi siapa saja yang berhasil menemukan Angeline. Tetapi kenyataan yang ada tubuh Angeline telah membengkak dan membusuk karena telah meninggal selama tiga minggu di dekat kandang ayam halaman rumahnya sendiri.

Dunia internasional pun ikut memberikan reaksi. Lembaga penyelamatan anak hilang, Safe Childhood Foundation menuntut agar pembunuh dihukum dengan seberat-beratnya. Masyarakat luas yang turut mengikuti jalannya kasus ini melalui pantauan berita online geram dan marah dibuatnya mendapati kenyataan bahwa Angeline telah meninggal, dibunuh dengan cara yang sadis.   

Kejanggalan dari kasus ini sebenarnya telah terlihat ketika dua menteri yang bersimpati dan bermaksud untuk membantu proses pencarian Angeline malah tidak diterima secara baik oleh penghuni rumah. Pertama di sela lawatannya di Bali, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Yuddy Chrisnadi tidak diijinkan masuk oleh satpam rumah tersebut dengan alasan akan mengganggu psikologis sang ibu yang stres dan terus menangis. Sang menteri pun hanya bisa melihat kondisi rumah dari balik pagar dan berusaha memaklumi sikap keluarga Angeline yang menolak bertemu dengan dirinya.

Kedua, giliran  Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise yang gagal menemui ibu angkat Angeline, karena alasan sedang berpergian. Padahal rombongan menteri tersebut telah mengkonfirmasi kedatangan sebelumnya kepada pihak keluarga.

 Menteri Yohana tak habis pikir dengan sikap ibu angkat Angeline yang tidak kooperatif. Beruntung Menteri Yohana sempat masuk ke dalam rumah dan mendapatkan temuan bahwa kondisi rumah tersebut tidak kondusif  karena berdekatan dengan kandang ayam. Pihak kepolisian pun sempat mengalami penolakan dari pihak keluarga ketika mencoba menyisir dalam usaha pencarian Angeline yang diduga hilang sejak Sabtu, (16/5/2015) di depan rumahnya Jalan Sedap Malam No. 26, Sanur, Denpasar.

Sikap tidak kooperatif keluarga dalam usaha pancarian Angeline akhirnya menimbulkan kecurigaan dari masyarakat luas dan pada akhirnya kebenaraan tersebut terkuak. Angeline ditemukan terkubur bersama boneka kesayangannya selama tiga minggu di halaman rumahnya sendiri. Di bawah gundukan sampah dekat dengan kandang ayam.

Hasil otopsi dari Tim forensik dari tubuh jenazah ditemukan luka-luka kekerasan berupa memar pada wajah, leher dan anggota gerak atas dan bawah. Di punggung kanan jenazah ditemukan pula luka sundutan rokok. Selain itu, ditemukan juga luka lilitan di bagian leher.

Sebelum mendapati ajalnya Angeline diduga mengalami berbagai kekerasan yang dilakukan oleh keluarga maupun orang terdekatnya. Diantaranya, Penelantaran, dalam hal ini orang yang bertanggung jawab terhadap anak telah gagal dalam menyediakan berbagai kebutuhan, baik bersifat fisik (menyediakan makanan yang cukup, pakaian, kebersihan dan fasilitas penunjang) dan emosional (perhatian dan kasih sayang)

Menurut penuturan kepala sekolah dan guru wali kelas, bahwa Angeline mendapatkan perlakuan yang buruk dari keluarga. Anak tersebut menjadi lebih suka menutup diri, tidak mau bergaul dan kurang dalam kemajuan akademis di sekolah. Bahkan Angeline kerap datang terlambat ke sekolah dengan kondisi rambut yang acak-acakan dan badannya bau kotoran ayam, disamping itu angeline kerap mengeluh pusing di kepalanya karena belum makan.

Mendapati hal ini pihak sekolah sering kali memandikan Angeline dan memberikan makan selepasnya. Pihak sekolah pernah melaporkan hal ini kepada orang tua Angeline, tetapi ibu angkatnya beralasan bahwa Angeline susah untuk makan dan maunya minum susu saja.  Padahal ketika diberi makan oleh ibu gurunya, Angeline makan dengan lahap sekali.

Kekerasan lainnya yang dialami oleh Angeline berupa kekerasan fisik dan emosional. Karena menurut orang terdekatnya, ibu angkat Angeline sering kali memarahi Angeline jika ia lupa untuk memberi makan ayam peliharaannya yang berjumlah sekitar 50 ekor. Bentakan pada Angeline bahkan berujung pada kekerasan fisik yang menyebabkan ia sering mengalami luka lebam di sekujur tubuhnya.

Dan beberapa minggu sebelum kematiannya, Angeline diduga mengalami kekerasan seksual untuk pertama kalinya yang dilakukan oleh pembantu di rumahnya sendiri. Masyarakat yang mengikuti kasus ini dibuat geram ketika anak yang berusia delapan tahun mengalami pelecehan yang sungguh berat untuk anak seusianya.

Penulis merasa sedih, betapa beratnya beban yang harus diderita oleh anak yang seharusnya sedang mendapatkan limpahan kasih sayang dari orang tuanya. Apa yang dialami oleh Angeline seharusnya menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa kesadaran akan hak asasi manusia masih dirasa sangat kurang, terlebih untuk usia anak-anak yang masih belum bisa menuntut hak tersebut kepada orang dewasa.

Menurut Kak Seto, orang tua di Indonesia acap kali memiliki paradigma bahwa anak sebagai komunitas kelas bawah, dimana orang tua menganggap bahwa hak asasi hanya dimiliki oleh orang dewasa. Dengan pardigma ini orang tua merasa memiliki hak untuk memperlakukan anak dengan sewenang-wenang, sehingga memicu segala bentuk kekerasan terhadap anak. Atas dalih pendidikan orang tua merasa memiliki wewenang mendidik anaknya dengan caranya sendiri.

Disamping itu, pelajaran berharga dapat kita petik bersama, bahwa potensi kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak usia dini kerap kali berasal dari orang terdekat. Sehingga orang tua patut waspada, tidak hanya kepada orang asing, tetapi juga terhadap orang terdekat yang kerap berinteraksi dengan anak-anak. Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari kasus kematiann Angeline ini

Seorang nitizen berkomentar di dunia maya, “Surga adalah tempatmu bermain nak karena dunia sepertinya tak layak untuk malaikat kecil sepertimu.” Ya, mungkin tempat terbaikmu ada di surga, Angeline.

Bandung, 11 Juni 2015

Sumber Gambar: Klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s